Dibata Si Telu, Konsep Ketuhanan Orang Karo yang Hidup Bersama Alam

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Rabu, 04 Feb 2026 03:00 WIB
Foto: Ilustrasi. (dok. Disparbud Karo)
Medan -

Jauh sebelum agama-agama besar masuk ke Tanah Karo, masyarakat setempat telah memiliki konsep ketuhanan yang dikenal sebagai Dibata Si Telu. Konsep ini bukan sekadar kepercayaan lama, melainkan fondasi cara orang Karo memahami hidup, alam, dan hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih besar.

Dibata Si Telu, secara harfiah berarti Tuhan yang Tiga, namun bukan dalam pengertian terpisah. Ketiganya dipahami sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi dan bekerja bersama menjaga keseimbangan kehidupan.

Dalam kepercayaan tradisional Karo, Dibata Si Telu terdiri dari Dibata Datas (penguasa alam atas), Dibata Tengah (penguasa dunia manusia), dan Dibata Teruh (penguasa alam bawah). Pembagian ini mencerminkan cara orang Karo melihat semesta sebagai ruang bertingkat yang saling terhubung, bukan berdiri sendiri.

Antropolog Masri Singarimbun dalam kajiannya tentang masyarakat Karo menjelaskan bahwa Dibata Si Telu menjadi pusat orientasi hidup orang Karo.

"Konsep Dibata Si Telu tidak hanya bersifat religius, tetapi juga menjadi dasar nilai moral dan tatanan sosial masyarakat Karo," tulis Singarimbun.

Ketuhanan yang Dekat dengan Kehidupan

Berbeda dengan konsep ketuhanan yang jauh dan abstrak, Dibata Si Telu hadir dalam keseharian orang Karo. Hubungan dengan Tuhan diwujudkan melalui sikap hormat terhadap alam, menjaga keseimbangan sosial, serta menjalankan adat dengan benar.

Alam-gunung, hutan, sungai-dipandang bukan sebagai objek semata, tetapi bagian dari tatanan kosmis yang harus dijaga. Tidak heran jika dalam banyak ritual adat Karo, unsur alam selalu dilibatkan sebagai simbol hubungan manusia dengan Dibata.

Peneliti kolonial awal abad ke-20 mencatat bahwa keyakinan ini membuat orang Karo sangat berhati-hati dalam memperlakukan alam sekitarnya.

"Bagi orang Karo, gangguan terhadap alam diyakini dapat mengganggu keseimbangan kosmos," tulis J.H. Neumann dalam catatan etnografinya.



Simak Video "Video Amsal Sitepu Terisak di DPR: Saya Hanya Bertahan Hidup, Kenapa Dipenjara?"


(mjy/mjy)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork