Bulan Ramadan 1447 Hijriah segera berakhir. Meski akan berakhir, ibadah di bulan suci ini harus tetap dikuatkan. Ramadan juga memberi hikmah bagi umat Islam tentang nikmatnya ibadah, ketaqwaan hingga konsistensi dalam mengharap ridha Allah Swt.
Berikut ini lima kultum tentang hikmah di akhir Ramadan. Kumpulan kultum ini dikutip dari laman Nahdlatul Ulama online, simak selengkapnya!
3 Renungan di Penghujung Bulan
Kita yang menyambut gembira saat kedatangan Ramadan, kini dalam waktu dekat akan merelakan kepergian bulan sejuta ampunan itu.
Ramadan sudah memasuki sepuluh hari terakhir. Artinya, tidak lama lagi bulan yang kehadirannya selalu dirindukan umat muslim ini akan berakhir dalam hitungan hari. Sebagian kita telah melewatinya dengan semangat amal ibadah, mulai dari berpuasa, tadarus Al-Qur'an, salat tarawih, dan amalan-amalan lainnya.
Namun harus diakui pula sebagian yang lain, barangkali anda yang membaca termasuk di antaranya, melewati hari-hari Ramadan dengan ibadah alakadarnya. Entah karena kesibukkan aktivitas yang menumpuk atau memang sebab malas saja. Di penghujung bulan ini, penting kiranya kita renungi hari-hari Ramadan yang telah dilalui, juga sisanya yang akan kita lewati. Setidaknya ada tiga renungan di penghujung Ramadan.
- Mengevaluasi Ibadah
Sudah separuh bulan lebih hingga sepuluh hari terakhir Ramadan kita tunaikan, tentu sudah seharusnya ada banyak ibadah yang telah kita lakukan selama berpuasa. Selain ibadah puasanya sendiri, juga amal-amal sunnah, seperti tadarus Al-Qur'an, salat tarawih, menghidupkan malam-malam dengan serangkaian ibadah, dan sebagainya. Sebagai manusia biasa, kita tidak bisa menjamin apakah semua ibadah yang sudah kita lakukan itu diterima Allah Swt atau tidak.
Sebab itu, sekalipun kita sudah beribadah maksimal selama Ramadan, kita tidak boleh terlalu percaya diri bahwa Allah menerima semua apa yang kita lakukan. Dengan begitu, kita tidak akan larut dalam kepuasan spiritual atau bahkan merasa diri sudah paling saleh. Meski begitu, di sisi lain kita juga harus optimis bahwa Allah menerima ibadah yang sudah kita perbuat agar tidak muncul sikap pesimis. Sebab, Allah sesuai prasangka hamba-Nya.
Lebih ketat lagi, Imam Al-Ghazali bahkan menyampaikan bahwa sikap ini seharusnya kita tanamkan setiap selesai berbuka puasa, bukan hanya ketika di penghujung atau selesai Ramadan. Ia menyampaikan dalam Ihya 'Ulumuddin:
أَنْ يَكُوْنَ قَلْبُهُ بَعْدَ الإِفْطَارِ مُعَلَّقاً مُضْطَرِبًا بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ إِذْ لَيْسَ يَدْرِي أَيُقْبَلُ صَوْمُهُ فَهُوَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ أَوْ يُرَدُّ عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمَمْقُوتِينَ وَلْيَكُنْ كَذَلِكَ فِي آخِرِ كُلِّ عِبَادَةٍ يَفْرَغُ
Artinya: "Setiap selesai berbuka puasa, seyogyanya kita merasa khawatir sekaligus menaruh harap kepada Allah. Khawatir jangan-jangan ibadah kita tidak diterima, juga berharap bahwa Allah menerimanya. Sebab, kita tidak tahu apakah puasa kita diterima sehingga termasuk hamba yang dekat di sisi Allah, atau sebaliknya ditolak sehingga kita termasuk hamba yang mendapat murka-Nya. Sikap seperti ini harus diterapkan setiap selesai melakukan ibadah apapun." (Al-Ghazali, Ihya 'Ulumiddin, [2016], juz I, halaman 319).
Orang yang sudah beribadah maksimal saja tidak boleh berbangga diri dan terlalu percaya diri dengan amalnya, apalagi mereka yang ibadahnya biasa-biasa saja. - Penuh Syukur
Betapapun bisa berjumpa dengan bulan suci Ramadan merupakan anugerah teragung dari Allah swt. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa para ulama akan mempersiapkan diri jauh-jauh hari bahkan berbulan-bulan sebelum kedatangan Ramadan.
Syekh Mu'alla bin Fahdl atau dikenal dengan Abu Hasan al-Bashri bahkan dikatakan selalu memohon kepada Allah agar dipertemukan Ramadan setiap jarak enam bulan sebelum kedatangannya. Umat muslim pun dianjurkan untuk memanjatkan doa agar bisa berjumpa Ramadan begitu masuk bulan Rajab atau dua bulan sebelum Ramadan.
Motivasi kuat untuk berjumpa bulan mulia ini karena Ramadan memiliki sejuta keutamaan yang tidak ada dalam bulan-bulan lainnya. Rasulullah Saw selalu menyampaikan kepada sahabat ketika bulan penuh ampunan ini sudah tiba:
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ مُباَرَكٌ، شَهْرٌ فِـيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِياَمَهُ فَرِيْضَةً وَ قِياَمَ لَيْلِهِ تَطَـوُّعاً مَنْ تَقَرَّبَ فِـيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ اْلخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِـيْماَ سِوَاهُ وَمَنْ أَدَّى فِـيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِـيْمَا سِواَهُ
Artinya: "Wahai manusia, telah tiba bulan yang agung lagi mulia. Bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah telah menjadikan puasanya wajib dan salat malamnya sebagai amal sunnah. Barangsiapa melakukan satu ibadah sunnah pada bulan ini, maka pahalanya seperti menunaikan satu kewajiban di bulan lainnya. Dan barangsiapa menunaikan satu ibadah wajib pada bulan ini, maka pahalanya seperti menunaikan tujuh puluh kewajiban di bulan lainnya." (HR Ibnu Khuzaimah).
Sebab itu, kita patut bersyukur bisa memperoleh nikmat agung ini. Dengan mensyukurinya, insya Allah kita akan diberi tambahan nikmat dengan dipertemukan kembali pada Ramadan berikutnya. Allah Swt berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS Ibrahim [14]: 7) - Maksimalkan 10 Hari Terakhir
10 hari terakhir adalah fase puncak bulan suci Ramadan. Sebab, pada momen inilah malam Lailatul Qadar diprediksi kehadirannya, malam yang sangat dinantikan semua umat muslim, demikian juga yang dilakukan oleh Rasulullah. Oleh sebab itu, pada momen ini kita didorong untuk memperbanyak amal ibadah. Dalam hadits riwayat Sayyidah 'Aisyah disebutkan,
كَانَ رَسُوْلُ اللهً ﷺ يَجْتَهِدُ فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ
Artinya, "Pada malam sepuluh terakhir, Rasulullah saw (lebih) bersungguh-sungguh (untuk beribadah), melebihi kesungguhan pada malam yang lain." (HR Muslim)
Barangkali jika hari-hari Ramadan yang telah kita lewati belum digunakan untuk beribadah dengan maksimal, maka masih ada sepuluh hari terakhir yang merupakan momen pamungkas bulan suci ini. Kita bisa lebih bersungguh-sungguh beribadah, terutama menghidupkan malam-malam dengan amalan sunnah agar bisa meraih Lailatul Qadar.
Kita pun tidak tahu apakah ini Ramadan terakhir bagi kita atau bukan. Barangkali bukan kepergian Ramadan yang kita khawatirkan, tapi ketika Ramadan tahun depan kembali datang namun kita sudah tiada.
Setiap Kebaikan Akan Kembali Kepada Kita
Setiap kebaikan yang diberikan kepada orang lain pada hakikatnya akan berbalik kepada diri pelakunya. Orang yang gemar berbagi pada waktunya akan merasakan manfaat dari apa yang ia berikan, sedangkan mereka yang enggan memberi cenderung tidak memperoleh kebaikan dari orang lain. Sejatinya, kebaikan yang diterima seseorang merupakan hasil dari perbuatan baiknya sendiri.
Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Saw menjelaskan siapa yang mengajak kebaikan, maka akan mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya. Beliau bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Artinya : Diriwayatkan dari Abi Hurairah sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : "Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun." (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan orang yang mengajak kepada kebaikan akan memperoleh pahala tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga pahala dari perbuatan baik para pengikutnya. Sebaliknya, orang yang menyesatkan orang lain akan memikul dosa dari kesalahan para pengikutnya, baik itu kesesatan berupa ucapan maupun tindakan.
Hal ini berlaku tidak hanya untuk ibadah semata, tetapi juga mencakup pengajaran ilmu, bahasa, dan berbagai bidang lainnya. Dengan kata lain, setiap perbuatan, baik kebaikan maupun keburukan, yang diprakarsai sendiri atau diteruskan dari orang lain, akan menjadi tanggung jawab moral bagi yang menyebarkannya.
Pesan ini mengingatkan kita bahwa setiap ajakan, baik berupa nasihat, pengajaran, atau teladan, memiliki konsekuensi spiritual yang besar. Menyebarkan kebaikan berarti menebar pahala berlipat, sementara menebar kesesatan sama artinya menanggung dosa kolektif dari mereka yang mengikuti. (Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj [Mesir: Darul Hadits, 1349 H], Juz XVI, halaman 228)
Pada dasarnya Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Maka pembahasan kali ini termasuk bagian dari landasan utama Islam. Lalu bagaimana cara mengejawantahkan Ihsan atau kebaikan agar berdampak luas bukan untuk diri kita saja, khususnya pada bulan Ramadan ini.
Dalam bab Ihsan atau kebaikan, Syekh Izzuddin bin Abdissalam pada Kitab Syajaratul Ma'arif menjelaskan tentang ragam kebaikan yang berdampak luas yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.
الإِحْسَانُ المُتَعَدِّي يَتَعَلَّقُ بِالْقٌلُوْبِ وَالأَبْدَانِ، فَإِحْسَانُ القُلُوْبِ بِإِرَادَةِ كُل نَفْعِ لِلْعِبَادِ، فَإِنَّ الْإِرَادَةَ سَبَبٌ لِذَلِكَ، وَكَذَلِكَ بِالصَبْرِعَن المُظَالِمِ، وبِأَن تُحِبَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ، بِأَنْ تُوَقِّرَ مَا يُسْتَحَقُّ التُوَقِّيرَ
Artinya: "Ihsan yang berdampak luas itu berhubungan dengan hati dan raga, ihsan hati adalah dengan kemauan untuk senantiasa memberikan manfaat pada semua hamba. Sebab kemauan merupakan sebab untuk itu.
Demikian pula sikap sabar atas semua kezaliman dan hendaknya engkau mencintai setiap muslim sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri dan hendaknya engkau menghormati orang yang memang berhak untuk dihormati." (Syekh Izzuddin bin Abdissalam, Kitab Syajaratul Ma'arif wal-Ahwal wa Shalihil Aqwal wal-A'mal [Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah. 1424 H] halaman 115)
Lalu, Syekh Izzuddin bin Abdissalam menambahkan beberapa macam kebaikan yang secara badan atau ragawi harus dilakukan, di antaranya adalah:
- Membantu melakukan orang lain berbuat taat
Hal ini bisa dilakukan dalam majelis yang dibuat selama bulan Ramadan, baik itu majelis tadarus Al-Qur-an, majelis menjelang buka puasa atau kultum ba'da subuh. Dari kegiatan itu akan selaras dengan perkataan Syekh Izzuddin bin Abdissalam:
تَعْلُيْمُ أَسْبَابِ العِبَادَاتِ وَأَرْكَانُهَا وَشَرَائِطُهَا وَسُنَّتُهَا وَآدَبُهَا، وَمَا يٌوجِبُ نَقَصَهَا وَجُبْرَانَهَا، وَمَا يَقْتَضِي إِفْسَادَهَا وَبُطْلَانَهَا
Artinya: "Mengajarkan sebab-sebab ibadah, rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, Sunnah-sunnahnya, serta adab-adabnya dan apa yang mengakibatkan tidak sempurnanya, bagaimana menambalnya dan apa yang membuat ibadah itu rusak dan batal." (Syekh Izzuddin bin Abdissalam, Syajaratul Ma'arif, [Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah. 1424 H] halaman 119)
Melalui majelis bulan Ramadan pastinya seseorang akan saling membantu melakukan ketaatan, agar ibadah mereka secara syariat benar dan diterima oleh Allah SWT. - Membantu hal yang bermanfaat duniawi atau ukhrawi
Seperti halnya, membantu memfasilitasi orang yang beri'tikaf di masjid, memberi makanan berbuka puasa, membantu ekonomi orang lain seperti sedekah dan zakat. Dipertegas juga dalam QS. Al-Maidah ayat 2 Allah SWT berfirman;
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya: "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS.Al-Maidah ayat 2) - Berakhlak baik
Di era digital saat ini, akhlak mulia dapat diwujudkan dengan menjaga tutur kata, menjauhi ujaran kebencian, menyebarkan informasi yang benar, dan memberi tanggapan yang menyejukkan. Sikap ini membangun citra diri yang baik, menciptakan ruang digital yang sehat, serta menghindarkan seseorang dari konflik sosial dan masalah hukum. Seperti Sabda Nabi Muhammad SAW tentang tidak diperbolehkan ujaran kebencian dan adu domba mencari kesalahan orang lain.
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Artinya: "Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dustanya perkataan. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, memata-matai, berkompetisi tidak sehat, saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari dan Muslim)
Walhasil, bulan Ramadan mengajarkan bahwa kebaikan merupakan investasi jangka panjang yang mungkin tidak kembali dalam bentuk yang sama, tetapi hadir sesuai kebutuhan kita. Di tengah kehidupan masyarakat, Ramadan mengajak untuk tetap bersikap lembut, karena menanam kebaikan hari ini adalah jalan paling tenang dan pasti menuju keberkahan di masa depan. Wallahu a'lam.
Istikamah Dalam Ketaqwaan Setelah Ramadan
Di antara keberkahan dakwah para ulama Nusantara adalah kesadaran umat terhadap kemuliaan bulan Ramadan. Mereka dengan masif dan kontinu menyebarkan ajaran agama tentang keutamaan bulan tersebut yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lain, sehingga antusiasme keberagamaan umat meningkat cukup signifikan.
Misalnya, ketika melihat orang terindikasi melakukan perbuatan tercela, maka akan muncul teguran: "Kalau Ramadan tidak boleh berbohong," "Kalau Ramadan tidak boleh ngomongin orang," "Kalau Ramadan tidak boleh usil," dan kalimat sejenisnya yang lain.
Dari sekian contoh teguran tersebut, apa kesan yang ditangkap? Ya, seolah-olah kalau di luar Ramadan boleh melakukan itu semua. Padahal, agama kita melarang itu semua meskipun di luar Ramadan. Namun, karena Ramadan mempunyai tempat istimewa di hati umat, maka lahirlah fenomena semacam tadi.
Maka, tugas selanjutnya bukan sekadar menjaga perbuatan baik pada bulan Ramadan, melainkan juga tetap kontinu pada bulan-bulan setelah Ramadan. Sebab, pada dasarnya Ramadan itu merupakan titik start untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang lebih taat dan bertakwa.
Dengan berpuasa, seseorang akan cenderung dapat mengontrol dirinya untuk melanggar aturan. Sebab, pada saat itu, kondisi tubuh kekurangan amunisi untuk banyak bergerak dan beraktivitas, terutama dalam bermaksiat. Oleh karena itu, kata Imam al-Ghazali di dalam Ihya' Ulumiddin juz 1 halaman 235: Orang yang berbuka puasa melakukan balas dendam dengan mengkonsumsi berbagai macam makanan, maka puasanya tidak ada manfaatnya.
Maka, ketika bulan Ramadan mencoba melatih anggota tubuh untuk tidak bermaksiat, latihan tersebut seyogyanya dijaga dan dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya. Tentu ini butuh proses dan tahapan yang cukup panjang, serta niat yang totalitas demi mencapai tujuan ini.
Jadi, bisa diurut dengan tahun ini, misalnya, fokus melatih lisan agar tidak sembarangan berbicara, apalagi yang berkaitan dengan aib orang. Tahun berikutnya bagian mata, kemudian telinga, tangan, dan seterusnya hingga seluruh anggota tubuh benar-benar dapat dijaga dari hal-hal yang dilarang agama.
Inilah yang disebut dengan konsisten atau istiqomah dalam ketakwaan. Takwa dengan arti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dapat terealisasi dengan baik dengan keberkahan Ramadan selaku momen penggemblengan diri. Hal ini juga akan selaras dengan firman Allah SWT:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka konsisten (istiqomah dengan ucapan tersebut), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan berikanlah berita gembira kepada mereka dengan (pahala) surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian'," (QS. Fussilat: 30).
Seorang mukmin yang konsisten dengan perkataannya sebagaimana dalam ayat tadi, maka ia tidak akan memilah-milih bulan untuk taat kepada Allah. Baginya, semua bulan sama saja sehingga harus selalu menghindari maksiat.
Hanya saja, karena kebanyakan umat Islam tidak konsisten antara perkataan dan perbuatannya, maka setidaknya mulai Ramadan saat ini, marilah tekadkan bulat untuk memperbaiki diri sendiri. Kita upayakan semaksimal mungkin dengan mengerem anggota tubuh ketika hendak melakukan dosa, kemudian dilatih untuk beristiqomah.
Dengan demikian, maka menjadi mungkin akan termasuk dalam kategori hadits Nabi SAW riwayat al-Bukhari dan Muslim:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: "Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah yang paling istiqomah pengerjaannya meskipun sedikit."
Maka, ketika setelah Ramadan tahun ini hanya bisa menjaga lisan, misalnya, itu tidak masalah bahkan disukai Allah karena dilakukan secara istiqomah. Begitu juga amal ibadah lain, meskipun hanya sedikit, namun Allah menilainya bukan dari segi kuantitas melainkan dari sisi totalitasnya sehingga dilakukan secara istiqomah.
Pelan tapi pasti, perbuatan yang dilakukan secara istiqomah itu akan menjadi tabiat dan kebiasaan. Sebagaimana lumrahnya kebiasaan, ketika ditinggalkan sekali saja akan terasa janggal, aneh, dan tidak nyaman, entah itu kebiasaan baik maupun kebiasaan buruk.
Akhirnya, bulan Ramadan dapat menjadi momen paling tepat untuk memulai kebiasaan baik (ketakwaan), sehingga ketika bulan itu berlalu, kebiasaan tersebut tetap dilakukan, bahkan bisa terus sepanjang hayat karena sudah mendarah daging.
Merawat Semangat Ibadah Setelah Ramadan
Bulan suci Ramadan tahun ini tak terasa hampir pergi. Padahal, seakan baru kemarin ia menyapa kita. Ia berjalan seperti angin, berlalu begitu cepat. Tapi sayang, kita terlalu santai dan lambat meresponsnya, tidak memanfaatkan waktu bersamanya dengan baik. Bahkan banyak waktu terlewati begitu saja. Banyak amalan yang luput, kadang kita juga melewati hari-hari Ramadan ini seperti hari-hari biasa di bulan lain.
- Potret Para Sahabat dan Ulama Salaf ketika Berada di Penghujung Ramadan
Dalam kitab Lathaiful Ma'arif, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, menyatakan bahwa para sahabat dan ulama salaf adalah orang-orang yang paling antusias dalam menyempurnakan dan melakukan hal terbaik dalam beramal.
Selain itu, mereka juga sangat antusias agar amal mereka diterima dan merasa takut jika amal tersebut ditolak. Mereka itulah sekelompok manusia yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an melalui firman-Nya:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Artinya: "Dan orang-orang yang memberikan sesuatu yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka," (QS. al-Mu'minun: 60).
Menurut Imam Ibnu Rajab, para sahabat dahulu berdoa selama enam bulan sebelum Ramadan agar Allah mempertemukan mereka dengannya, dan enam bulan setelahnya mereka berdoa agar amal mereka diterima, (Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma'arif, [Beirut, Dar Ibnu Hazm: 1424 H], hlm. 209). - Setelah Ramadan: Menjaga Semangat Ibadah Sepanjang Tahun
Bulan suci Ramadan itu bagaikan seorang kekasih, yang kehadirannya selalu dinantikan dan kepergiannya selalu membuat kesedihan serta kerinduan. Maka tidak mengherankan, jika tiba saatnya harus berpisah dengan Ramadan, para sahabat dan ulama salaf bersedih, berharap agar dapat dipertemukan lagi dengan bulan Ramadan tahun depan. Oleh karena itu, Imam Ibnu Rajab, dalam kitab Lathaiful Ma'arif-nya berkata:
كَيْفَ لَا تَجْرِيْ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِ رَمَضَان دُمُوْعٌ؟ وَهُوَ لَا يَدْرِيْ هَلْ بَقِيَ لَهُ في عُمرِهِ إليه رُجُوعٌ
Artinya: "Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadan, sementara ia tak tahu pasti, apakah di sisa umurnya masih bisa berjumpa dengan bulan suci tersebut," (hlm. 217).
Akan tetapi yang lebih penting dari pada itu semua adalah jangan sampai ungkapan kesedihan dan tangisan kita dengan perginya bulan Ramadan adalah hanya kepura-puraan saja atau sekedar ikut-ikutan saja. Kita buktikan perpisahan dengan bulan Ramadan dengan tetap melakukan ibadah-ibadah yang sudah sering dilakukan di bulan Ramadan atau minimal tidak kita tinggalkan secara total.
Bahkan Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya berjudul Nihayatuz Zain fi Irsyad al-Mubtadi'in, menyatakan bahwa salah satu dari kesepuluh amaliah sunah Ramadan adalah melanjutkan amaliah-amaliah yang telah dilakukan di bulan Ramadan di bulan-bulan berikutnya (Nihayahtuz Zain, [Beirut, Darul Kutub al-Islamiyyah: tt], hlm. 190). Oleh karena itu, Sayyid Abdullah al-Haddad juga pernah berkata,
لاَ تَسْكُب الدَّمَعَاتِ لِرَحِيْلِ رَمَضَانَ، فَرَمَضَانُ سَيَعُوْدُ، وَلَكِن اسْكُبْ الدَّمَعَاتِ خَشْيَةَ أَنْ يَعُودَ رَمَضَانُ وَ أنْتَ رَاحِلٌ
Artinya: "Kau tak perlu menyucurkan air mata karena kepergian Ramadan, sebab bulan Ramadan pasti akan kembali. Tapi cucurkanlah air mata karena khawatir ketika Ramadan datang kembali, tapi kau telah pergi (sudah meninggal/ belum meninggal tapi telah pergi dari sebuah ketaatan)." - Masih Ada Asa Agar Semua Tak Sia-sia
Sejatinya, sebelum bulan Ramadan pergi, kita masih mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan target-target yang belum terlaksana, walaupun waktu yang tersisa begitu singkat, seperti mengkhatamkan al-Qur'an, memperbanyak sedekah, dan lain sebagainya.
Kalau kita ibaratkan, hari-hari akhir Ramadan ini seperti babak final dalam sebuah kompetisi, para peserta semakin sedikit. Hanya mereka yang bersungguh-sungguh dan istiqamah berhasil lolos dari babak sebelumnya.
Layaknya seekor kuda pacu, yang mana jika sudah mendekati garis finish, ia akan mengerahkan segenap tenaganya untuk meraih kemenangan. Oleh karena itu, jika kita merasa tak baik dalam menyambut bulan Ramadan, maka marilah melakukan yang baik di detik-detik perpisahan dengannya. - Do'a Akhir Ramadan
Syekh Mutawalli asy-Sya'rawi dalam salah satu kesempatan pernah berkata dengan mengutip sebuah hadits, bahwa Nabi Muhammad SAW ketika berpisah dengan bulan suci Ramadan berdoa sebagai berikut:
أَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا
Artinya: "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan bulan Ramadan tahun ini sebagai bulan Ramadan terakhir dalam hidupku. Namun, jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadan terakhir bagiku, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan aku orang yang Engkau murkai."
Lalu, Syekh Mutawalli asy-Sya'rawi mengutip riwayat dari sahabat Jabir bin Abdillah RA, dari Nabi Muhammad SAW, bahwa barang siapa yang membaca doa ini di malam terakhir bulan Ramadan, maka ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: yakni menjumpai bulan Ramadan mendatang atau pengampunan dan rahmat Allah. Wallahu a'lam.
Menghidupkan Hati di Akhir Ramadan
Ramadan ibarat tamu agung yang sedang mengemasi barang-barangnya, bersiap untuk pamit meninggalkan tuan rumah. Ada rasa haru yang menyelinap, namun sering kali rasa itu tertutup oleh hiruk-pikuk persiapan menyambut hari raya. Pasar-pasar ramai, dapur-dapur mengepul, dan suasana fisik tampak begitu hidup.
Namun, di tengah gemerlap lampu dan suara takbir yang sebentar lagi menggema, ada satu pertanyaan senyap yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri: Apakah hati kita benar-benar hidup, atau hanya suasana di sekitar kita yang hidup?
Puasa bukan sekadar menahan lapar dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, Ramadan adalah madrasah ruhani yang tujuan utamanya adalah ihyaul qalb, menghidupkan hati yang mungkin selama sebelas bulan sebelumnya mati suri akibat kelalaian dan dosa.
- Antara Hati yang Hidup dan Mati Al-Qur'an
Memberikan ilustrasi tentang perbedaan orang yang hatinya hidup dengan cahaya iman dan mereka yang hatinya mati dalam kelalaian. Allah swt berfirman:
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
Artinya: "Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?" (QS Al-An'am: 122).
Ayat menyadarkan kita bahwa kematian yang paling mengerikan bukanlah perpisahan nyawa dari badan, melainkan padamnya cahaya iman di dalam hati.
Imam Al-Baidhawi menjelaskan, Allah membuat perumpamaan ini bagi orang yang Dia beri petunjuk dan Dia selamatkan dari kesesatan. Allah menjadikan baginya cahaya hujah dan ayat-ayat-Nya, yang dengannya ia mampu merenungi hakikat segala sesuatu, sehingga ia bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil. (Anwar al-Tanzil, [Beirut,. Dar Ihya al-Turath al-Arabi: 1418 H ], juz II, halaman 180).
Ramadan sejatinya hadir sebagai air kehidupan untuk menyiram hati yang gersang agar kembali subur dengan cahaya pembeda tersebut. Jika di penghujung bulan ini hati kita masih terasa keras, pandangan batin kita masih kabur dalam melihat kebenaran, serta masih berat melakukan ketaatan, maka sesungguhnya kita sedang dalam bahaya besar. - Hati sebagai Raja
Pentingnya merawat kondisi batin ini ditegaskan oleh Rasulullah saw, hati adalah pusat komando seluruh aktivitas tubuh. Baik buruknya perilaku kita pasca-Ramadan sangat bergantung pada kondisi segumpal darah ini. Nabi saw bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: "Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ingatlah, ia adalah hati." (HR Al- Bukhari dan Muslim). - Tangisan Hati Para Ulama Salaf
Tanda hati yang hidup di akhir Ramadan adalah adanya rasa takut amal tidak diterima, sekaligus rasa rindu yang mendalam karena akan berpisah dengan bulan mulia ini.
Ibnu Rajab al-Hanbali menggambarkan bagaimana para Salafus Shalih sangat khawatir pada nasib amal mereka. Beliau mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib ra:
كُونُوا لِقَبُولِ الْعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِالْعَمَلِ، أَلَمْ تَسْمَعُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Artinya: "Jadilah kalian orang yang lebih mementingkan diterimanya amal daripada banyaknya amal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: 'Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa." (Latha'iful Ma'arif, [Beirut, Dar Ibn Hazm:1424 H], halaman 209).
Inilah ciri hati yang hidup. Tidak bangga dengan banyaknya puasa dan tarawih, melainkan cemas apakah persembahan itu layak diterima Sang Raja. Bahkan, Ibnu Rajab menyebutkan syair yang menyayat hati tentang perpisahan dengan Ramadan:
كَيْفَ لَا تَجْرِيْ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِ رَمَضَان دُمُوْعٌ، وَهُوَ لَا يَدْرِيْ هَلْ بَقِيَ لَهُ في عُمرِهِ إليه رُجُوعٌ
Artinya: "Bagaimana bisa air mata seorang mukmin tidak menetes saat berpisah dengan Ramadan, sementara ia tidak tahu apakah di sisa umurnya masih ada kesempatan untuk kembali bertemu Ramadan?" (Al-Hanbali, 217). - Kewaspadaan Hati Setelah Ramadan
Seringkali kita bertanya, mengapa hati yang terasa begitu bening dan lembut saat Ramadan, tiba-tiba kembali keras dan gersang begitu Syawal tiba?
Imam al-Ghazali memberikan analogi yang sangat cerdas untuk menjawab fenomena ini. Ia mengibaratkan hati manusia seperti sebuah cermin. Ketaatan adalah alat pemolesnya, sedangkan dosa adalah asap hitam yang menutupinya. Ia menulis:
فَطَاعَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ بِمُخَالَفَةِ الشَّهَوَاتِ مِصْقَلَةٌ لِلْقَلْبِ. وَأَمَّا الْآثَارُ الْمَذْمُومَةُ فَإِنَّهَا مِثْلُ دُخَانٍ مُظْلِمٍ يَتَصَاعَدُ إِلَى مِرْآةِ الْقَلْبِ
Artinya: "Maka ketaatan kepada Allah swt dengan menahan syahwat adalah pemoles bagi hati. Adapun dosa-dosa, ia ibarat asap gelap yang naik menutupi cermin hati." (Ihya', [Beirut, Dar al-Ma'rifah: tt], juz III, halaman 12).
Selama Ramadan, puasa kita berfungsi sebagai misqalah alat pemoles yang membersihkan karat-karat dosa sehingga hati memantulkan cahaya hidayah. Namun, jika usai Ramadan kita kembali membiarkan asap maksiat mengepul, melalui mata yang tak dijaga, lisan yang tak dikontrol, dan ibadah yang ditinggalkan, maka cermin itu akan kembali tertutup jelaga hitam.
Inilah yang disebut matinya hati: bukan karena ia berhenti berdetak, tapi karena ia tak lagi mampu memantulkan cahaya Tuhan. Oleh karena itu, tanda hidupnya hati bukanlah kegembiraan yang berlebihan saat lebaran, melainkan kewaspadaan spiritual yang terus menerus.
Imam Hasan al-Basri memberikan nasihat yang sangat mendalam mengenai kondisi batin seorang mukmin sejati, sebagaimana dikutip oleh Abu Nu'aim:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُصْبِحُ حَزِينًا وَيُمْسِي حَزِينًا وَلَا يَسَعُهُ غَيْرُ ذَلِكَ؛ لِأَنَّهُ بَيْنَ مَخَافَتَيْنِ: بَيْنَ ذَنْبٍ قَدْ مَضَى لَا يَدْرِي مَا اللهُ يَصْنَعُ فِيهِ، وَبَيْنَ أَجَلٍ قَدْ بَقِيَ لَا يَدْرِي مَا يُصِيبُ فِيهِ مِنَ الْمَهَالِكِ
Artinya: "Sesungguhnya seorang mukmin itu pada pagi hari bersedih dan pada sore hari pun bersedih, dan tidak ada kelapangan baginya selain itu. Karena ia berada di antara dua ketakutan: antara dosa yang telah lalu yang ia tidak tahu apa yang akan Allah perbuat padanya (diampuni atau tidak), dan antara ajal yang tersisa yang ia tidak tahu bahaya apa yang akan menimpanya." (Hilyatul Auliya, [Mesir, Matba'ah as-Sa'adah: 1394 H], juz I, halaman 143). - Jangan Biarkan Cahaya Itu Padam
Inilah esensi menghidupkan hati. Ia tidak berhenti berdetak dalam ketaatan hanya karena Ramadan telah usai. Ia terus waspada, terus berharap, dan terus memoles cermin hatinya dengan istighfar dan amal saleh.
Di penghujung waktu yang mulia ini, mari kita lakukan muhasabah yang jujur. Carilah sudut sepi di malam hari, bersimpuhlah, dan mintalah kepada Allah agar Dia tidak mematikan hati kita setelah memberinya kehidupan selama Ramadan. Kita tutup renungan ini dengan doa:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya, "Ya Tuhan kami, terimalah daripada amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."
Selamat jalan Ramadan, semoga cahayamu tetap menyala di hati kami hingga akhir hayat. Wallahu a'lam bisshawab.
(dpw/dpw)










































