Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, memerintahkan pasukan militer Iran untuk mengambil ancang-ancang dan meningkatkan kesiapan tempur pada level tertinggi. Perintah tersebut dilontarkan di tengah potensi serangan terbaru Amerika Serikat (AS).
"Dalam kondisi perang, kelalaian atau kecerobohan apa pun dapat menimbulkan konsekuensi yang berat," kata Jahanshahi, sebagaimana dikutip detikNews dari kantor berita Iran, Tasnim, Jumat (23/10).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jahanshahi juga menginstruksikan para komandan militer Iran di semua tingkatan untuk memperkuat kemampuan tempur. Termasuk melalui perencanaan yang cermat, pengawasan berkelanjutan, dan tindak lanjut yang efektif.
Diketahui, ketegangan militer antara Iran dan AS semakin meningkat. Hal itu menyusul berbulan-bulan perselisihan yang terus berlanjut terkait keamanan dan navigasi maritim di Selat Hormuz, jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global.
Beberapa waktu terakhir, Presiden AS Donald Trump juga menyinggung kemungkinan operasi militer terbaru terhadap Iran jika negara itu tidak bersedia menyepakati penyelesaian melalui negosiasi. Upaya diplomatik yang diupayakan Pakistan dan Qatar sebagai mediator, menghadapi kebuntuan.
"Kita mungkin akan melakukan 'Epic Fury' kecil lainnya, atau mereka akan setuju (untuk bernegosiasi)," cetus Trump saat berbicara dalam kampanye pemilu sela untuk Partai Republik di Florida pada Jumat (23/10). Epic Fury merujuk pada "Operation Epic Fury" yang merupakan operasi militer AS terhadap Iran yang dilancarkan pada akhir Februari lalu.
"Jika mereka cerdas, mereka akan langsung berkata, 'Mari kita membahas ini dengan serius'," ucap Presiden AS itu merujuk pada Iran, sembari menambahkan bahwa dirinya meragukan Teheran akan mengambil langkah tersebut.
Sementara itu, Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, mengatakan bahwa Washington dapat melancarkan serangan terbaru terhadap Teheran paling cepat pada akhir pekan ini.
"Apakah mungkin ada serangan akhir pekan ini? Tentu saja," kata Barrack dalam wawancara dengan host podcast Mario Nawfal pada Jumat (23/10) waktu setempat. Barrack yang juga utusan khusus AS di Suriah sebenarnya tidak memiliki peran langsung terkait urusan Iran.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!