Bagi masyarakat di Pulau Nias, bulan bukan sekadar benda langit yang menerangi malam. Sejak lama, masyarakat setempat memiliki pengetahuan tradisional yang disebut Tesa'a, yaitu cara membaca fase bulan untuk menentukan berbagai aktivitas kehidupan, mulai dari bercocok tanam hingga melaut.
Dalam penjelasan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II, Tesa'a memiliki makna yang luas dalam kehidupan masyarakat Nias.
"Tesa'a berarti bulan dalam arti luas. Namun di kepulauan Nias, tesa'a juga dikenal sebagai pengetahuan mengenai waktu sekaligus apa yang sebaiknya dilakukan pada waktu-waktu tertentu," tulis BPK Wilayah II dalam unggahannya di akun Instagram resmi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengetahuan ini berkembang dari pengalaman panjang masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Melalui pengamatan terhadap fase bulan, orang Nias menentukan waktu yang dianggap baik untuk melakukan berbagai kegiatan.
Penanda Waktu dalam Kehidupan Masyarakat
Dalam praktiknya, masyarakat Nias memperhatikan fase bulan dari awal kemunculannya hingga purnama. Periode ini disebut sebagai tesa'a atau tohare, yaitu fase bulan yang berlangsung sejak bulan sabit hingga bulan penuh.
Menurut kepercayaan masyarakat, pada masa tersebut energi alam dianggap sedang kuat. Oleh karena itu berbagai aktivitas seperti menanam tanaman, menebang pohon, hingga membangun rumah sering dilakukan pada waktu tersebut.
"Orang Nias percaya saat bulan meninggi naik, energi bumi juga ikut naik, tanaman pun bertambah subur dan hasil panen lebih baik," tulis BPK Wilayah II.
Sebaliknya, pada fase tertentu menjelang tenggelamnya bulan atau yang dikenal sebagai akhΓΆmita, masyarakat justru menghindari kegiatan penting karena dipercaya kondisi alam sedang tidak stabil.
Pengetahuan yang Juga Digunakan Nelayan
Pengetahuan tentang fase bulan ini juga digunakan oleh para nelayan di wilayah Kepulauan Nias dan Kepulauan Batu.
Ketika bulan terang menjelang purnama, nelayan biasanya memilih memperbaiki jaring atau beristirahat, karena ikan cenderung menjauh dari permukaan air akibat cahaya bulan yang terlalu terang.
"Dalam waktu terang ini nelayan pun memilih tidak melaut, memperbaiki jaring atau memperbaiki alat tangkap di rumah," tulis BPK Wilayah II.
Sebaliknya, ketika cahaya bulan mulai redup, ikan lebih mudah ditangkap sehingga aktivitas melaut biasanya meningkat.
Kalender Tradisional Pertanian
Di wilayah Gomo, pengetahuan tentang Tesa'a bahkan berkembang menjadi semacam kalender tradisional pertanian. Masyarakat mengenal sekitar 20 bentuk fase bulan, yang masing-masing memiliki nama dan makna tersendiri.
Sebagian fase dianggap baik untuk menanam, sementara fase lainnya justru menjadi larangan untuk memulai pekerjaan penting.
Misalnya fase tertentu dipercaya tidak baik untuk menanam kelapa karena dikhawatirkan buahnya akan mudah pecah atau tidak berkembang dengan baik.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Nias mengembangkan sistem pengetahuan ekologis yang diwariskan secara turun-temurun.
Kajian tentang budaya Nias dalam buku Kebudayaan Nias menyebutkan bahwa masyarakat Nias memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam, sehingga berbagai aktivitas kehidupan diatur berdasarkan tanda-tanda alam seperti musim, angin, dan pergerakan benda langit.
Warisan Pengetahuan Lokal
Hingga kini, pengetahuan Tesa'a masih dikenang dan digunakan oleh sebagian masyarakat, terutama di daerah pedesaan. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Dengan memahami fase bulan dan tanda-tanda alam lainnya, masyarakat Nias menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi pedoman dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom
(nkm/nkm)











































