Beka buluh, salah satu kain tradisional dalam budaya Karo. Kain tersebut dikenakan oleh laki-laki dan memiliki fungsi adat yang kuat, terutama dalam upacara pernikahan, kematian, ritual penghormatan terhadap leluhur, serta pesta kerja tahun.
Di tengah zaman modern, beka buluh tetap menjadi simbol kebanggaan bagi lelaki Karo. Kain tradisional ini bukan sekadar pakaian, melainkan penanda identitas, status sosial, kedewasaan, tanggung jawab lelaki dalam adat, dan keterikatan adat serta marga.
"Beka buluh bukan hanya kain, tapi simbol tanggung jawab seorang lelaki Karo. Setiap motif menceritakan nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari," ujar Budayawan Karo sekaligus akademisi Unimed, Dr Pulumun Ginting, Rabu (1/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Motif garis dan susunan warnanya mencerminkan falsafah hidup orang Karo yaitu kesederhanaan, ketegasan, dan keterikatan dengan marga serta adat," sambungnya.
Pulumun menjelaskan, beka buluh membuktikan bahwa budaya Karo tidak hanya soal tradisi visual. Akan tetapi juga filosofi yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari.
"Dengan makna yang mendalam dan keindahan motifnya, beka buluh tetap menjadi simbol kebanggaan dan warisan budaya yang harus terus dijaga, di tengah arus perubahan zaman," katanya.
Motif khas beka buluh biasanya berupa garis-garis horizontal atau vertikal yang disusun dengan ritme tertentu. Motif ini mencerminkan struktur sosial dan keteraturan hidup dalam budaya karo.
Warna beka buluh dianggap mewakili keberanian, kekuatan, dan kesucian.
Artikel ini ditulis Olivia Andrea, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom
(mjy/mjy)











































