detikBali

Sampah Menumpuk di Denpasar, Warga Bingung Informasi

Terpopuler Koleksi Pilihan

Sampah Menumpuk di Denpasar, Warga Bingung Informasi


Maria Christabel DK - detikBali

Sampah menumpuk di sejumlah titik di Denpasar, Selasa (31/3/2026).
Sampah menumpuk di sejumlah titik di Denpasar, Selasa (31/3/2026). (Foto: Maria Christabel DK/detikBali)
Denpasar -

Tumpukan sampah terlihat di sejumlah titik wilayah Denpasar, salah satunya di Kelurahan Panjer, Denpasar Selatan. Sampah menumpuk tidak hanya di rumah warga, tetapi juga di tempat usaha, mulai dari warung hingga rumah kos.

"Lama ngambilnya, nggak nentu. Nggak ada jadwal. Udah berapa bulan ini nggak diambil, sampahnya, iurannya juga," tutur pemilik salah satu warung kelontong, Kadek, ketika diwawancarai detikBali, Selasa (31/3/2026).

Kadek mengaku belum menerima sosialisasi terkait pengelolaan sampah oleh pemerintah desa atau kelurahan setempat. Dia pun belum mendengar terkait aturan wajib memilah sampah organik dan anorganik yang berlaku mulai 1 April 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apa itu composter bag? Belum ada itu," ucap Kadek.

ADVERTISEMENT

Ia juga menyebut informasi terkait penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung masih simpang siur. "Itu sih, belum pasti. Masih simpang siur ya," imbuh Kadek.

Swakelola Sampah Usaha

Kondisi serupa dialami pelaku usaha. Salah satu karyawan warung ayam geprek SFC, Ronald, menyebut pemilik usaha memilih melibatkan pihak lain secara swakelola untuk menangani sampah dapur.

"Bos yang tahu, itu kan sudah lama. Sudah diambil pas kita sudah pulang, kemarin pas mudik itu," jelas Ronald.

Sampah menumpuk di sejumlah titik di Denpasar, Selasa (31/3/2026).Sampah menumpuk di sejumlah titik di Denpasar, Selasa (31/3/2026). Foto: Maria Christabel DK/detikBali

"Terakhir ditarik iuran itu buat bulan dua, itu pun diambil cuma sekali. Dulu sih diusahainnya diambil seminggu dua kali. Udah WA juga, balasnya 'nanti diinfokan', sampai sekarang nggak ada kabar," papar Ronald.

Menurut warga, besaran iuran sampah bervariasi, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 400 ribu, tergantung jenis usaha. Salah satu kafe di kawasan yang sama, Satu Titik Kopi Dewata, dikenakan iuran hingga Rp 400 ribu untuk pengangkutan sampah seminggu sekali.

"Masih rutin, biasanya seminggu sekali diambil. Ini memang belum diambil aja," ucap karyawan kafe, Gusde.

Gusde menjelaskan kafe telah melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik. Namun, sampah organik tidak diolah di sumber, melainkan tetap dibuang untuk kemudian diambil warga dan dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

"Biasanya pagi hari itu ada yang langsung ambil, yang pelihara binatang, biasanya untuk pakan ternak," kata Gusde.

Terkait sosialisasi pengelolaan sampah, Gusde mengaku belum mengetahui kelanjutannya. "Entah dari owner sudah menerima atau belum, saya belum tahu. Soalnya di sini owner-nya tiga," terang Gusde.




(dpw/dpw)










Hide Ads