Di tengah kekayaan budaya Sumatera Utara, masyarakat Simalungun memiliki seni bela diri tradisional yang dikenal dengan nama Dihar. Bela diri ini tidak hanya berfungsi sebagai teknik pertahanan diri, tetapi juga mengandung nilai filosofis, spiritual, serta tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam unggahan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II, dijelaskan bahwa kata Dihar berasal dari bahasa Simalungun yang berarti "elak" atau menghindar.
"Dihar merupakan seni bela diri tradisional yang berasal dari Kabupaten Simalungun. Secara etimologis, Dihar berasal dari kata dalam bahasa Simalungun yang berarti elak atau menghindar," tulis BPK Wilayah II dalam unggahannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teknik Bertahan sebelum Menyerang
Berbeda dengan banyak bela diri yang menekankan serangan lebih dahulu, Dihar justru mengutamakan kemampuan bertahan. Seorang praktisi Dihar akan menghindari serangan lawan terlebih dahulu sebelum melakukan serangan balasan.
"Jika tidak ada serangan dari lawan, seorang Pandihar tidak akan menyerang. Namun ketika ada serangan, ia akan mengeluarkan gerakan-gerakan balasan," tulis Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II di akun Instagram resmi.
Dalam praktiknya, gerakan Dihar dikenal cepat, langsung, dan sulit diprediksi. Salah satu teknik penting adalah tapak ke bawah, yakni gerakan yang bertujuan memancing perhatian lawan agar tidak melihat arah serangan sebenarnya.
Sejarah dan Perkembangannya
Secara historis, asal-usul pasti Dihar tidak diketahui secara jelas. Namun tradisi ini diyakini telah berkembang sejak masa kerajaan di wilayah Simalungun.
"Ada yang menyebutkan bahwa Dihar merupakan salah satu syarat bagi para pemuda yang ingin bekerja sebagai prajurit di kerajaan atau partuanon di Simalungun pada masa lalu," tulis BPK Wilayah II.
Selain sebagai keterampilan bela diri, Dihar juga berkembang dalam berbagai kegiatan budaya masyarakat, termasuk ritual yang berkaitan dengan spiritualitas dan nilai-nilai adat.
Peneliti budaya dalam buku Adat dan Budaya Simalungun menjelaskan bahwa banyak tradisi masyarakat Simalungun memiliki hubungan erat dengan sistem nilai adat, termasuk seni bela diri yang berfungsi sebagai simbol keberanian, kehormatan, dan kedewasaan.
Ragam Aliran Dihar
Dalam perkembangannya, Dihar memiliki beberapa aliran yang berkembang di masyarakat Simalungun, antara lain:
β’ Dihar Sirlalak
β’ Dihar Harimau
β’ Dihar Tortor Hordor Sihalung
β’ Dihar Balangsahu
Setiap aliran memiliki teknik gerakan serta karakter khas yang berbeda.
Meski demikian, seluruh aliran tersebut memiliki kesamaan tujuan, yakni melumpuhkan lawan secara efektif dengan mematahkan kekuatan serangan lawan terlebih dahulu.
"Gerakan Dihar memang terkesan mematikan dalam satu langkah, dan ini terlihat ketika mereka berlatih berhadapan (sparing) dengan sesamanya," tulis keterangan BPK WIl II.
Dari Bela Diri ke Seni Budaya
Seiring waktu, Dihar tidak hanya menjadi teknik pertahanan diri, tetapi juga bagian dari ekspresi budaya masyarakat Simalungun. Seni bela diri ini kerap ditampilkan dalam acara adat, penyambutan tamu kehormatan, hingga kegiatan budaya lainnya.
Dalam beberapa kesempatan, gerakan Dihar juga dikombinasikan dengan unsur seni dan pertunjukan, sehingga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Simalungun.
Kajian tentang seni bela diri Nusantara dalam buku Pencak Silat: Merentang Waktu menyebutkan bahwa banyak bela diri tradisional di Indonesia berkembang tidak hanya sebagai teknik bertarung, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi sosial dan budaya masyarakat.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.
(nkm/nkm)











































