detikBali

Cerianya Tiga Murid Baru SD 5 Belok/Sidan Badung Ikuti MPLS

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Cerianya Tiga Murid Baru SD 5 Belok/Sidan Badung Ikuti MPLS


Agus Eka Purna Negara - detikBali

Raut wajah bahagia tiga murid baru SDN 5 Belok/Sidan (barisan depan) saat berbaur dengan kakak kelas mereka dalam kegiatan MPLS, Kamis (16/7/2026).
Foto: Raut wajah bahagia tiga murid baru SDN 5 Belok/Sidan (barisan depan) saat berbaur dengan kakak kelas mereka dalam kegiatan MPLS, Kamis (16/7/2026). (Agus Eka/detikBali)
Badung -

Gelak tawa dan riuh tepuk tangan menggema di ruang kelas SDN 5 Belok/Sidan, Kecamatan Petang, Badung, meski sekolah ini hanya menerima tiga murid baru pada tahun ajaran ini. Memasuki hari keempat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Kamis (16/7/2026), ketiga siswa baru tersebut tampak begitu bahagia dan antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan tanpa canggung.

"Senang bisa ikut kegiatan. Nggak ada belajar, bermain bersama kakak kelas. Hari ini datang pagi langsung senam, masuk kelas, ada penjelasan guru," kata Ni Nyoman Putri Gauri, salah satu siswi baru di sekolah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Putri Gauri, adalah satu-satunya siswa perempuan. Ia sudah mengenal dua temannya, yakni I Putu Sudiantara dan Putu Pande Raditya Putra karena berasal dari dusun yang sama.

Suasana riang terlihat jelas saat ketiga murid baru ini duduk bersama kakak kelasnya dari kelas 2 dan kelas 3 untuk bareng-bareng menyimak materi edukasi antinarkoba serta antiperundungan. Mereka terlihat fokus mendengarkan pemaparan guru sembari sesekali berinteraksi dan bercanda dengan para seniornya yang mendampingi di sisi mereka.

ADVERTISEMENT

I Putu Sudiantara, mengaku tidak merasa canggung karena rumahnya berdekatan dengan sekolah dan sudah mengenal teman-teman barunya. Selama masa orientasi, ia dan murid baru lainnya menghabiskan waktu dengan aktivitas permainan yang menyenangkan bersama para senior.

"Selama kegiatan tidak ada belajar yang berat, cuma bermain bersama kakak kelas. Kami bertiga juga sudah siap untuk mulai belajar penuh minggu depan," ujar Sudiantara yang diiyakan oleh temannya, I Putu Pande Raditya Putra.

Pihak sekolah sengaja merancang metode khusus dengan menggabungkan siswa kelas 1, 2, dan 3 yang berada dalam satu fase perkembangan agar suasana MPLS menjadi lebih hidup. Pendekatan ini dinilai efektif secara psikologis untuk memicu kepercayaan diri murid baru yang jumlahnya sangat terbatas.

"Kalau cuma bertiga kan sepi, jadi kami ikutkan kakak kelasnya dari kelas 2 yang masih satu fase A agar suasana lebih ramai dan siswa baru nggak kesepian. Lewat pendampingan ini, anak-anak jadi lebih berani mengekspresikan diri karena merasa ada kakak-kakaknya yang menuntun," ujar Wali Kelas 1 SDN 5 Belok, Ni Putu Lilik Sri Astuti.

Tantangan mengajar tiga siswa dinilai minim karena kontrol kelas justru menjadi lebih mudah. Proses pembelajaran ke depan akan mengutamakan metode ceramah yang dipadukan dengan bermain peran (role play).

"Pendekatan mengajar nanti bisa jauh lebih dekat dan intensif karena muridnya sedikit, bahkan bisa dijadikan satu grup saja. Setelah guru menjelaskan materi, siswa akan bergantian maju untuk mempraktikkan langsung apa yang diajarkan," tutur guru lainnya, Gita.

Di sisi lain, penurunan jumlah siswa baru secara drastis dari tujuh orang pada tahun lalu menjadi hanya tiga orang pada tahun ini dilatari sejumlah faktor demografis wilayah setempat. Total keseluruhan murid di sekolah tersebut kini tercatat sebanyak 38 orang, menurun satu angka dari total tahun lalu yang mencapai 39 orang.

"Penyebab utamanya karena sekolah ini hanya didukung oleh satu banjar, ditambah angka kelahiran di sini memang menurun. Selain itu, masyarakat usia produktif yang baru menikah kebanyakan merantau dan menyekolahkan anak mereka di tempat rantauan," ungkap Kepala SDN 5 Belok/Sidan, Ni Nyoman Jamin.

Kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang 80 persen bekerja sebagai petani dan buruh membuat keberadaan sekolah ini sangat krusial bagi warga. Pihak sekolah pun tetap berkomitmen mempertahankan proses belajar-mengajar secara optimal dan melupakan opsi penggabungan sekolah (regrouping).

"Khawatir pasti ada, tapi masyarakat berharap sekolah ini dipertahankan karena jika digabung, mereka akan kesulitan mengantar anak akibat jarak yang jauh. Kami sudah berkoordinasi dengan kepala dusun serta komite, dan astungkara tahun depan jumlah siswa meningkat karena data anak di TK saat ini terpantau lebih banyak," sebut Jamin.

Demi menjaga kenyamanan para murid baru tersebut, pihak sekolah juga menerapkan pengawasan ketat sejak hari pertama kedatangan. Seluruh tenaga pendidik dikerahkan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang ramah anak guna mencegah segala bentuk intimidasi antarsiswa.

"Kami arahkan sejak pertama datang agar suasananya riang gembira, welcome, dan jangan sampai ada yang saling merundung (bully). Tujuannya agar tidak ada ketakutan atau trauma pada anak-anak untuk kembali datang ke sekolah besoknya," kata Nyoman Jamin.

Selain fokus pada aspek psikologis anak, panitia juga telah menyusun agenda harian secara mendetail yang memadukan aktivitas fisik dan pemenuhan nutrisi. Seluruh rangkaian kegiatan edukatif yang bervariasi ini dijadwalkan berlangsung penuh hingga akhir pekan.

"Setiap pagi guru menyambut siswa baru, diajak berdoa, senam sehat, kemudian ada pemberian makanan sehat bergizi sebelum masuk ke penyampaian materi sesuai jadwal harian. Kegiatan MPLS ini kami laksanakan dari awal, Senin sampai Jumat besok," pungkas Jamin.



(hsa/hsa)










Hide Ads