detikBali

Ancaman Berbahaya di Balik Aktivitas Pembakaran Sampah

Terpopuler Koleksi Pilihan

Ancaman Berbahaya di Balik Aktivitas Pembakaran Sampah


Trimina Klara - detikBali

Polusi udara melanda sejumlah wilayah di Indonesia termasuk Kabupaten Bekasi. Selain asap kendaraan, dan pabrik, pembakaran sampah memperparah polusi udara.
Foto: Ilustrasi pembakaran sampah. (Pradita Utama/detikcom)
Denpasar -

Kebiasaan membakar sampah masih menjadi kebiasaan yang cukup umum kita temukan saat ini. Alasannya tentu karena lebih praktis, cepat, dan dianggap menjadi solusi paling mudah dalam mengurangi tumpukan sampah. Namun, dibalik itu, tanpa disadari ada ancaman besar yang akan mengancam.

Pembakaran sampah di area terbuka ini masih menjadi praktik umum yang secara tidak langsung karena rendahnya kesadaran lingkungan serta minimnya edukasi akan dampak jangka panjang yang akan dihasilkan.

Asap yang dihasilkan dari open burning ini mengandung senyawa berbahaya seperti furan dan dioksin bersifat karsinogenik yang dapat berdampak pada gangguan sistem pernafasan, sistem saraf hingga perkembangan anak-anak. Selain itu, praktik ini juga melepaskan karbon hitam yang membuat pemanasan global lebih cepat hingga memperparah perubahan iklim.

Zat Berbahaya yang Muncul Saat Bakar Sampah

Saat sampah dibakar, proses yang terjadi tidak hanya sekadar menghilangkan benda tidak terpakai yang awalnya menumpuk menjadi tumpukan abu, tetapi ada reaksi kimia kompleks yang akan menghasilkan zat berbahaya bagi lingkungan sekitar. Berikut berbagai zat berbahaya yang dihasilkan.

1. Senyawa Organik Persisten
Termasuk dalam zat paling berbahaya seperti Dioksin, Furan, Benzopiren hingga Polyaromatic Hydrocarbons. Zat-zat ini dihasilkan karena ada pembakaran plastik atau benda-benda yang mengandung klorin.

2. Gas Beracun
Gas-gas beracun dan tidak berwarna ini meliputi Karbon Monoksida (CO), Nitrogen Dioksida (NO2), Sulfur Dioksida (SO2), dan Hidrogen Sianida (HCN) yang mana ini sangat berbahaya bagi kesehatan serta keberlangsungan bumi.

3. Partikel
Debu halus seperti Particulate Matter (PM2.5) yang ukurannya sangat kecil tersebut bisa saja masuk ke dalam paru-paru yang kemudian memicu penyakit pernapasan atau jantung. Sedangkan logam berat sisa pembakaran akan menghasilkan timbal, merkuri, kromium, dan arsen. Ini dapat mencemari tanah lalu masuk ke rantai makanan manusia melalui tanaman atau ternak.

Dampak Negatif Membakar Sampah Bagi Kesehatan

1. Gangguan Pernapasan
Ini adalah permasalahan paling umum terjadi karena asap dari pembakaran sampah dapat mencemari udara sekitar yang kita hirup. Dengan begitu zat-zat berbahaya yang terkandung dalam asap secara otomatis akan ikut masuk ke saluran pernafasan. Gejala awal yang akan dirasakan adalah batuk, sesak napas hingga hidung perih. Jika dibiarkan, maka dalam jangka panjang akan berpotensi menjadi infeksi paru-paru, pneumonia, bronkitis, dan alergi.

2. Iritasi
Iritasi ini akan muncul ketika partikel-partikel halus yang terbawa oleh asap pekat mengenai mata atau bahkan terhirup dan menyebabkan iritasi pada mulut, hidung, serta tenggorokan.

3. Kerusakan Kulit
Tubuh yang terkena paparan langsung oleh asap pembakaran sampah akan menyebabkan lesi kulit seperti chloracne serta pertumbuhan jaringan abnormal pada permukaan kulit. Ini disebabkan karena terbawanya zat furan, dioksin, dan zat kimia lainnya.

4. Kecacatan Janin serta Memengaruhi Hormon
Khususnya sampah plastik yang menghasilkan zat dioksin dan furan bisa menyebabkan kecacatan janin jika ibu hamil menghirup kan dalam jangka panjang. Selain itu, juga dapat memengaruhi sistem reproduksi seperti masa pubertas yang lebih cepat pada anak perempuan dan risiko kanker testis pada laki-laki.

5. Kanker
Meskipun kemungkinannya kecil, namun akan tetap berbahaya dalam jangka waktu panjang. Alasannya adalah zat-zat yang bersifat karsinogenik hasil dari pembakaran ini sangat sensitif bagi ibu hamil, anak-anak, dan lansia.

Cara Mengelola Sampah Rumah Tangga Sesuai Jenisnya

1. Sampah Organik (Sisa Makanan, Daun)
Sampah jenis ini menjadi penyumbang dengan jumlah besar namun juga menjadi jenis sampah yang paling mudah diolah. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah jangan campurkan sampah organik dengan plastik, bisa diolah menjadi pupuk kompos dengan menggunakan komposter sederhana, atau bisa menggunakan metode Lubang Biopori.

2. Sampah Anorganik (Plastik, Botol,Kertas, Logam)
Menjadi sampah yang sifatnya sulit terurai secara alami, namun memiliki nilai ekonomi. Cara penanganan sederhana dengan membersihkan sampah dari sisa apa pun, kumpulkan lalu setor ke bank sampah terdekat untuk ditukarkan menjadi uang. Cara lain adalah dengan menerapkan metode upcycling.

3. Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Sering diabaikan, sampah-sampah B3 ini seperti baterai bekas, bola lampu hingga limbah medis. Sedangkan untuk penanganannya sangat dilarang dibakar karena zat kimia yang terkandung bisa meledak. Jadi pisahkan dalam wadah terpisah, tutup rapat, dan kumpulkan pada titik pengumpulan limbah B3 resmi.

4. Sampah Residu
Sampah-sampah residu seperti tisu bekas, popok, pembalut, dan puntung rokok ini harus dipisahkan dari ketiga jenis sampah di atas dengan cara membungkus rapi agar tidak tercecer, lalu serahkan pada petugas kebersihan untuk dikelola di TPA.




(dpw/dpw)











Hide Ads