Kualitas udara di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), masuk kategori tidak sehat akibat sebaran kabut asap. Kondisi itu membuat sebagian warga memilih memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan maupun ketika berkendara.
Salah seorang pengendara, Amel mengatakan dirinya sudah terbiasa memakai masker saat berkendara, bahkan sebelum kabut asap muncul di Kota Medan. Meski terkadang tidak menggunakannya, kondisi udara dalam dua hari terakhir membuatnya lebih berhati-hati.
"Saya sih selalu memakai masker saat berkendara. Sebelum adanya kabut asap di Kota Medan ini, saya sudah selalu pakai masker," kata Amel saat diwawancarai, Kamis (15/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memakai masker saat berkendara juga sudah menjadi kebiasaan menurut saya, namun terkadang ada kalanya saya tidak memakai. Tetapi melihat keadaan dua hari ini, saya lebih wanti-wanti dan memilih untuk memakai masker terus-terusan," sambungnya.
Amel mengatakan kondisi udara dalam dua hari terakhir terasa berbeda. Dia mengaku merasakan sedikit sesak dan pandangannya saat berkendara kurang nyaman akibat kabut asap
"Kondisi udara hari ini (Kamis) dan kemarin (Rabu) cukup berbeda, cukup terasa sedikit sesak. Terus pandangan juga nggak enak, agak kabur gitu," ujarnya.
Hal itu membuat Amel yang biasanya memakai masker hanya saat berkendara saja, kini dia memilih tetap mengenakannya ketika berada di luar rumah. Dia mengaku kini membatasi diri beraktivitas di luar ruangan akibat kualitas udara yang tidak sehat.
"Tentunya ada (perubahan). Saya biasanya selain berkendara sih jarang pakai masker. Tapi ini saya keluar doang juga pakai masker," kata Amel.
"Dan jujur saya memilih untuk tidak banyak melakukan aktivitas di luar, karena udaranya nggak nyaman juga," tambahnya.
Berbeda dengan Amel, pengendara lain bernama Putri mengaku tidak memakai masker saat berangkat dari rumah menuju tempat dirinya bekerja. Dia mengatakan saat itu terburu-buru.
"Saya tadi berangkat agak buru-buru karena sudah mau hujan. Saya juga pakai helm, jadi masih ngerasa aman sih dari asap," ujar Putri.
Putri menyadari kabut asap menyelimuti udara Kota Medan dalam dua hari terakhir. Namun, karena kurang menyukai penggunaan masker, maka dia memilih melindungi saluran pernapasannya dengan menggunakan jilbab.
"Ya, tentu sadar, kelihatan asapnya mulai memenuhi atmosfer Kota Medan. Tapi memang karena kurang suka pakai masker, jadi lebih milih nutup hidung pakai jilbab aja dulu," tuturnya.
Dia mengatakan baru akan menggunakan masker jika kabut asap yang muncul dirasa sudah parah.
"Kalau udah parah, biasanya iya, tapi kalau masih bisa bernapas, lebih milih nutup pakai kain, atau pakai alternatif lain," katanya.
Sementara itu, warga lainnya, Hanina, mengaku kabut asap memengaruhi aktivitas hariannya karena harus mengendarai sepeda motor untuk pergi-pulang ke tempat magang. Menurutnya, kondisi udara membuat jarak pandang di jalan semakin terbatas.
"Sangat memengaruhi, karena kan aku pengendara motor ya, dan setiap hari pulang pergi ke tempat kerja. Di tengah kabut asap gini, jarak pandang jadi makin menurun," kata Hanina.
"Mulai dari 2-3 km ke depan tuh udah putih semua, kurang jelas kelihatannya. Pastinya itu berbahaya kan ya untuk keselamatan," sambungnya.
Hanina juga mengaku baru sembuh dari sakit pada pekan sebelumnya. Dia mengatakan dokter telah mendiagnosisnya mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kini dia mengaku, di tengah kondisi udara yang diselimuti kabut asap, kembali merasakan gangguan pernapasan.
"Terus aku baru sembuh dari sakit juga minggu lalu, dokternya mendiagnosis ISPA. Ketambah kabut asap ini bikin napas jadi nggak leluasa, sesak. Batuk kering juga," ujarnya.
"Biasanya aku selalu pakai masker kalau naik motor, tapi kadang ada juga kondisi di mana aku pengen buka maskerku dulu supaya bisa menghirup udara segar dan biar nggak sumpek," kata Hanina.
Di tengah kondisi kabut asap yang dirasakannya sekarang, Hanina memilih tetap memakai masker saat berkendara.
"Nah, tapi karena kabut asap ini, mau nggak mau aku harus selalu pakai maskerku," tambahnya.
Artikel ini ditulis Muhammad Fikri Haikal Saragih, peserta Maganghub di detikcom
Simak Video "Video: Perjuangan Warga Menembus Asap, Jarak Pandang Terbatas Bahayakan Lalu Lintas"
[Gambas:Video 20detik] (mjy/mjy)
