detikBali

Wajah Baru Titik Nol Singaraja, Mirip Yogyakarta Versi Bali Utara

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Wajah Baru Titik Nol Singaraja, Mirip Yogyakarta Versi Bali Utara


Made Wijaya Kusuma - detikBali

Suasana Titik Nol kota Singaraja, Buleleng, Bali, di sore hari, Kamis (18/6/2026). (Made Wijaya Kusuma/detikBali)
Foto: Suasana Titik Nol kota Singaraja, Buleleng, Bali, di sore hari, Kamis (18/6/2026). (Made Wijaya Kusuma/detikBali)
Buleleng -

Sore hari menjadi waktu paling ramai di Kawasan Heritage Titik Nol Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali. Saat matahari perlahan tenggelam, warga mulai berdatangan untuk duduk santai, berolahraga, hingga berburu foto dengan latar bangunan bersejarah dan langit jingga yang memanjakan mata.

Wajah baru pusat Kota Singaraja itu kini menjadi salah satu ruang publik favorit warga Buleleng. Penataan kawasan yang memadukan nuansa heritage dengan ruang terbuka membuat Titik Nol selalu ramai dikunjungi, terutama menjelang senja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sudut-sudut kawasan, anak muda tampak sibuk mengabadikan momen. Sebagian lainnya memilih duduk bersama teman atau keluarga menikmati suasana sore yang berbeda dari sebelumnya. Tak sedikit pula yang datang khusus untuk menyaksikan sunset.

Eli, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Undiksha, mengaku sengaja datang ke Titik Nol usai berolahraga untuk menikmati pemandangan matahari terbenam.

ADVERTISEMENT

"Perubahan pembangunan di Kota Singaraja ini sangat luar biasa. Ini membuat interaksi sosial masyarakat lebih banyak di sini. Kami yang jauh dari Medan sangat mengapresiasi hal ini," kata Eli, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, penataan kawasan tersebut membawa perubahan besar dibandingkan kondisi sebelumnya.

"Kalau dibanding yang dulu tentu perbedaannya mencolok karena pembangunannya baru. Kesannya lebih luas dan cantik. Tempatnya nyaman, foto-foto juga bagus," ujarnya.

Belakangan, Titik Nol Singaraja juga viral di media sosial (medsos) karena dianggap memiliki suasana yang mirip dengan Yogyakarta. Eli yang pernah berkunjung ke Kota Gudeg mengaku merasakan kesan serupa.

"Memang lumayan mirip. Tapi bedanya ada pada ornamen singa yang menjadi identitas Kota Singaraja. Kalau lihat singa, orang langsung tahu ini Singaraja," katanya.

Ia berharap penataan kawasan terus dikembangkan agar mampu menarik lebih banyak wisatawan ke Bali Utara.

"Biasanya orang kalau ke Bali mikirnya Denpasar. Dengan penataan seperti ini kami berharap wisatawan juga tertarik datang ke Singaraja," imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan penataan Kawasan Heritage Titik Nol masih menyisakan sejumlah pekerjaan akhir. Meski demikian, masyarakat sudah diperbolehkan menikmati kawasan tersebut, khususnya pada sore hingga malam hari setelah aktivitas pengerjaan selesai.

Menurut Sutjidra, daya tarik kawasan ini bukan hanya karena tampilannya yang estetik, tetapi juga nilai sejarah yang dimilikinya. Kawasan tersebut merupakan bagian penting perjalanan Kota Singaraja yang pernah menjadi ibu kota Sunda Kecil dan pusat pemerintahan pada masanya.

"Kawasan ini menyimpan banyak jejak sejarah yang sengaja kita hidupkan kembali melalui penataan kawasan heritage," ujar Sutjidra.

Suasana Titik Nol kota Singaraja, Buleleng, Bali, di sore hari, Kamis (18/6/2026). (Made Wijaya Kusuma/detikBali) penataan Kawasan Heritage Titik Nol masih menyisakan sejumlah pekerjaan akhir. Meski demikian, masyarakat sudah diperbolehkan menikmati kawasan tersebut, khususnya pada sore hingga malam hari setelah aktivitas pengerjaan selesai. (Made Wijaya Kusuma/detikBali)
Suasana Titik Nol kota Singaraja, Buleleng, Bali, di sore hari, Kamis (18/6/2026). (Made Wijaya Kusuma/detikBali)Daya tarik kawasan ini bukan hanya karena tampilannya yang estetik, tetapi juga nilai sejarah yang dimilikinya. Kawasan tersebut merupakan bagian penting perjalanan Kota Singaraja yang pernah menjadi ibu kota Sunda Kecil dan pusat pemerintahan pada masanya. (Made Wijaya Kusuma/detikBali)
Suasana Titik Nol kota Singaraja, Buleleng, Bali, di sore hari, Kamis (18/6/2026). (Made Wijaya Kusuma/detikBali)Warga dari semua usia tampak sibuk mengabadikan momen. Sebagian lainnya memilih duduk bersama teman atau keluarga menikmati suasana sore yang berbeda dari sebelumnya. (Made Wijaya Kusuma/detikBali)




(nor/nor)










Hide Ads