Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono membantah keras terlibat dalam aksi kudeta terhadap pemerintah. Tuduhan itu beredar di media sosial (medsos). Hendropriyono menyebut informasi itu hoaks alias bohong.
"Bahwa saya dan orang-orang yang ada di dekat saya tidak ada yang terlibat. Tidak ada teman-teman maupun keluarga yang tidak mendukung pemerintah," ujar Hendropriyono, saat menjawab pertanyaan terkait beredar isu tuduhan orang yang ada didekatnya berada di balik gerakan yang mengkritik keras pemerintah dan bagaimana komitmen sumpah prajurit, Jumat (19/6/2026), dilansir detikNews.
"Kita semua tidak mendukung dan tidak memerintahkan siapa pun untuk melakukan kegiatan yang bertujuan menggulingkan pemerintah yang sah. Tidak benar," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hendropriyono, penyampaian pendapat di muka umum harus tetap berada dalam koridor hukum dan konstitusional. Karena itu, ia menegaskan bahwa informasi yang menyebut dirinya mendukung penggulingan pemerintah adalah hoaks dan fitnah.
"Dalam negara kita, penyampaian pendapat di muka umum dalam demokrasi mesti tetap harus berada dalam koridor hukum dan konstitusi. Karena itu, segala tuduhan yang mengaitkan saya dan orang-orang di sekitar saya yang beragenda menggulingkan pemerintahan, tanpa bukti yang sah, itu adalah hoaks dan fitnah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan," katanya.
Ia menyebut, sejak aktif sebagai anggota TNI hingga pensiun, dirinya tetap memegang teguh prinsip menjaga keutuhan Republik Indonesia serta stabilitas nasional.
"Sejak dulu, saya dan teman-teman tentara, yang sekarang purnawirawan, apalagi yang masih aktif, mengabdikan diri kepada negara dalam berbagai penugasan. Prinsip kami sama, menjaga keutuhan Republik Indonesia yang Pancasilais, UUD 1945, dan stabilitas nasional," kata Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pertama era 2001-2004 itu.
Ia mewanti-wanti agar masyarakat tidak mudah percaya informasi palsu. Masyarakat diminta mengecek setiap informasi yang diterima.
"Saya mengajak masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap hoaks, apalagi simulakra. Selalu periksa fakta sebelum menyebarkan informasi, jangan main forward aja," katanya.
Artikel ini sudah tayang di detikNews, baca selengkapnya di sini!