Ayah Bripda Natanael Simanungkalit (NS), Roy Simanungkalit, mengungkap adanya aktivitas judi online (judol) di lingkungan Asrama Ditsamapta Polda Kepulauan Riau (Kepri). Hal itu disampaikan Roy saat menjadi saksi dalam sidang perkara dugaan penganiayaan yang menewaskan anaknya.
Roy memberikan kesaksian dalam persidangan dengan terdakwa Asrul Prasetya di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (3/9/2026) sore. Sidang tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim Monalisa didampingi hakim anggota Randi dan Feri Irawan.
Dalam persidangan, Roy mengatakan Natanael sempat bercerita kepada keluarganya mengenai kondisi lingkungan asrama tempatnya bertugas. Salah satu yang dikeluhkan Natanael adalah banyaknya pemain judi online di asrama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kepada istri saya, Natanael sempat bercerita bahwa banyak pemain judi online di asrama. Salah satu dari beberapa hal yang menjadi kesulitan bagi anak saya," kata Roy dalam persidangan.
Menurut Roy, persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang membuat Natanael merasa tidak nyaman selama berada di asrama. Natanael bahkan disebut sempat memiliki keinginan untuk meninggalkan asrama dan kembali ke rumah.
Roy mengaku mengetahui cerita tersebut dari keluarganya setelah Natanael menyampaikan keluhannya kepada sang ibu. Ia mengatakan, apabila sejak awal mengetahui kondisi yang dialami anaknya secara langsung, dirinya akan meminta Natanael meninggalkan institusi Polri.
"Kalau sebelum kejadian ngomong kayak gitu ke saya, langsung saya berhentikan dari polisi," ujarnya.
Roy juga mengaku pernah meminta Natanael untuk melaporkan kepadanya apabila terdapat pihak yang meminta uang atau melakukan tindakan yang dianggap bermasalah selama berada di lingkungan asrama.
Sebagai orangtua, Roy mengaku khawatir dengan kondisi anaknya. Ia bahkan pernah meminta bantuan sejumlah rekannya yang berada di lingkungan kepolisian untuk memastikan Natanael dalam kondisi aman.
"Saya pernah sampaikan, tolong bagaimana sih kalau orang di rusun itu aman," katanya.
Selain persoalan judi online, Roy dalam persidangan juga menyoroti tanggung jawab komandan peleton di lingkungan kesatuan Natanael. Ia mengaku telah beberapa kali menanyakan kepada Propam mengenai pertanggungjawaban atas peristiwa yang menyebabkan anaknya meninggal dunia.
Roy mengaku kecewa karena pihak yang menurutnya memiliki tanggung jawab dalam lingkungan kesatuan tersebut belum mendapatkan hukuman yang dianggap setimpal.
Dalam persidangan, Roy juga menceritakan saat pertama kali melihat kondisi jenazah Natanael di Rumah Sakit Bhayangkara. Ia mengaku terkejut karena menemukan banyak memar pada tubuh anaknya.
Roy mengatakan saat itu dirinya mempertanyakan kondisi tersebut kepada petugas rumah sakit Bhayangkara Polda Kepri.
"Badannya ini kok biru semua?" kata Roy menirukan pertanyaannya saat itu.
Roy kemudian meminta agar dilakukan autopsi terhadap jenazah anaknya. Ia mengaku juga berupaya mencari informasi mengenai pihak-pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
"Saya minta anak saya di otopsi," ujarnya.
