Sering Terpapar Kabut Asap? Kenali Bahaya PM2.5 dan PM10

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Jumat, 16 Okt 2026 08:00 WIB
Foto: (ANTARA/HO/Dokumentasi)
Medan -

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan. Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai pencemaran udara adalah particulate matter (PM), yakni partikel kecil berupa debu, asap, jelaga, dan tetesan cairan yang melayang di udara.

PM2.5 dan PM10 merupakan dua jenis partikulat yang sering digunakan dalam pemantauan kualitas udara. Keduanya dibedakan berdasarkan ukuran partikel, yang turut memengaruhi seberapa jauh partikel tersebut dapat masuk ke dalam sistem pernapasan.

PM10 adalah partikel dengan diameter aerodinamis 10 mikrometer atau lebih kecil. Sementara itu, PM2.5 merupakan partikel yang berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Sebagai gambaran, satu mikrometer setara dengan seperseribu milimeter.

Karena ukurannya lebih kecil, PM2.5 dapat menembus lebih dalam ke paru-paru dan sebagian partikelnya dapat masuk ke aliran darah. Sementara itu, PM10 juga dapat masuk ke saluran pernapasan, tetapi partikel yang lebih besar cenderung tertahan di bagian saluran pernapasan yang lebih atas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa paparan partikulat, terutama PM2.5, berkaitan dengan dampak kesehatan seperti gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular. Paparan jangka panjang juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru. Karena itu, ukuran partikel menjadi salah satu faktor penting dalam menilai risiko pencemaran udara.

Asap kebakaran hutan dan lahan mengandung campuran gas, uap, dan partikel. Pembakaran vegetasi dapat menghasilkan partikulat halus yang mencemari udara. Partikel tersebut dapat terbawa angin ke wilayah lain, sehingga dampaknya tidak selalu terbatas di sekitar lokasi kebakaran.

Penelitian Husnul Fahma dan rekannya yang diterbitkan dalam JFT: Jurnal Fisika dan Terapannya 2025 menganalisis konsentrasi PM2.5 dan PM10 di Kota Makassar selama periode 2019-2023. Penelitian menggunakan data sekunder dari Dinas Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar, khususnya wilayah Karebosi dan sekitarnya.



Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"


(astj/astj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork