detikBali

Sugi Lanus, Sosok di Balik Koleksi Lontar Usada Bali yang Dipamerkan di India

Terpopuler Koleksi Pilihan

Sugi Lanus, Sosok di Balik Koleksi Lontar Usada Bali yang Dipamerkan di India


Mariana Yaroh - detikBali

Sugi Lanus. (Foto: Instagram @sugi.lanus)
Sugi Lanus. (Foto: Instagram @sugi.lanus)
Denpasar -

Kekayaan manuskrip kuno Bali kembali dipamerkan di level dunia. Kali ini, Lontar Usada Bali dipamerkan dalam ajang Niramayata: Healing and Wellbeing in South Asian Text and Practices di New Delhi, India, pada 12-18 Oktober 2026.

Lontar-lontar asal Bali yang dipamerkan tersebut merupakan koleksi pribadi budayawan Bali, Sugi Lanus. Lontar Usada merupakan manuskrip lontar kuno asli Bali yang berisi khazanah ilmu pengobatan dan bahasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebanyak 27 manuskrip Lontar Usada koleksi Sugi Lanus diterbangkan langsung dari Bali untuk pameran di India tersebut. Lontar Usada Bali mencerminkan kecerdasan leluhur Bali dalam memetakan pengobatan medis dan botani di masa lampau.

Manuskrip ini juga pernah diteliti oleh Profesor Raghu Vira yang datang langsung ke Bali untuk melakukan riset. Ia menemukan adanya hubungan konseptual pengobatan Bali (usada) dengan tradisi di India.

ADVERTISEMENT

Sosok Sugi Lanus memiliki peran penting dalam menjaga dan mentransmisikan manuskrip kuno Bali itu ke kancah dunia. Simak sosok Sugi Lanus hingga perjalanannya melestarikan manuskrip kuno Bali.

Profil Sugi Lanus

Sugi Lanus dikenal sebagai seorang filolog, peneliti, penggiat sekaligus pelestari manuskrip lontar Bali dan Jawa kuno. Sejak kecil, Sugi Lanus senang membaca kitab Hindu seperti Bhagawadgita.

Semasa kuliah di Universitas Udayana (Unud), ia sempat menjadi peneliti di sejumlah perguruan luar negeri. Termasuk Princeton University, University of California, Los Angeles (UCLA), Murdoch University, Leiden University, dan Osaka University.

Pada 1997, Sugi Lanus terpilih mengikuti pertukaran pelajar yang dibiayai oleh Perdana Menteri Jepang. Ia juga berpengalaman sebagai konsultan di berbagai lembaga internasional seperti UNICEF, WHO, hingga British Council.

Sugi Lanus juga pernah menjadi koresponden majalah Tempo. Pengalaman jurnalistik juga pernah membawanya menjadi penghubung lokal untuk media internasional termasuk BBC dan National Geographic.

Sugi mendirikan Hanacaraka Institute untuk memfasilitasi penelitian lontar, subak, pertanian, dan segala kearifan lokal Bali untuk para peneliti asing maupun lokal. Ia turut aktif di berbagai forum diskusi dan kegiatan kebudayaan dan pernah menjadi pembicara dalam Kongres Kebudayaan V pada 2003.

Selain itu, Sugi Lanus juga sempat menjadi pembicara di ajang Ubud Writers & Readers Festival pada 2004-2017, International Conference on Tagore di Hanoi, Vietnam (2011), hingga Frankfurt Book Fair (2015). Ia juga terlibat dalam berbagai diskusi mengenai kependetaan Hindu.

Koleksi Lontar Sugi Lanus

Berikut adalah beberapa koleksi manuskrip lontar milik Sugi Lanus yang dipamerkan di pameran kebudayaan bergengsi New Delhi India seperti dilansir dilansir dari akun Instagram pribadinya.

  • Tegesing Krtabasa Usada dan Dasanama
  • Usada Buda Kecapi
  • Taru Pramana
  • Ciri Wong Lara dan Usada Tanya Lara
  • Tekaning Gering Manut Sasih
  • Usada Manak dan Usada Rare
  • Rogha Sangghara Gumi

Karya-Karya Sugi Lanus

Sugi Lanus telah menulis ratusan karya yang telah diterbitkan di berbagai media cetak maupun daring. Salah satu karya ilmiahnya membahas tentang mantra Hindu dan diterbitkan di jurnal internasional Oxford University, Inggris, berjudul "Puja Tri Sandhyā: Indian Mantras Recomposed and Standardised in Bali".

Karya lainnya adalah buku kolaboratif Sugi Lanus bersama Ida Bagus Ari Wijaya dan akademisi lainnya berjudul "Menelaah Sastra Hindu Nusantara untuk Penguatan Sraddha". Buku itu membahas mengenai sastra Hindu dalam memperkuat keyakinan spirtual.

Selain menulis untuk berbagai media, Sugi Lanus juga kerap membagikan pemikiran serta tulisan-tulisannya melalui akun media sosial pribadinya. Melalui platform tersebut, ia memperkenalkan pengetahuan mengenai manuskrip lontar, sejarah, hingga kebudayaan Bali kepada masyarakat luas.



(iws/iws)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads