Kuliner khas Mandaling Natal (Madina) pucuk rotan muda atau kerap disebut pakat banyak diincar ketika bulan Ramadan. Pedagang yang menjajakan makanan ini pun kecipratan rejeki, omzet penjualan naik hingga 80 persen.
Pakat bukan sekedar makanan biasa, namun memiliki khasiat. Di dalam pakat ada kandungan air dan senyawa alami seperti vitamin C, Flavonoid, serta tanin.
Bagi masyarakat Mandailing dan penikmatnya, makanan satu ini tidak asing lagi. Pakat sering diburu menjelang berbuka puasa, tidak heran banyak menjadikanya jadi lalapan bersama nasi maupun lauk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, setelah seharian berpuasa, tubuh butuh cairan. Pakkat membantu mengganti itu, sekaligus memberi sensasi pahit yang justru terasa menyegarkan.
Salah satu pedagang, Fandy mengatakan dia sudah lama berjualan bersama kakaknya. Namun ketika bulan Ramadan, ia membuka lapak bersama temanya.
"Jualan sudah lama bersama kakak, lokasi lapaknya sebelah sana tidak jauh dari sini. Pakat ini banyak peminatnya dibandingakan hari biasa, sehingga omset penjualan naik berkisar 80 persen," ucapnya kepada detikSumut, Rabu(25/2/2026).
Fandi berjualan di jalan Letda Sujono, Kota Medan, ia mengaku membuka lapaknya sejak dari jam 09.00 hingga sore atau selesai berbuka.
"Kalau buka setiap hari dari jam 09.00 pagi sampai sore, dari pagi dah mulai dibeli sama pembeli yang tidak puasa. Jadi yang beli bukan hanya beragama muslim tapi semua kalangan, namun saat Ramadan semakin banyak dibeli untuk pendamping santapan berbuka," tambahnya.
Fady juga menuturkan kuliner khas Mandaling itu, enak disantap ketika panas dan dipadukan dengan sambal bawang merah. Ia sebut rasa dari pakat ada rasa pahit sedikit dan sepat
"Untuk rasanya ada rasa pahit sedikit dan sepat, tapi ketika dipotong-potong dipadukan dengan sambal khasnya semakin lezat disantap bersama nasi atau lauk," ucapnya.
Pria asal Tapsel itu, mengatakan rotan muda ia proleh dari Gunung Tua. Setiap harinya Pakat akan dikirim melalui bus.
"Rotan muda ini dikirim dari Gunung Tua, setiap hari nanti dikirimkan melalui bus. Setelah berada di tangan kita, langsung kita siapkan tempat pembakaranya dan dibakar hingga kulitnya menghitam. Ketika ada yang dibeli maka akan dikuliti," imbuhnya.
Untuk harganya, 3 buah Pakat kecil dibandrol seharga Rp 10.000 rupiah. Sedangkan yang besar 2 buah dibandrol seharga Rp10.000. Lalu sambal bawang merah Rp5000, sambal holat Rp5000 dan kecap asin besar Rp20.000 ribu rupiah.
Sementara itu, pedagang lainnya Endang, mengatakan bulan Ramadan penjualan meningkat. Dagangan musiman itu di jadikan lalapan berbuka dan rasa penasaran warga Medan meningkat karena makanan tersebut viral.
"Rame lah yang beli di bulan Ramadan, penjualan meningkat. Ketika Ramadan banyak membeli untuk lalapan puasa, selain itu makanan khas Mandailing viral sehingga mengundang penasaran warga Kota Medan," tandasnya.
Bagi detikers yang penasaran dengan kuliner khas Mandailing yang satu ini, bisa menemukanya di sepanjang jalan Letda Sujono, Kota Medan. Bagi detikers yang ingin mencoba jangan lupa beli sambalnya ya detikers!
(afb/afb)
