Populasi Burung Jalak Bali di TNBB Meningkat 100 Ekor Per Tahun

Jembrana

Populasi Burung Jalak Bali di TNBB Meningkat 100 Ekor Per Tahun

I Putu Adi Budiastrawan - detikBali
Kamis, 10 Nov 2022 02:35 WIB
Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) atau Curik Bali yang akan dilepasliarkan di TNBB, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Rabu (09/11/2022).
Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) atau Curik Bali yang akan dilepasliarkan di TNBB, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Rabu (09/11/2022). Foto: I Putu Adi Budiastrawan/detikBali
Jembrana -

Populasi Burung Jalak Bali kini meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Hewan endemik asli Pulau Dewata ini rata-rata mengalami peningkatan di wilayah kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Jembrana, hingga 100 ekor dalam waktu satu tahun.

Lingkungan di kawasan Taman Nasional, serta kesadaran masyarakat tentang keberadaan burung yang dikenal dengan nama Curik Bali ini, menjadi beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan burung yang terancam punah di kawasan Taman Nasional ini.

"Habitat di Taman Nasional ini masih mendukung untuk populasi Jalak Bali, namun karena hutan sebagian adalah hutan musim, dan tidak ada sumber air, sehingga ketika musim kemarau pasti akan berpindah, bahkan sekarang sudah ke kebun-kebun warga penyanding," papar Kepala Balai TNBB, Agus Ngurah Krisna Kepakisan, Rabu (09/11/2022).


Jumlah populasi Jalak Bali di TNBB hingga bulan November 2022 mencapai 560 ekor. "Dari awal tahun 2001 enam ekor saja, kini di tahun 2022 sudah 560 ekor. Namun dari jumlah tersebut, ada sekitar 82 ekor di luar kawasan Taman Nasional, artinya ada di kebun hingga pekarangan masyarakat. Jadi sisanya 478 masih ada di dalam kawasan," paparnya.

Kalau perkembangan Jalak Bali di alam, imbuh Agus, rata-rata dalam satu tahun sekitar 100 ekor. "Kalau anakan yang terpantau dan didata di alam itu dari bulan Mei 2021 hingga Mei 2022 ada sekitar 49 ekor, masih banyak lagi yang belum terpantau karena penyebarannya luas sekali, asal usulnya kan mulai dari Singaraja sampai Jembrana," jelasnya.

Disinggung mengenai ancaman keberadaan Jalak Bali ini, Agus menjelaskan, ancaman terkait keberhasilan anakan burung tersebut di antaranya predator seperti ular, monyet, dan lebah yang masuk ke dalam sarang.

"Untuk predator lain seperti manusia, sudah kami lakukan monitoring dan pencegahan adanya perburuan. Masyarakat juga sudah mulai sadar mengenai keberadaan burung ini, bahkan jika ditemukan, warga segera melaporkannya," ujarnya.

Mengenai penangkaran oleh masyarakat, Agus menambahkan, paling banyak di Jawa Tengah sampai ribuan ekor. Penangkaran masyarakat juga diawasi Balai Konservasi dan wajib melakukan pengembalian 10 persen dari hasil penangkaran

"Tadi baru saja kami melakukan pelepasliaran sebanyak sepuluh ekor hasil penangkaran, dan ada dua ekor yang diserahkan masyarakat," katanya.

Selain faktor-faktor di atas, lanjut Agus, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga sangat memfasilitasi perizinan penangkaran, sehingga hal itu menjadi salah satu faktor keberhasilan burung Curik Bali di alam.

"Untuk total populasi di TNBB sendiri tercatat di antaranya sebanyak 215 jenis burung, 18 jenis mamalia, 980 ekor rusa, kera hitam, trenggiling, reptil 14 jenis. Sementara untuk Harimau Bali serta Banteng Bali sudah punah dari tahun 1980," tandas Agus.



Simak Video "Jalak Bali, Burung Endemik Bali yang Terancam Punah"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/hsa)