detikBali

Aksi Petugas Desa Dangin Puri Kelod Pilah Mandiri Tumpukan Sampah Liar

Terpopuler Koleksi Pilihan

Aksi Petugas Desa Dangin Puri Kelod Pilah Mandiri Tumpukan Sampah Liar


Maria Christabel DK - detikBali

Tim dari Desa Dangin Puri Kelod lakukan pemilahan sampah liar mandiri, Jumat (24/4/2026). (Maria Christabel DK)
Foto: Tim dari Desa Dangin Puri Kelod lakukan pemilahan sampah liar mandiri, Jumat (24/4/2026). (Maria Christabel DK/detikBali)
Denpasar -

Pemerintah Desa (Pemdes) Dangin Puri Kelod menyisir hingga memilah sampah liar secara mandiri. Pelaksanaan kegiatan berlangsung tiga hari, melibatkan 15 orang staf desa, kepala dusun, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga Juru Pemantau Lingkungan (Jumali).

"Kita kemarin jam 07.00-08.00 Wita sudah berkumpul, berangkat menyisir, lalu pelayanan masyarakat dan kembali lagi ke sini. Paling maksimal sampai jam 12.00 Wita karena sudah panas," jelas Perbekel Desa Dangin Puri Kelod I Made Sada ketika diwawancarai detikBali, Jumat (24/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemilahan sampah sementara dilakukan di lahan kosong milik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali. Mereka memanfaatkan area sebesar satu are sebagai tempat untuk lakukan proses pemilahan sampah yang kemudian langsung diangkut demi hindari penumpukan sampah sekaligus menjaga kebersihan lokasi.

"Kita minjam tempat ini sementara. Kalau di kota kita susah cari tempat. Ini tanah provinsi. Kalau di kantor pun, bahkan nggak ada tempat parkir. Kalau belum terpilah pun ditolak sama TPS, makanya kita pilah," tutur Sada.

ADVERTISEMENT

"Ini saya bersihkan, besok atau lusa dikirim, nanti kan kosong (lahannya), Senin baru dah masuk sampah baru," imbuh Sada.

Ia menyebutkan bahwa penggunaan lahan Pemprov Bali untuk pemilahan sampah dikarenakan keamanan jauh lebih terjaga dengan adanya pagar pengaman, serta patroli rutin. Selain itu, status kepemilikan lahan tersebut sudah jelas sebagai milik pemerintah.

"Saya punya patroli di Linmas (Perlindungan Masyarakat) tapi sampai jam 00.00-01.00 Wita saja," kata Sada.

Selain itu, Sada menjelaskan pantauan kamera pengawas pun telah dilakukan. Namun, Ia menyebutkan bahwa upaya tersebut tidak berjalan maksimal karena mereka kesulitan menemukan identitas pelaku. "Cuma kan nggak kenal. Mereka kan buang langsung pergi," tutur Sada.

Sada mengatakan sampah liar tersebut berasal dari penduduk luar desa. Saat proses pemilahan, tim pemilah kerap beruntung menemukan identitas pelaku dari paket belanja online.

Selama tiga hari pemilahan, desa berhasil mengumpulkan hingga satu truk pikap per hari. Pembuangan sampah organik dialihkan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kesiman Kertalangu. Sedangkan pembuangan sampah nonorganik ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) Yangbatu.

"Sekarang aturannya baru, setiap Kamis dan Senin untuk pembuangan organik, anorganiknya selain hari itu. Tapi kadang di TPST juga penuh, jadi kita kirim satu pikap setiap hari," kata Sada.

Desa sendiri memiliki enam petugas pengangkut moci yang berkeliling hanya mengangkut sampah terpilah. Selain itu, mereka tetap mengupayakan edukasi dan penyediaan sarana pemilahan sampah berbasis sumber.

"Kita ada 4.654 KK (kepala keluarga), kemarin kita sudah berikan tong komposter 250 biji. Terus teba modern 200, jadi jumlah KK terus dikurangin tadi, sisanya kita bagi bag composter. Kita sudah membagikan sebanyak 900-an. Karena 43 desa membutuhkan, jadi bertahap datangnya, yang penting kita jalan dulu," terang Sada.

Menurut Sada, sebanyak 70 persen warga Desa Dauh Puri Kelod sudah berhasil melakukan pemilahan sampah. Ia memastikannya dari hasil angkutan sampah oleh para petugas moci.

"Kalo kita lapor ke DLHK, mereka sudah banyak bekerja. Kita ingin meringankan beban DLHK. Tentunya karena yang liar ini mereka tidak mau memilah sampah, semuanya bisa memilah, tapi mereka tidak mau. Mungkin karena nggak tau informasi juga. Jadi, dia membuang ke tempat yang strategis seperti lahan kosong, dan karena ada di desa jadi tanggung jawab kami," tegas Sada.

Titik-titik yang menjadi daerah rawan pembuangan sampah liar, di antaranya sekitar Banjar Yang Batu Kauh, Banjar Yangbatu Kangin, Jalan Cok Agung Tresna hingga Jalan Raya Puputan sekitar wilayah Museum Bung Karno.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads