Jauh sebelum agama-agama besar masuk ke Tanah Karo, masyarakat setempat telah memiliki konsep ketuhanan yang dikenal sebagai Dibata Si Telu. Konsep ini bukan sekadar kepercayaan lama, melainkan fondasi cara orang Karo memahami hidup, alam, dan hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih besar.
Dibata Si Telu, secara harfiah berarti Tuhan yang Tiga, namun bukan dalam pengertian terpisah. Ketiganya dipahami sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi dan bekerja bersama menjaga keseimbangan kehidupan.
Dalam kepercayaan tradisional Karo, Dibata Si Telu terdiri dari Dibata Datas (penguasa alam atas), Dibata Tengah (penguasa dunia manusia), dan Dibata Teruh (penguasa alam bawah). Pembagian ini mencerminkan cara orang Karo melihat semesta sebagai ruang bertingkat yang saling terhubung, bukan berdiri sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antropolog Masri Singarimbun dalam kajiannya tentang masyarakat Karo menjelaskan bahwa Dibata Si Telu menjadi pusat orientasi hidup orang Karo.
"Konsep Dibata Si Telu tidak hanya bersifat religius, tetapi juga menjadi dasar nilai moral dan tatanan sosial masyarakat Karo," tulis Singarimbun.
Ketuhanan yang Dekat dengan Kehidupan
Berbeda dengan konsep ketuhanan yang jauh dan abstrak, Dibata Si Telu hadir dalam keseharian orang Karo. Hubungan dengan Tuhan diwujudkan melalui sikap hormat terhadap alam, menjaga keseimbangan sosial, serta menjalankan adat dengan benar.
Alam-gunung, hutan, sungai-dipandang bukan sebagai objek semata, tetapi bagian dari tatanan kosmis yang harus dijaga. Tidak heran jika dalam banyak ritual adat Karo, unsur alam selalu dilibatkan sebagai simbol hubungan manusia dengan Dibata.
Peneliti kolonial awal abad ke-20 mencatat bahwa keyakinan ini membuat orang Karo sangat berhati-hati dalam memperlakukan alam sekitarnya.
"Bagi orang Karo, gangguan terhadap alam diyakini dapat mengganggu keseimbangan kosmos," tulis J.H. Neumann dalam catatan etnografinya.
Dibata dan Tata Sosial
Konsep Dibata Si Telu juga tercermin dalam tata sosial masyarakat Karo. Prinsip keseimbangan dan saling melengkapi terlihat dalam sistem kekerabatan merga silima, rakut sitelu, hingga pengambilan keputusan adat yang selalu mengutamakan musyawarah.
Dalam konteks ini, kepercayaan bukan hanya urusan spiritual, tetapi menjadi pedoman bersikap dan bertindak dalam kehidupan sosial.
Masri Singarimbun mencatat bahwa adat dan kepercayaan Karo tidak bisa dipisahkan.
"Adat merupakan wujud nyata dari kepercayaan, sementara kepercayaan memberi makna pada adat," tulisnya.
Bertahan di Tengah Perubahan
Masuknya agama-agama besar dan modernisasi perlahan menggeser praktik kepercayaan tradisional Karo. Namun, konsep Dibata Si Telu tidak serta-merta hilang.
Nilai-nilainya masih hidup dalam adat, bahasa, dan cara pandang orang Karo terhadap alam dan kehidupan.
Bagi banyak orang Karo, Dibata Si Telu bukan lagi dipraktikkan sebagai sistem kepercayaan ritual, tetapi tetap dikenang sebagai warisan leluhur yang membentuk identitas dan jati diri.
Dibata Si Telu menunjukkan bahwa jauh sebelum wacana ekologi dan keseimbangan alam ramai dibicarakan, masyarakat Karo telah memiliki cara sendiri untuk merawat hubungan antara manusia, alam, dan Yang Ilahi.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Menaklukkan Tantangan Seru di Kolam Abadi, Desa Lingga, Sumatera Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)











































