Apa Itu PM2.5? Ini Cara Memantau Kualitas Udara di Jawa Timur

Apa Itu PM2.5? Ini Cara Memantau Kualitas Udara di Jawa Timur

Fathir Rofi - detikJatim
Senin, 19 Okt 2026 13:15 WIB
Foto lanskap wilayah metropolitan yang diselimuti kabut asap (smog) tebal akibat polusi kendaraan dan industri. Kondisi visual ini merepresentasikan situasi nyata saat angka ISPU melonjak ke tingkat tidak sehat akibat akumulasi partikel halus PM2.5 yang melayang di udara.
Ilustrasi ukuran PM2.5 yang sering mencemari kota metropolitan. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Mengenal PM2.5 dan Indeks Kualitas Udara di Jatim, Ini Bahayanya bagi Kesehatan

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan masyarakat. Salah satu polutan yang perlu diwaspadai adalah particulate matter (PM), yakni partikel kecil berupa debu, asap, jelaga, dan material lain yang melayang di udara.

PM2.5 dan PM10 merupakan dua jenis partikulat yang umum digunakan dalam pemantauan kualitas udara, yang dibedakan berdasarkan ukuran diameternya. PM10 memiliki diameter 10 mikrometer atau lebih kecil, sedangkan PM2.5 memiliki diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbedaan ukuran ini sangat mempengaruhi dampaknya terhadap kesehatan. PM2.5 dapat menembus lebih dalam ke paru-paru hingga sebagian partikelnya masuk ke aliran darah, sementara partikel yang lebih besar cenderung tertahan di saluran pernapasan atas.

Mengapa PM2.5 Sering Menjadi Perhatian dalam Pemantauan Kualitas Udara?

PM2.5 mendapat perhatian khusus karena ukurannya yang sangat kecil dan kemampuannya menembus jauh ke dalam organ pernapasan. Partikel ini dapat bersumber dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembangkit listrik, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan.

ADVERTISEMENT

Selain itu, PM2.5 dapat terbentuk melalui reaksi kimia gas di atmosfer, sehingga sumber pencemarannya tidak selalu dapat dikenali hanya dari kepulan asap di sekitar lokasi. Di Indonesia, kualitas udara ambien dipantau melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 14 Tahun 2020.

Apa Saja Sumber Polusi PM2.5?

Dilansir dari laman WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), PM2.5 dapat berasal dari aktivitas manusia maupun proses alami yang dipengaruhi kondisi wilayah serta cuaca. Beberapa sumber utama polusi PM2.5 meliputi sebagai berikut.

  • Kendaraan bermotor, terutama dari emisi pembakaran bahan bakar.
  • Pembangkit listrik dan kegiatan industri yang menghasilkan partikulat dari proses produksi serta pembakaran.
  • Pembakaran sampah dan biomassa, termasuk kayu serta bahan organik lainnya.
  • Aktivitas rumah tangga, seperti memasak atau memanaskan ruangan menggunakan bahan bakar berisiko tinggi asap.
  • Asap rokok yang mengandung campuran partikulat dan zat berbahaya.
  • Kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan partikel halus penurun kualitas udara.

Apa Dampak PM2.5 bagi Kesehatan?

WHO menyatakan paparan partikulat dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Paparan PM2.5 dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi mata, saluran pernapasan, batuk, sesak napas, serta memperburuk kondisi penderita asma.

Sementara itu, paparan jangka panjang berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan jantung, hingga kanker paru-paru. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru harus memberikan perhatian lebih terhadap kualitas udara harian.

Bagaimana Cara Memantau Kualitas Udara di Jawa Timur?

Masyarakat dapat memantau kualitas udara melalui sistem ISPU resmi yang disediakan pemerintah. Kondisi udara di Jawa Timur dapat berbeda di setiap daerah dan berubah sepanjang hari.

Sebagai contoh, berdasarkan data Pemkot Surabaya pada Oktober 2026, Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes menunjukkan PM2.5 menjadi parameter kritis dengan kategori Tidak Sehat pada pukul 06.00-09.00 WIB, yang dipengaruhi emisi lokal dan aktivitas perkotaan, bukan karhutla luar wilayah.

Untuk informasi akurat, masyarakat diimbau mengecek portal resmi ISPU Kementerian Lingkungan Hidup atau kanal BMKG Iklim Jatim, serta memahami bahwa standar ISPU Indonesia memiliki metode penilaian yang berbeda dengan AQI internasional.

Cara Mengurangi Paparan PM2.5 Saat Kualitas Udara Memburuk

Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dapat melakukan langkah-langkah perlindungan berikut:

  • Mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama saat indeks kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
  • Membatasi diri di area berasap serta menutup pintu dan jendela guna mencegah polutan masuk ke dalam ruangan.
  • Memastikan kelompok rentan berhati-hati dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala sesak napas atau nyeri dada.
  • Menggunakan respirator khusus seperti masker N95 dengan benar apabila terpaksa beraktivitas di luar ruangan saat polusi pekat.
  • Memahami jenis polutan yang paling umum ada di lingkungan sekitar untuk mengenali risiko pencemaran udara.

Dengan memantau ISPU, mengikuti imbauan pemerintah, dan mengurangi paparan saat kualitas udara memburuk, masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk melindungi kesehatan.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads