detikBali

Dari Petani ke Sopir Sampah, Perjuangan Agus di Denpasar

Terpopuler Koleksi Pilihan

Dari Petani ke Sopir Sampah, Perjuangan Agus di Denpasar


Ahmad Firizqi Irwan - detikBali

Antrean truk sampah di TPA Suwung, Senin (2/3/2026) sore.
Antrean truk sampah di TPA Suwung, Senin (2/3/2026) sore. (Foto: Ahmad Firizqi Irwan/detikBali)
Denpasar -

Suara mesin truk kembali terdengar di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung, Senin (2/3/2026). Setelah berhari-hari menunggu kepastian, para sopir truk sampah dari wilayah Denpasar-Badung akhirnya bisa kembali membuang muatan mereka.

Sehari sebelumnya, TPA Suwung sempat dinyatakan tutup dan tidak beroperasi. Kejelasan yang datang hari ini menjadi angin segar bagi puluhan sopir yang sudah lama menanti giliran.

Salah satunya Agus (29). Pria asal Situbondo, Jawa Timur, itu mengaku sudah lima hari menunggu untuk membuang sampah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iya lima hari mas, yang seminggu ada. Tetap disini nungguin. Takutnya ada kehilangan apa-apa, jadi ditungguin," jelas Agus saat ditemui di lokasi.

Sejak berhenti menjadi petani di kampung halamannya, Agus memilih menjadi sopir truk sampah. Ia mengaku sempat kesulitan mencari pekerjaan. Saat kesempatan datang, ia menerimanya tanpa banyak pertimbangan.

ADVERTISEMENT

"Sudah 12 tahun sebagai supir truk sampah ini. Sebelumnya petani di kampung. Untuk penghasilan ya ada aja, selain kerjaan ini nggak ada, ya cuma ngantar gini aja," terangnya.

Dalam sehari, Agus memperoleh upah Rp 50 ribu. Jumlah itu ia syukuri. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga soal tanggung jawab terhadap lingkungan.

Setiap hari, Agus mengambil sampah dari wilayah Banjar Tegal Gundul dan sekitar Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung. Ia mengemudikan truk, sementara rekan-rekannya mengangkut sampah ke atas bak kendaraan.

Agus, salah satu sopir truk sampah yang mengantre menuju TPA Suwung.Agus, salah satu sopir truk sampah yang mengantre menuju TPA Suwung. Foto: Firizqi Irwan/detikBali

Dalam sekali angkut, truk yang dibawanya bisa memuat hingga lima ton sampah, bahkan lebih.

Sebelum penutupan, pengambilan sampah bisa dilakukan dua kali dalam seminggu. Namun setelah kebijakan pembatasan, jadwal berubah drastis menjadi sebulan sekali.

"Ya sebulan sekali sudah, kalau sudah dibuka ini, mungkin dua kali sebulan," ungkap Agus sembari mendengarkan musik melalui headset.

Terlambatnya pengambilan sampah kerap memicu keluhan warga. Agus mengaku komplain hampir selalu datang, terutama saat sampah menumpuk mendekati satu bulan.

Perjalanan menuju TPA Suwung pun bukan perkara singkat. Dari Desa Tibubeneng, truk yang ia kemudikan membutuhkan waktu lebih dari satu jam, belum termasuk kemacetan dan antrean saat pembuangan.

"Belum lagi macetnya, nunggu giliran saat pembuangan sampah," serunya.

Meski begitu, Agus berharap TPA Suwung bisa terus beroperasi agar pelayanan pengangkutan sampah kembali normal.

"Mudah-mudahan buka terus, situasi juga aman terkendali," pungkasnya.

Harapan serupa disampaikan Toha, sopir asal Probolinggo, Jawa Timur, yang tinggal di Jalan Gunung Salak, Denpasar Barat. Ia juga terdampak penantian panjang untuk membuang sampah.

"Ya harapannya, ini bisa terus buka, biar tidak ada kemacetan, situasinya juga aman," jelasnya.

Toha mengaku kondisi keuangannya cukup terkuras selama menunggu. Meski begitu, ia tetap bertahan dan berusaha memberikan pelayanan terbaik saat TPA kembali dibuka.

"Ya, komplain, tapi mau gimana situasinya seperti ini. Tapi kalau sudah buka, kita upayakan yang terbaik lah," katanya sembari menyeruput kopi.




(dpw/dpw)










Hide Ads