Ada sebuah pawai atau perayaan yang amat dinantikan sehari sebelum Nyepi. Acara itu adalah pawai ogoh-ogoh. Wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri rela datang untuk menyaksikan keseruan pawai ogoh-ogoh di Bali. Meski begitu, ada juga pawai ogoh-ogoh di luar Bali karena banyaknya masyarakat Hindu di tempat tersebut.
Menurut Prof. Made Surada dalam buku 'Ogoh-Ogoh: Tradisi Budaya Bali Yang Mendunia Sejarah dan Perkembangannya di Kota Denpasar' (2025).kata ogoh-ogoh berasal dari Bahasa Sanskerta. Diambil dari kata "Goh" yang berarti besar. Ogoh-ogoh bermakna sebagai objek yang memiliki ukuran dua kali lipat dari ukuran objek sesungguhnya. Objek yang dibuat serupa ukuran asli disebut sebagai kemplong-kemplongan/boneka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ogoh-ogoh berbeda dengan patung. Ciri pembeda yang jelas adalah bahan yang digunakan. Ogoh-ogoh merupakan objek tiga dimensi yang dibuat dari bahan padat dan lentur yang dilapisi kain, kertas, ditempelkan bulu-bulu seperti rambut. Bentuk Ogoh-ogoh biasanya adalah wujud dewa, bhuta kala, manusia, binatang, atau perpaduan manusia dan binatang.
Sejarah Pawai Ogoh-Ogoh di Bali
Dokumentasi tertua mengenai ogoh-ogoh adalah film dokumenter hitam putih yang dibuat oleh Miguel Covarrubias pada 1937. Film tersebut memperlihatkan sebuah ogoh-ogoh berjalan paling depan dengan bentuk Barong Landung, tetapi memiliki kepala dengan bentuk bhuta kala di prosesi Ngaben.
Presiden Soeharto menetapkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 3 Tahun 1983 tentang Hari Raya Nyepi sebagai Hari Libur Nasional. Sejak itu, masyarakat Bali merayakannya dengan pawai ogoh-ogoh. Ide tersebut berangkat dari arahan Gubernur Bali Ida Bagus Mantra. Pawai Ogoh-ogoh dilakukan saat hari Pengerupukan dalam rangkaian pelaksanaan Tawur Kesanga, satu hari sebelum dilakukannya Catur Brata Penyepian.
Sejak itu, pawai ogoh-ogoh makin dimeriahkan dengan adanya Pesta Kesenian Bali (PKB) dan mulai dilombakan sejak 1990. Pemkot Denpasar mengadakan lomba dan parade Ogoh-ogoh pada 2004-2006 yang bertepatan dengan HUT Kota Denpasar. Beberapa tahun terakhir ini dilakukan pada rangkaian Kasanga Festival di Catus Pata Catur Muka Kota Denpasar. Karya ogoh-ogoh dari Seka Teruna Dharma Castra Banjar Tengah Sidakarya dengan judul Wit-Kawit menjadi juara Ogoh-ogoh pada Kasanga Festival 2026.
Ogoh-ogoh yang semula adalah objek tiga dimensi statis kini telah berkembang canggih. Sebagian besar ogoh-ogoh kini dimasukkan teknologi penggerak sehingga membuatnya seolah-olah hidup. Pawai ogoh-ogoh yang semula adalah sukacita perayaan menuju nyepi telah menjadi daya tarik wisata dan ekonomi.
(hsa/hsa)










































