Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali menyayangkan unggahan twibbon sejumlah siswi berpakaian vulgar terkait Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026 di SMK PGRI 5 Denpasar. Dewan menilai pentingnya peran orang tua (ortu) dalam mendidik karakter anak sehingga unggahan yang viral itu tidak terjadi.
"Kami dalam hati miris juga melihat," kata anggota Komisi IV DPRD Bali, Agung Bagus Tri Candra Arka atau yang akrab disapa Gung Cok saat ditemui di Kantor DPRD Bali, Selasa (14/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi, yang dititikberatkan adalah peran orang tua sangat berperan dalam anaknya menjadi tunas bangsa yang berhasil," imbuh politikus Partai Golkar itu.
Menurut Gung Cok, peran ortu lebih besar dibandingkan guru yang hanya bertemu anak saat jam sekolah. Orang tua, dia berujar, lebih banyak berinteraksi dengan anak sehingga pembentukan karakter seharusnya telah dilakukan dari keluarga.
Gung Cok mengingatkan agar para siswa bijak dalam menggunakan media sosial. Terlebih jika mengunggah foto yang berhubungan dengan sekolah.
"Kedepankan etika, apalagi di Bali dengan kentalnya adat dan budaya kan tidak elok itu (pakaian vulgar) harus diperlihatkan," pungkasnya.
Sebelumnya, twibbon MPLS milik SMK PGRI 5 Denpasar menjadi sorotan setelah foto beberapa siswa baru dinilai terlalu vulgar dan tidak mencerminkan etika berpakaian. Warganet pun ramai-ramai mengkritik unggahan twibbon para sisiwi baru tersebut.
Kepala SMK PGRI 5 Denpasar Nuning Kurniawati mengaku telah melakukan penelusuran dan investigasi internal. Nuning memastikan sejumlah siswi telah diberikan pembinaan dan diminta mengganti foto pada twibbon.
"Memang ada beberapa siswi itu yang (bertanya) 'kenapa emang ada ya aturannya?' Seperti itu, 'emang ada ini kalau seandainya saya nggak ganti seperti itu'. Jadi memang ini akan kami lakukan pemanggilan," ujar Nuning ditemui di SMK PGRI 5 Denpasar, Senin (13/7).
(iws/iws)