Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMP perdana langsung menuai keluhan. Siswa kesulitan menaklukkan soal Matematika, terutama karena waktu terbatas dan lemahnya pemahaman konsep dasar dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat pandemi COVID-19.
"Memang yang dikeluhkan di matematika, terutama masalah waktu," ujar Wakil Ketua Kurikulum SMP Negeri 3 Denpasar, Ayu Astuti, saat ditemui detikBali, Kamis (16/4/2026).
Dalam TKA, siswa harus mengerjakan 30 soal dalam waktu 75 menit. Kondisi ini membuat banyak siswa kehabisan waktu sebelum seluruh soal terselesaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di matematika, karena dia 30 soal dan waktu pengerjaan 75 menit. Ini yang dirasa cukup buat mereka buru-buru ngerjain soalnya," jelas Astuti.
Astuti menilai, kesulitan ini tak lepas dari dampak PJJ saat pandemi. Saat itu, pembelajaran lebih berfokus pada penyelesaian soal dibanding pemahaman konsep dasar.
"Kalau di sini memang sejak COVID-19 itu ada lost ya. Bahkan kita dapat anak-anak kelas 7, perkalian pun nggak bisa," ucap Astuti.
"Nah itu kan lost ya, jadi konsep matematikanya itu belum didapat," imbuhnya.
Ia menjelaskan, lemahnya pemahaman konsep membuat siswa kesulitan saat menghadapi soal berbasis studi kasus dalam TKA.
"Kalau untuk anak-anak ini sebenarnya karena pemahaman dasarnya yang belum kuat. Kalau diberikan soal studi kasus, sebenarnya dia nggak bisa memecahkan karena dia nggak megang konsep," jelasnya.
Berdasarkan pemetaan sekolah, sekitar 45 persen siswa masih belum memiliki pemahaman konsep yang memadai.
"Masih ada sekitar 45 persen anak kami yang belum pemahaman konsepnya. Seperti berhitung itu belum mencukupi," ungkapnya.
Meski begitu, materi dasar seperti aljabar dan SPLDV dinilai lebih mudah dikerjakan.
"Aljabar itu kan materi dasar. Malah kalau aljabar dia suka, SPLDV itu dia suka. Kalau misalnya SPLDV atau diskon, karena sudah sering dilakukan, mereka jadi cepat mengerjakan," ungkapnya.
Sebaliknya, materi yang membutuhkan visualisasi seperti geometri menjadi keluhan utama.
"Yang dikeluhkan itu kebanyakan materi geometri, bangun ruang. Kalau bangun ruang itu harus membayangkan dulu, jadi nggak bisa langsung," tambahnya.
Sekolah pun mengantisipasi dengan menggelar try out rutin sejak awal tahun.
"Kalau dari sekolah kita setiap hari Senin, mulai awal tahun dilaksanakan try out. Jadi mereka sudah melakukan try out sebanyak 12 kali," ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga telah menggelar simulasi dan gladi bersih sebanyak dua kali.
Astuti menambahkan, perbaikan juga perlu menyasar kualitas guru agar pembelajaran lebih merata.
"Mungkin pemerintah harus banyak menyasar guru untuk dilakukan penajaman-penajaman kembali. Jadi dari gurunya dulu ditajamkan kemampuanya, sehingga bisa memberikan pembelajaran yang lebih mendalam ke murid-muridnya. Kalau ingin pemerataan, dimulai dari gurunya dulu baru ke siswa," kata Astuti.
Siswa Bingung Regulasi TKA
Keluhan juga datang dari siswa. I Gede Agastya Putra Bhaskara mengaku kesulitan pada soal cerita dan keterbatasan waktu.
"Kesulitannya karena banyak soal cerita. Jadi waktunya terasa pas-pasan, kita nggak sempet recheck lagi," ujar Putra.
Siswa lain, Putu Wikania Putri, menilai soal bersifat menjebak dengan bahasa yang rumit.
"Soalnya dibuat tricky dan bahasanya lebih rumit, agak berbelit-belit," ujar Putri.
"Banyak yang protes di geometri, angkanya berkoma-koma jadi lebih sulit," katanya.
Ia juga sempat mengalami kendala teknis saat ujian.
"Waktu itu sempat error, jadi nggak bisa jawab bagian belakang," ungkapnya.
Selain soal dan waktu, siswa juga menyoroti ketidakjelasan regulasi TKA.
"Enam bulan masih kurang, apalagi regulasinya belum jelas. Karena kami angkatan COVID-19, jadi dasar kami juga belum kuat," jelasnya.
"Dibilang tidak wajib, tapi dipakai untuk masuk SMA," tambahnya.
Ke depan, siswa berharap durasi persiapan diperpanjang dan regulasi diperjelas sejak awal.
(dpw/dpw)










































