Batas Maksimal Cicilan Rumah Bisa Gaji Tak Cepat Habis

Batas Maksimal Cicilan Rumah Bisa Gaji Tak Cepat Habis

Sekar Aqillah Indraswari - detikSumut
Selasa, 20 Okt 2026 22:45 WIB
Ilustrasi Cicilan Rumah
Foto: Shutterstock
Medan -

Tidak semua orang memiliki uang untuk membeli rumah secara langsung, karena itu banyak yang memanfaatkan program Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Dengan mencicil, banyak yang bisa punya rumah impian.

Tapi untuk menentukan cicilan KPR rumah tidak bisa sembarangan, ada batas maksimal agar gaji yang diterima tidak cepat habis. Jumlah cicilan KPR yang idel harus ditentukan secara awal, tentu dengan mempertimbangkan besaran gaji atau pendapatan.

Maksud dari batas ideal besar cicilan ini adalah jumlah kredit yang bisa dibayar oleh detikers atau debitur dari penghasilan per bulan. Nggak mungkin kan gajinya UMR Jakarta Rp 5,7 juta tetapi cicilan rumahnya Rp 4 juta per bulan. Memangnya bisa Rp 1,7 juta untuk memenuhi kebutuhan?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perlu ada batasan besar cicilan yang bisa detikers ambil. Menurut Perencana Keuangan, Andy Nugroho, berdasarkan panduan umum yang diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), cicilan rumah atau jumlah utang yang ideal maksimal 30 persen dari penghasilan bulanan. Jika bisa di bawah itu, lebih baik.

ADVERTISEMENT

Sebagai contoh gaji detikers yang mau mengajukan KPR Rp 5,7 juta berarti 30 persen yang bisa dialokasikan untuk bayar kredit adalah sekitar Rp 1.710.000 per bulan. Nah, batasan ini yang bisa jadi acuan jika ternyata cicilan di atas itu berarti pilihannya harus cari pendapatan tambahan atau mencari rumah dengan harga yang lebih murah dan waktu cicilan yang lebih panjang.

Kita bisa mengetahui perkiraan besar cicilan KPR sebelum benar-benar mengajukan ke bank. Caranya dengan memakai simulasi kalkulator KPR melalui situs yang disiapkan oleh tiap bank. Bisa juga konsultasi langsung ke bank. Jadi bisa tahu gambarannya dan disesuaikan dengan jumlah penghasilan.

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad pernah menyarankan agar pengeluaran bulanan disesuaikan dengan besaran penghasilan yang masuk. Apabila penghasilan tidak menentu tiap bulannya, bisa membuat perkiraan dengan penghasilan terendah.

"Budget pengeluaran juga buat prioritas. Mana pengeluaran yg utama, misalnya konsumsi, biaya sekolah anak, pengeluaran keluarga," katanya dikutip detikProperti.

Ia membagi tips mengelola keuangan dengan komposisi pengeluaran, yakni untuk tabungan minimal 10 persen, cicilan maksimal 30 persen, pengeluaran rutin 40 persen, dan pengeluaran pribadi 20 persen.

Dia menambahkan, cicilan utang juga sebaiknya masuk dalam prioritas utama. Apalagi utang dengan nominal cukup besar, lebih baik dilunasi terlebih dahulu.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Timbang-timbang Wacana Prabowo Soal Tenor KPR 40 Tahun"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads