detikBali

Keripik Ayam Biru Berkembang berkat Klaster Hidupku BRI

Terpopuler Koleksi Pilihan

Keripik Ayam Biru Berkembang berkat Klaster Hidupku BRI


Gangsar Parikesit - detikBali

Pendiri Keripik Ayam Biru, Ni Luh Sri Wahyuningsih, beserta tiga anggotanya di Denpasar, beberapa waktu lalu.
Pendiri Keripik Ayam Biru, Ni Luh Sri Wahyuningsih, beserta tiga anggotanya di Denpasar, beberapa waktu lalu. Foto: dok. BRI Region 17/Denpasar
Denpasar -

Ni Luh Sri Wahyuningsih adalah salah satu ibu rumah tangga yang ikut membantu perekonomian keluarga. Dari rumahnya di Desa Kesiman Petilan, Denpasar, Bali, perempuan yang akrab disapa Sri ini memulai usaha keripik ayam tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu rumah tangga.

Sri mulai merintis usaha keripik ayam sejak 2017. Saat itu, ia hanya ingin membantu menambah penghasilan keluarga tanpa meninggalkan kewajibannya di rumah. "Awalnya saya sendiri yang membuat keripik ini," tuturnya melalui keterangan tertulis Selasa (26/5/2026).

Perlahan, usaha keripik yang diberi nama Keripik Ayam Biru itu berkembang. Pada 2019, salah satu mantri BRI yang dikenalnya memberikan saran agar usaha tersebut dibentuk menjadi klaster usaha. Sri pernah menjadi nasabah KUR.

"Saya didampingi untuk membuat klaster dengan anggota ibu-ibu di sekitar sini dan akhirnya terbentuk Klaster Kripik Ayam Biru," terang Sri.

Kini, terdapat 28 anggota yang ikut memproduksi camilan keripik ayam itu. Sri dan ibu-ibu di Kesiman Petilan mampu memproduksi hingga 400 kilogram keripik ayam.

Keripik Ayam Biru dijual dengan berbagai kemasan seperti eceran hingga kiloan. Camilan tersebut juga dijual melalui marketplace, toko snack, hingga grosir. Harga keripik ayam ukuran 1,5 kilogram dijual Rp 100 ribu, sedangkan 500 gram dijual Rp 40 ribu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Sri, tantangan dalam pengembangan Keripik Ayam Biru adalah harga bahan baku seperti ayam, bumbu, dan tepung yang fluktuatif. "Selain itu, kadang ada anggota yang banyak libur, karena di Bali ini kan ada banyak acara keagamaan yang mengharuskan untuk libur. Akibatnya kami sering menolak orderan yang masuk dengan berat hati," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Sri dan anggota klaster rutin mengikuti berbagai pelatihan yang diberikan BRI. Mulai dari pelatihan branding, packaging, hingga pemasaran yang membantu mereka memahami bagaimana membangun usaha yang lebih profesional. Bahkan, bank pelat merah itu kerap mengajak Keripik Ayam Biru mengikuti pameran UMKM BRI sehingga camilan rumahan itu semakin dikenal.

Menurut Sri, pendampingan yang diberikan BRI melalui program Klasterku Hidupku membawa banyak perubahan bagi usahanya. Tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga kualitas produk dan cara menjalankan bisnis.

Sri bersyukur Keripik Ayam Biru mampu membantu meningkatkan perekonomian para anggota klaster. Usaha rumahan tersebut bukan sekadar tempat produksi camilan, tapi juga ruang bertumbuh bersama bagi para ibu rumah tangga di lingkungan sekitar. "Berkat pendampingan BRI, kami yang awalnya tidak tahu apa-apa jadi belajar banyak hal," tuturnya.

Pemimpin Kantor Cabang BRI Gajah Mada Denpasar, Janarka Dwi Atmaja, mengungkapkan program Klasterku Hidupku dirancang sebagai pendekatan pemberdayaan yang mendorong UMKM naik kelas, khususnya bagi pelaku usaha di sektor produksi yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Melalui penguatan klaster, Janarka melanjutkan, BRI tidak hanya menghubungkan pelaku usaha dengan akses permodalan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang memungkinkan terjadinya kolaborasi, peningkatan skala produksi, hingga penguatan daya saing di tingkat lokal. "Hingga saat ini, di BRI Kantor Cabang Gajah Mada Denpasar terdapat 21 klaster usaha yang bergabung dalam program Klasterku Hidupku," imbuhnya.




(gsp/dpw)










Hide Ads