Keluarga mantan istri anggota polisi inisial L (30) menemukan sejumlah bekas luka lebam di tubuh L. Dokter forensik memberikan penjelasan terkait dengan penyebab lebam-lebam itu.
Dokter Forensik RS Bhayangkara TK II Medan dr Mistar Ritonga mengatakan sejak pemeriksaan awal, dirinya tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Dia menyebut hanya melihat bekas luka lama di bagian tangan korban.
"Kebetulan berdasarkan hasil pemeriksaan saya dari awal, saya tidak ada melihat, tidak ada menemukan tanda-tanda kekerasan pada waktu itu. Hanya yang saya jumpai di situ bekas sayatan di tangan, bekas luka yang lama, warna cokelat, di tangan sebelah kiri bagian dalam," kata Mistar, Kamis (6/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal luka seperti bekas cekikan di leher, Mistar mengatakan dirinya tidak ada melihat luka tersebut saat awal pemeriksaan. Luka itu, kata Mistar, bisa saja adalah lebam mayat. Sama halnya dengan lebam di bagian punggung kaki dan jari tangan korban.
"Kalau bekas cekikan waktu kita lakukan pemeriksaan saat itu tidak ada. Kalaupun mungkin ada perubahan-perubahan yang timbul itu biasanya secara fisiologis misalnya seperti lebam mayat, biru. Lebam mayat itu adalah penumpukan cairan darah di posisi tubuh terbawah. Jadi itu fisiologis, berbeda nanti lebamnya karena kekerasan. Ini kan lokasinya dia pada posisi terbawah semua," jelasnya.
Sementara lebam di kelopak mata korban, kata Mistar, hal itu bukan diakibatkan karena kekerasan. Namun, lebam itu terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di bagian kepala korban.
"Kalau mata lebam itu, secara fisiologis bukan karena kekerasan. Seperti kita ketahui bahwa luka tembaknya itu berjalan atau menelusuri dasar tengkoraknya. Di sana ada pembuluh darah yang mempunyai tiga percabangan dan salah satu percabangannya itu mendarahi ke kelopak mata. Jadi, kalau dia pecah, itu terjadi hematom kacamata namanya," jelasnya.
Mistar menyebut bahwa dari luka yang dialami korban, L menembakkan senjata itu dari jarak dekat.
"Hasil pemeriksaan kami secara langsung pada korban, kami jumpai ciri-ciri luka tembaknya itu adalah luka tembak tempel. Luka tempel itu berarti senjatanya menempel ke kulit," kata Mistar.
Mistar mengatakan bahwa kecepatan peluru itu bisa dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya, kecepatan peluru bisa saja melambat jika mengenai benda lain. Untuk diketahui, dr Mistar adalah dokter yang memeriksa jasad korban sejak awal.
"Jadi, seperti kita ketahui sebenarnya, untuk kecepatan anak peluru itu kan banyak faktor yang memengaruhinya. Jadi, kalau dia bergerak, kalau misalnya dia ada bias ataupun gesekan-gesekan ke benda lain, tentu kecepatannya itu akan melambat," sebutnya.
Untuk kasus penembakan yang dialami korban, kata Mistar, peluru sempat mengenai tulang tengkorak korban. Alhasil, peluru tidak sampai menembus kepala korban.
"Jadi kalau pada kasus ini, kenyataannya itu, dia (peluru) melalui beberapa yang keras, tulang. Dari luka tembak masuk di sebelah kanan, itu malah dia menelusuri dasar tengkorak kepalanya itu sampai retak malah, baru dia menembus ke sebelah kiri. Jadi, tenaganya itu sudah tidak kuat lagi untuk menembus, dia terhenti di bawah kulit," ujarnya.
Sebelumnya, keluarga tak percaya bahwa korban bunuh diri dengan menggunakan senpi. Keluarga menduga korban tewas karena dianiaya.
"Sebenarnya ini bukan penembakan diri sendiri, ini hasil dianiaya," kata ayah korban, Sanalui Gowasa (56) saat diwawancarai di rumah duka di Kota Medan, Rabu (5/8).
Sanalui mengatakan pihak keluarga merasa ada kejanggalan atas kematian korban. Sebab, keluarga menemukan bekas lebam-lebam tak wajar di tubuh korban. Misalnya, ada bekas seperti cekikan di leher, hingga bagian mata lebam.
"Banyak kejanggalan. Dari hasil kita lihat, di sana ada (bekas) pencekikan leher dan mata lebam. semua badannya agak kebiru-biruan. Seperti apa yang diberitakan selama ini bahwa anak itu (korban) bunuh diri, merampas paksa pistol suaminya. Itu tidak benar," ujarnya.
Adik korban, Ica (29) mengatakan bahwa pihak keluarga juga melihat ada sejumlah memar di tubuh korban. Misalnya, memar di bagian mata, bekas goresan di lutut, lebam di bagian kaki dan jari tangan serta di dekat pusar.
"Terus jari-jarinya sudah biru, tapi ada yang biru, ada yang tidak biru," jelasnya.
Selain itu, Ica menyebut ada bekas luka yang dijahit di bawah dagu. Sepengetahuannya, luka itu bukanlah bekas autopsi.
Dia menyebut tidak mau berspekulasi terkait lebam-lebam di tubuh korban itu. Namun, pihak keluarga ingin meminta penjelasan pihak kepolisian terkait luka-luka itu.
