Peristiwa 1965 dan Sisa Trauma Masyarakat Bali

Peristiwa 1965 dan Sisa Trauma Masyarakat Bali

Made Wijaya Kusuma - detikBali
Sabtu, 01 Okt 2022 22:53 WIB
Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) I Made Pageh
Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) I Made Pageh.(Made Wijaya Kusuma/detikBali)
Buleleng -

Pembunuhan massal pada 1965 di Bali menyisakan trauma tersendiri, terutama bagi para keluarga korban. Lantas, bagaimana peristiwa itu dari sisi Studi Sejarah?

Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) I Made Pageh menjelaskan pembantaian terhadap simpatisan atau terduga Partai Komunis Indonesia (PKI) di Bali pada 1965 silam merupakan salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di negeri ini. Masyarakat Bali sering menyebut peristiwa itu dengan istilah Gestok (Gerakan 1 Oktober). Mereka yang dituding anggota PKI dibunuh, dibantai.

"Pembantaian baru terjadi setelah tanggal 1 Oktober, sebelumnya itu belum ada kalau ada paling konflik kecil saja. Pembantaian lebih banyak terjadi di Bali, dan Jawa terutama Jawa Timur," tutur Pageh kepada detikBali, Rabu (28/9/2022).


Menurut Pageh, PKI saat itu merupakan partai terbesar kedua di Bali setelah Partai Nasional Indonesia (PNI). Menurutnya, PKI menarik perhatian masyarakat dengan menggandeng kaum intelektual seperti para guru. Simpatisan PKI, kata Pageh, juga masuk ke desa-desa dengan menampilkan beragam kesenian.

"Banyak juga orang yang disebut PKI, tidak tahu menahu apa itu PKI dan lain sebagainya. Dia tidak mengerti bahwa apa yang dia ikuti itu adalah sesuatu yang mengakibatkan pembunuhan terjadi," imbuhnya.

Itulah sebabnya, pembunuhan massal pada 1965 menjadi peristiwa yang traumatis bagi masyarakat Bali. Bukan hanya karena pembantaiannya, melainkan juga adanya stigma dari masyarakat terhadap terduga PKI dan keturunannya terus melekat hingga akhir Orde Baru. Mereka yang diketahui memiliki darah keturunan PKI kerap dikucilkan dalam pergaulan hingga saat melamar pekerjaan.

"Ingatan bagi orang Bali terkait dengan peristiwa G30S menjadi ingatan traumatis, terutama terkait stigma yang dimunculkan, karena ada eks PKI, eks merah, dan lain sebagainya," kata Pageh.

Traumatisme terhadap peristiwa 1965 itu diakui oleh Agung Alit dari Kesiman, Denpasar. Ayah Agung Alit bernama I Gusti Made Raka turut dibunuh dan dituduh PKI dalam peristiwa kelam itu. Selain itu, rumah keluarga Agung Alit juga diratakan. Peristiwa itu membuat ibu dan bibinya kerap ketakutan.

"Di keluarga kami, hampir semua trauma, terutama yang umur di atas saja," tutur Agung Alit, Jumat (30/9/2022).

Menurut Agung Alit, dirinya tidak bisa terus hidup dalam ketakutan. Ia bersama kakaknya sekeluarga memilih untuk terbuka dan mengakui bahwa ayahnya dibunuh karena dituduh PKI.

"Bagi saya tidak lebih baik daripada terus terang, akui saja terus terang agar tidak ada beban," ungkapnya.

Untuk diketahui, Bali disebut sebagai salah satu provinsi dengan jumlah korban pembantaian terbesar pada 1965-1966 silam. Menurut Geoffrey Robinson dalam bukunya berjudul Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasan Politik, setidaknya ada sebanyak 80.000 orang yang menjadi korban pembantaian di Bali pada periode Desember 1965 dan awal 1966.



Simak Video "Kronologi Penangkapan Pencuri di Jembrana yang Libatkan ODGJ"
[Gambas:Video 20detik]
(iws/irb)