Penataan kawasan heritage Kota Denpasar dijadwalkan mulai 22 Juli 2026. DPRD Kota Denpasar meminta proyek tersebut mengacu pada keberhasilan penataan kawasan heritage Singaraja di Buleleng, dan Malioboro di Yogyakarta, tetapi tetap menghadirkan identitas khas Denpasar.
"Kita bisa berkaca apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng. Penataan kawasan titik nolnya itu luar biasa, berhasil sekali. Kita harapkan bisa menular di Denpasar nanti, supaya berhasil juga," ujar Ketua Komisi III DPRD Kota Denpasar, I Wayan Suadi Putra, Kamis (16/7/2026).
Dalam rapat gabungan Komisi I, III, dan IV DPRD Kota Denpasar bersama Dinas PUPR, pembahasan difokuskan pada penataan kawasan Jalan Gajah Mada, Jalan Hasanuddin, dan sejumlah titik di pusat Kota Denpasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama, fokus kita mengenai penataan Gajah Mada dan sekitarnya karena kita sempat rapat terkait desainnya. Kedua mengenai program-program infrastruktur yang dikerjakan PU di anggaran 2026," ujar Suadi.
Menurutnya, DPRD menekankan kualitas penataan tanpa menghilangkan nilai sejarah kawasan.
"Penekanannya, secara kualitas itu yang kita harapkan. Baik kualitas pekerjaan, kualitas penataan ini juga bagus," imbuhnya.
Suadi mengakui desain yang dipaparkan PUPR sudah baik. Namun, penyempurnaan tetap diperlukan, terlebih anggaran penataan kini turun dari lebih Rp 100 miliar menjadi sekitar Rp 80 miliar sehingga sebagian pekerjaan dilanjutkan tahun depan.
"Coba saja kalau anggarannya masih Rp 100 miliar lebih, mungkin akan selesai sekali jalan. Sekarang kan anggarannya kurang lebih Rp 80 miliaran. Jadi ada beberapa pekerjaan yang memang harus dikerjakan di tahun depan," katanya.
Anggota DPRD Kota Denpasar Putu Melati Purbaningrat mengingatkan agar kawasan heritage Denpasar tidak sekadar meniru daerah lain.
"Kawasan heritage di Denpasar harus memiliki identitasnya sendiri, meskipun mengacu pada kawasan heritage di tempat lain," tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas PUPR Kota Denpasar Putu Tony Marthana Wijaya memastikan seluruh masukan DPRD akan dibahas kembali bersama OPD terkait.
"Kita akan tampung masukkan dan saran sebagai penyempurnaan. Dari yang di rapatkan hari ini, kita akan membahas dan berkoordinasi kembali dengan OPD terkait lainnya di pemerintahan Kota Denpasar," ungkapnya.
Ditarget Sebelum Denfest
Suadi mengatakan wajah kawasan heritage ditargetkan mulai berubah sebelum Denpasar Festival digelar.
"Sehingga nanti pada saat pelaksanaan Denpasar Festival, wajah kota ini sudah berubah. Harapannya begitu," ungkapnya.
Salah satu elemen yang akan dihadirkan ialah patung Charlie Chaplin sebagai objek foto sekaligus dilengkapi papan cerita mengenai kunjungannya ke Denpasar pada 1932. Jam lonceng di sekitar Patung Catur Muka juga akan diperbarui beserta informasi sejarahnya.
Penataan kawasan juga dibarengi penyiapan kantong parkir di Pasar Badung dan Central Parkir Denpasar agar parkir di badan Jalan Gajah Mada bisa dikurangi.
Selain itu, DPRD berharap konsep transit dengan memanfaatkan bus Trans Metro Dewata dapat diterapkan pada masa mendatang.
Suadi menyebut pengerjaan dijadwalkan dimulai pada 22 atau 24 Juli dengan mempertimbangkan hari baik.
"Setelah Buda Keliwon Pegatuwakan (Buda Keliwon Pahang) ditinggal 22 Juli atau 24 itu kayaknya sudah hari baik. Sampai nanti kalau nggak salah, 13 Desember ya. Itu harapannya. Sebelum Denpasar Festival, kalau nggak salah," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga PUPR Kota Denpasar Ida Ayu Trisuci Arnawati memastikan proyek penataan akan segera dikerjakan.
"Kita akan kerjakan, namun perlu waktu agar dapat diselesaikan satu persatu. Kita tampung masukkan dan sarannya," tandasnya.
(dpw/dpw)