Mengungkap 'Candi Sawit', Warisan Megah Kerajaan Pannai di Padang Lawas

Mengungkap 'Candi Sawit', Warisan Megah Kerajaan Pannai di Padang Lawas

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Rabu, 04 Feb 2026 10:20 WIB
Foto candi di Palas yang dipajang di Museum Negeri Sumut (A.Fahri/detikcom)
Foto: Foto candi di Palas yang dipajang di Museum Negeri Sumut (A.Fahri/detikcom)
Medan -

Siapa sangka, di balik rimbunnya hamparan perkebunan sawit yang menjulang di pelosok Sumatera Utara, tersimpan sisa-sisa kejayaan sebuah kerajaan misterius yang pernah menggetarkan daratan India. Kerajaan itu bernama Pannai, sebuah kekuatan maritim dan spiritual yang kini hanya menyisakan tumpukan bata merah yang sunyi di tengah perkebunan.

Meski lokasinya jauh dari hiruk-pikuk kota besar, jejak peradaban ini sebenarnya bisa ditelusuri melalui koleksi dan arsip di Museum Negeri Sumatera Utara. Bagi para pemerhati sejarah, situs purbakala di Padang Lawas (Palas) ini adalah "emas murni" yang merekam kejayaan masa lalu.

Jejak 'Biara' yang Tersebar di Pedalaman

Berdasarkan data primer yang terpajang di Museum Negeri Sumatera Utara, kawasan purbakala ini mencakup kompleks percandian yang sangat luas. Penjelasan resmi dari pihak museum memberikan gambaran presisi mengenai lokasi pusat-pusat spiritual tersebut:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Biara Sipamutung yang berlokasi di Desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas," tulis panel informasi di Museum Negeri Sumatera Utara yang menjadi rujukan sejarah utama.

Sipamutung tercatat sebagai salah satu kompleks terbesar dengan pagar keliling yang luas, mencerminkan pusat kegiatan keagamaan yang masif pada masanya. Selain itu, arsip museum juga menyoroti keberadaan bangunan lain yang tak kalah penting, yakni:

ADVERTISEMENT

"Biara Bahal III yang berlokasi di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara."

Meski kini struktur bata merah tersebut terjepit di antara pemukiman penduduk dan perkebunan sawit, catatan museum memastikan bahwa tiap jengkal bangunannya memiliki nilai arkeologis tinggi.

Misteri Tantrayana dan Ritual 'Bhairava'

Ada alasan mengapa arsitektur biara di Padang Lawas berbeda jauh dengan candi-candi di Pulau Jawa. Jika candi di Jawa seringkali memancarkan ketenangan, biara di Sumatera Utara ini justru menyimpan kesan kuat dan "misterius".

Arkeolog legendaris, F.M. Schnitger, dalam bukunya The Archaeology of Hindoo Sumatra (1937), mengungkapkan fakta mengejutkan. Beliau menyebut kawasan ini sebagai pusat aliran Buddhisme Vajrayana atau Tantrayana yang sangat esoteris.

"Situs-situs di Padang Lawas menyimpan jejak aliran Tantrayana yang kuat. Penemuan arca-arca Bhairava yang digambarkan berdiri di atas tumpukan tengkorak bukanlah tanda kekejaman, melainkan simbol filosofis tentang penaklukan nafsu duniawi," tulis Schnitger dalam catatannya yang legendaris itu.

Tercatat di India

Keberadaan Kerajaan Pannai (abad ke-11) bukanlah isapan jempol belaka. Nama kerajaan ini pernah menggema hingga ke India Selatan.

Peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, dalam berbagai kajiannya menjelaskan bahwa nama "Pannai" tercatat jelas dalam Prasasti Tanjore (1030 M) di India. Raja Rajendra Chola I dari Colamandala memasukkan Pannai sebagai salah satu wilayah yang ia gempur karena potensi sumber daya alam dan letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka.

Meskipun skalanya mungkin tidak sebesar kerajaan di Jawa, Pannai memiliki pengaruh internasional yang nyata. Sayangnya, meski namanya disebut di prasasti luar negeri dan kitab Nagarakrtagama, di dalam negeri sendiri situs ini masih berjuang melawan waktu dan ekspansi lahan perkebunan.

Kondisi saat ini memang cukup kontras. Di satu sisi, fragmen sejarahnya tersimpan rapi di museum, seperti fragmen arca gajah atau arca buaya yang menjadi saksi bisu kecanggihan seni masa itu. Namun di sisi lain, banyak situs aslinya di lapangan yang dilaporkan masih berupa gundukan tanah atau fondasi bata yang terjepit akar sawit.

Menelusuri sejarah Padang Lawas melalui literatur dan koleksi museum memberikan kita satu kesadaran: bahwa di tanah Sumatera Utara, pernah ada peradaban yang mampu membangun struktur rumit tanpa menggunakan semen, hanya mengandalkan bata merah dan keyakinan spiritual yang mendalam.

Artikel ditulis A.Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video RI Siapkan 15 Cagar Budaya untuk Diajukan Jadi Warisan Dunia UNESCO"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads