detikBali
Hardiknas 2026

Nyoman Haryantara, Menenun Transformasi Digital dari Sekolah Pinggiran Badung

Terpopuler Koleksi Pilihan
Hardiknas 2026

Nyoman Haryantara, Menenun Transformasi Digital dari Sekolah Pinggiran Badung


Agus Eka - detikBali

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMP Negeri 4 Petang, I Nyoman Haryantara. (Foto: Dok. Pribadi)
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMP Negeri 4 Petang, I Nyoman Haryantara. (Foto: Dok. Pribadi)
Badung -

I Nyoman Haryantara berupaya memberikan sumbangsihnya pada dunia pendidikan dengan menggerakkan transformasi digital dari wilayah pinggiran Kabupaten Badung, Bali. Berkat inisiatif 'For ED' yang berfokus pada perubahan pola pikir pendidik di Kabupaten Badung, ia meraih Juara 1 Nasional Pelopor Komunitas Belajar Guru SD/SMP pada 2025

"Digitalisasi tidak boleh hanya menyentuh wilayah perkotaan semata. Perangkat keras yang canggih harus diimbangi dengan kesiapan ekosistem digital dan peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan," ujar Haryantara saat diwawancarai detikBali, Jumat (1/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Haryantara merupakan guru sekaligus Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMP Negeri 4 Petang. Ia mengaku gelisah ketika melihat infrastruktur teknologi yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh para guru.

Melalui Komunitas For ED, Haryantara merancang pendampingan intensif untuk membantu rekan sejawat bertransisi dari pola pikir kaku menuju pola pikir bertumbuh (growth mindset). Ia mengakui masih banyak guru senior di wilayah pelosok yang belum optimal memanfaatkan teknologi.

ADVERTISEMENT

"Tantangan terbesar di wilayah Petang bukanlah persoalan jaringan atau infrastruktur, melainkan bagaimana kita menyentuh dan mengubah pola pikir guru senior. Mengajak mereka meninggalkan metode konvensional adalah proses kultural yang membutuhkan pendekatan personal dari hati ke hati," imbuhnya.

Google Master Trainer Level 3 ini menghindari istilah teknis yang rumit agar mudah diterima oleh guru lintas generasi. Ia menggunakan analogi sederhana untuk meyakinkan para pendidik bahwa teknologi adalah alat bantu yang mempermudah pekerjaan, bukan beban tambahan yang menakutkan.

"Saya selalu menekankan bahwa teknologi pembelajaran ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ponsel yang Bapak dan Ibu gunakan setiap hari. Jika kita bisa mengirim pesan singkat, maka kita pun pasti mampu menggunakan teknologi untuk mengajar di kelas," tutur Duta Teknologi Kemendikdasmen Provinsi Bali tersebut.

Kerja kerasnya kini membuahkan hasil nyata dengan lahirnya 14 sekolah calon kandidat Sekolah Rujukan Google di Badung serta capaian 75 persen guru yang telah memiliki sertifikasi internasional. Dampak kolektif ini juga berkontribusi pada peningkatan signifikan hasil rapor pendidikan Kabupaten Badung pada kategori literasi dan numerasi tahun 2025.

"Keberhasilan ini tidak terlepas dari kolaborasi antara inisiatif akar rumput dan dukungan penuh dari Disdikpora Kabupaten Badung. Kami menerapkan strategi anggaran yang adaptif, di mana sebagian besar webinar dilaksanakan secara mandiri berkat semangat gotong royong narasumber," ujar Koordinator Komunitas For ED Disdikpora Badung itu.

Haryantara juga menyusun peta jalan jangka panjang agar semangat transformasi ini tetap terjaga meski euforia juara nasional telah berlalu. Ia menargetkan sertifikasi guru mencapai seratus persen di sekolah rujukan dengan memanfaatkan program beasiswa ujian yang didukung oleh Google Indonesia.

"Kami telah memiliki lini masa program kerja tahunan yang jelas untuk menjaga ritme konsistensi komunitas agar tetap relevan. Fokus kami adalah memperluas sinergi dengan komunitas belajar lain agar pembelajaran terjadi secara dua arah dan terdokumentasi melalui majalah digital," ucap Ketua APKS Informatika PGRI Bali tersebut.

Haryantara mendorong pemerintah pusat dapat memperkuat komunitas belajar yang berbasis pada kebutuhan sekolah. Ia berharap model pendampingan rekan sejawat yang diterapkannya di Badung dapat menjadi inspirasi bagi pemerataan kualitas pendidikan secara nasional.

"Pemerintah tidak perlu selalu membuat wadah baru, cukup perkuat kelompok belajar yang sudah ada seperti KKG dan MGMP agar lebih berdaya. Pendampingan harus diubah menjadi kolaboratif yang berpusat pada praktik baik agar pendidikan bermutu bisa dinikmati seluruh anak bangsa," pungkasnya.




(iws/iws)











Hide Ads