detikBali

Tak Sekadar Dipercantik, Penataan Titik Nol Singaraja Usung Filosofi Menarik

Terpopuler Koleksi Pilihan

Tak Sekadar Dipercantik, Penataan Titik Nol Singaraja Usung Filosofi Menarik


Sui Suadnyana, Wijaya Kusuma - detikBali

Suasana Titik Nol kota Singaraja, Buleleng, Bali, di sore hari, Kamis (18/6/2026). (Made Wijaya Kusuma/detikBali)
Foto: Suasana Titik Nol kota Singaraja, Buleleng, Bali, di sore hari, Kamis (18/6/2026). (Made Wijaya Kusuma/detikBali)
Buleleng -

Penataan kawasan Titik Nol Singaraja tak hanya menghadirkan wajah baru, tetapi juga sarat makna filosofis khas Bali. Di balik ornamen dan tata ruang yang terlihat anyar, tersimpan konsep Purusa-Pradana yang menjadi dasar desain kawasan tersebut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUTR Perkim) Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, menjelaskan konsep Purusa-Pradana adalah sebuah ajaran dalam Hindu Bali yang menggambarkan keseimbangan antara kekuatan dan kasih sayang.

"Dalam konsep ini, Kantor Bupati dimaknai sebagai Purusa atau simbol kekuatan, sedangkan Gedung Laksmi Graha sebagai Pradana yang melambangkan kasih sayang. Keduanya menjadi satu kesatuan yang mencerminkan harmoni," ujar Adiptha, Jumat (19/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsep tersebut kemudian dipadukan dengan kaidah arsitektur tradisional Bali, seperti Tri Angga dan Asta Kosala Kosali. Penerapan nilai-nilai itu diwujudkan dalam tata ruang, bentuk bangunan hingga detail ornamen yang menghiasi kawasan.

ADVERTISEMENT

Tak hanya mengedepankan filosofi, proyek ini juga memberi ruang bagi identitas lokal Buleleng. Salah satunya melalui penggunaan material Paras Abasan atau batu merah khas Desa Sangsit yang diolah menjadi berbagai ukiran dekoratif.

Menurut Adiptha, seluruh pengerjaan ukiran melibatkan seniman lokal sehingga hasil pembangunan tidak hanya mempercantik kawasan kota, tetapi juga menjadi etalase karya masyarakat Buleleng.

"Kami ingin identitas lokal tetap kuat. Karena itu material dan pengerjaan ukiran memanfaatkan potensi yang ada di Buleleng," terang Adiptha.

Konsep keterbukaan kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam penataan kawasan Titik Nol Singaraja. Hal itu terlihat dari desain pagar yang dibuat rendah sehingga tidak menciptakan kesan pembatas antara pemerintah dan masyarakat.

"Pagar yang rendah ini menjadi simbol bahwa pemerintah terbuka dan menyambut masyarakat. Kawasan ini memang dirancang sebagai ruang publik yang bisa dinikmati bersama," imbuh Adiptha.

Selain itu, kabel utilitas milik PLN, Telkom, dan sejumlah provider juga ditanam di bawah tanah. Langkah tersebut dilakukan untuk menghilangkan kesan semrawut sekaligus memperkuat estetika kawasan heritage di jantung Kota Singaraja.

Pemkab Buleleng juga menyiapkan tiga kantong parkir di sekitar kawasan Titik Nol Singaraja untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Kantong parkir pertama untuk bus dan kendaraan roda empat berada di depan Kantor BPKAD Buleleng. Lokasi ini juga dilengkapi fasilitas toilet dan tempat ibadah bagi wisatawan.

Kantong parkir kedua berada di area parkir Makam Pahlawan Curastana yang mampu menampung sekitar 30 kendaraan roda empat maupun roda dua. Sementara kantong parkir ketiga memanfaatkan area Kantor Bupati Buleleng.

Menurut Adiptha, penyediaan kantong parkir menjadi bagian dari upaya mengantisipasi kepadatan lalu lintas seiring meningkatnya kunjungan masyarakat ke kawasan yang diproyeksikan menjadi ikon baru Kota Singaraja tersebut.

Adipta mengungkapkan progres penataan kawasan Titik Nol Singaraja telah mencapai 85%. Capaian tersebut melampaui target yang ditetapkan dalam kontrak kerja sebesar 83%.

Pekerjaan yang tersisa hanya beberapa penyelesaian detail, termasuk pemasangan bangku di area pedestrian. Pemerintah Kabupaten Buleleng optimistis seluruh pekerjaan dapat dituntaskan sesuai target pada pertengahan Juli 2026.



(hsa/hsa)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads