Tradisi Buka-Tutup Bondang di Asahan, Penjaga Harmoni Alam dan Kehidupan Sosial

Tradisi Buka-Tutup Bondang di Asahan, Penjaga Harmoni Alam dan Kehidupan Sosial

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Senin, 09 Mar 2026 08:01 WIB
Prosesi tradisi buka-tutup bondang di Asahan
Foto: Prosesi tradisi buka-tutup bondang (Dok. Situs Kecamatan Silaulaut)
Asahan -

Tradisi Buka-Tutup Bondang yang masih dijalankan masyarakat Desa Silo Lama, Silau Laut, Kabupaten Asahan, bukan sekadar ritual adat pertanian. Tradisi ini merepresentasikan sistem nilai yang menghubungkan manusia dengan alam, sesama manusia, dan Sang Pencipta dalam satu siklus kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan.

Dalam unggahan resminya, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II menjelaskan bahwa Bondang merujuk pada lahan pertanian, sawah, atau ruang produksi yang dikelola bersama oleh masyarakat. Namun secara filosofis, bondang dimaknai lebih dalam sebagai ruang harapan dan tempat doa demi kesinambungan hidup.

"Tradisi ini bukan sekadar ritual adat, melainkan aktualisasi sistem nilai yang menghubungkan manusia dengan alam, sesama manusia, dan Sang Pencipta dalam satu siklus kehidupan yang harmonis dan berkesinambungan," tulis BPK Wilayah II dalam unggahan Instagramnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penanda Musim Tanam dan Panen

BPK Wilayah II mencatat, Buka Bondang menjadi penanda dimulainya musim tanam. Rangkaian kegiatan diawali dengan pemotongan ayam kampung sebagai simbol pembersihan dan penolak bala, dilanjutkan kenduri sebagai wujud kebersamaan dan solidaritas sosial.

Doa dan zikir dilantunkan sebagai permohonan keberkahan, keselamatan, serta hasil panen yang baik. Ritual tepung tawar dilakukan sebagai bentuk perlindungan dan penyembuhan, sekaligus penegasan harapan agar masyarakat dan lahan pertanian terhindar dari marabahaya.

ADVERTISEMENT

Setelah melewati masa tanam, pemeliharaan, dan panen, masyarakat menggelar Tutup Bondang sebagai penutup satu siklus pertanian.

"Pada tahap ini, nuansa yang dihadirkan lebih reflektif dan penuh rasa syukur. Doa penutup dipanjatkan sebagai ungkapan terima kasih atas hasil yang diperoleh," tulis BPK Wilayah II.

Mekanisme Sosial dan Etika Bermasyarakat

Lebih jauh, BPK Wilayah II menegaskan bahwa Buka-Tutup Bondang berfungsi sebagai mekanisme sosial yang menjaga harmoni kehidupan desa. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mengajarkan masyarakat untuk menjauhi perilaku menyimpang seperti mencuri, berjudi, dan merusak tatanan sosial.

Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya mengatur relasi manusia dengan alam, tetapi juga menjadi pedoman etika sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Pandangan ini sejalan dengan kajian antropologi budaya yang dikemukakan dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi, yang menyebutkan bahwa ritus pertanian di masyarakat tradisional Nusantara berfungsi ganda: sebagai sistem religi sekaligus sarana penguatan norma sosial dan solidaritas komunal.

Adaptasi Ekologis Masyarakat

Dari perspektif ekologi budaya, BPK Wilayah II menilai tradisi Buka-Tutup Bondang mencerminkan bentuk adaptasi masyarakat terhadap lingkungan. Melalui pengaturan waktu membuka dan menutup lahan, serta penguatan nilai spiritual dalam bekerja, masyarakat secara tidak langsung menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengelola sumber daya alam.

"Tanah tidak dipaksa terus-menerus berproduksi, melainkan diberi waktu untuk pulih, sehingga keseimbangan alam tetap terjaga," tulis BPK Wilayah II.

Pendekatan ini selaras dengan pemikiran dalam buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, yang menjelaskan bahwa banyak tradisi agraris di Indonesia mengandung kearifan lokal untuk menjaga keberlanjutan ekologi melalui pengaturan siklus kerja dan masa bera.

Hingga kini, keberlangsungan tradisi Buka-Tutup Bondang diyakini tidak terlepas dari kesadaran kolektif masyarakat Silau Laut dalam menjaga keseimbangan antara produksi, spiritualitas, dan kelestarian alam.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads