TPA Butus Dibatasi, Warga Desa Bebandem Buang Sampah Lagi ke Sungai

I Wayan Selamat Juniasa - detikBali
Jumat, 24 Jun 2022 17:23 WIB
Masyarakat Desa Bebandem kembali membuang sampah di dekat sungai semenjak ada larangan mengirim sampah ke TPA Butus
Masyarakat Desa Bebandem kembali membuang sampah di dekat sungai semenjak ada larangan mengirim sampah ke TPA Butus. Foto: ist
Karangasem -

Semenjak ada pembatasan untuk mengirim sampah campuran ke TPA Butus, beberapa desa yang tidak memiliki solusi pengolahan sampah secara mandiri menjadi kelimpungan. Hal itu membuat beberapa warga justru kembali buang sampah ke sungai.

Salah satu desa yang selama ini mengirim sampah ke TPA Butus adalah Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem. Pihak desa untuk sementara menginstruksikan agar warganya mengelola sampah secara mandiri di rumah masing-masing.

"Sampai saat ini kita masih belum punya solusi. Karena selama ini biasanya kita mengirim sampah ke TPA Butus tapi sekarang ada pembatasan. Kita bingung juga tapi akan secepatnya dicarikan solusi dan rencananya kita juga akan mengadakan rapat dengan pihak desa adat untuk membahas permasalahan ini," kata Perbekel Desa Bebandem I Gede Pertadana, Jumat (24/6/2022).


Pertadana mengatakan semenjak ada pembatasan, kini beberapa orang warganya kembali membuang sampah ke sungai yang masih aktif. Padahal saat masih dibolehkan mengirim semua jenis sampah ke TPA Butus, sungai sudah bersih karena semua sampah rumah tangga diangkut untuk selanjutnya dikirim ke TPA Butus.

"Ini yang kita takutkan, jika semakin banyak masyarakat yang buang sampah ke sungai takutnya sungai akan tercemar. Sehingga kita harus gerak cepat untuk mencarikan solusi," ujar Pertadana.

Ia juga mengatakan sebenarnya di Desa Bebandem ada sebuah pasar milik pemerintah Kabupaten Karangasem, Pasar Desa dan Pasar Desa Adat yang sampahnya lumayan banyak tiap harinya.

"Mengolah sampah bukan masalah yang gampang, ada banyak persiapan yang harus dilakukan mulai dari menyiapkan lahan. Tenaga dan yang lainnya sementara anggaran yang ada di desa banyak yang di refocusing akibat pandemi COVID-19. Kita hanya berharap ada pemakluman sedikit dari pemerintah karena dengan jangka waktu satu bulan yang diberikan itu terlalu singkat untuk kami menyiapkan semuanya," kata Pertadana.

Meskipun demikian, Pertadana mengaku sangat mendukung kebijakan dari pemerintah terkait pengolahan sampah berbasis sumber. Hanya saja pihaknya meminta waktu untuk menyiapkan semuanya karena mengelola sampah berbasis sumber tidak gampang.

"Lahan menjadi hal yang paling harus kita pikirkan karena kita harus mencari lokasi yang tepat. Kita juga harus minta persetujuan dengan warga yang lokasi rumahnya dekat dengan lahan yang akan kita jadikan tempat pengolahan sampah. Jadi waktu satu bulan yang diberikan ke kita saya kira masih kurang jadi saya berharap waktunya bisa diperpanjang," kata Pertadana.



Simak Video "Ekspedisi Pencinta Lingkungan Berburu Jaring Hantu di Laut Hawaii "
[Gambas:Video 20detik]
(nor/nor)