Terpidana kasus pembunuhan di Amerika Serikat, Christa Pike, telah sadar setelah sebelumnya menjalani perawatan medis akibat kegagalan eksekusi hukuman mati dengan metode suntik. Pengacara Pike kemudian mengungkapkan ucapan pertama yang disampaikan kliennya setelah siuman.
Dilansir detikNews dari BBC, Kamis (8/10/2026), Pike pertama kali bertanya, 'Di mana saya?' dan 'Siapa Anda?'.
Pengacara Pike, Randy Spivey, mengatakan tim hukumnya sempat menduga Pike mengalami mati otak selama beberapa hari. Mereka bahkan memperkirakan alat bantu kehidupan yang menopangnya akan segera dihentikan. Namun, kondisi tersebut berubah secara tak terduga ketika Pike mulai berbicara pada Selasa (6/10), meski ingatannya mengenai proses eksekusi yang dijalaninya masih sangat terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Spivey, sebelum menjalani eksekusi, Pike sempat membantu petugas menemukan pembuluh darah di lengannya. Ia juga disebut tetap bersikap ramah dan sopan selama proses penyuntikan berlangsung. Setelah itu, Pike sadar di rumah sakit dalam kondisi tenggorokannya terpasang selang dan dikelilingi orang-orang yang tidak dikenalnya. Spivey mengatakan kedua lengan Pike kini mengalami 'bengkak parah'.
"Kami tidak tahu dampak apa yang akan ditimbulkan oleh semua ini terhadap kesehatan mentalnya," kata Spivey. Ia menyebut Pike kini merasa 'marah dan bingung' setelah melalui pengalaman tersebut.
Selain itu, Pike diketahui mengalami pembekuan darah pada salah satu lengannya. Ia juga menderita pneumonia dan belum mampu menelan. Pike diyakini menjadi satu-satunya narapidana yang diketahui selamat dari pelaksanaan eksekusi dengan suntikan mati.
Pike sebelumnya dibawa ke rumah sakit setelah dipastikan tidak meninggal meski telah menerima dua dosis pentobarbital. Ia sempat berada dalam kondisi tidak sadar selama beberapa hari. Tim medis kemudian berupaya mengeluarkan zat kimia yang telah masuk ke dalam tubuhnya akibat proses eksekusi tersebut.
Sementara itu, tim kuasa hukum Pike telah meminta hakim menggelar sidang darurat. Dalam persidangan tersebut, mereka meminta agar seluruh barang dan bukti yang berkaitan dengan kegagalan eksekusi disimpan serta diamankan. Bukti tersebut nantinya berpotensi digunakan sebagai dasar untuk mengajukan gugatan terhadap negara bagian.
Salah satu pengacara Pike, Luke Ihnen, dalam keterangannya menjelaskan adanya sejumlah 'kendala' yang membuat komunikasi dengan kliennya sulit dilakukan.
"Hingga kemarin, klien kami tidak sadarkan diri dan tidak dapat berkomunikasi," ujarnya kepada Hakim Chancellor I'Ashea Myles. Saat ini, lanjutnya, Pike sudah bisa 'berbicara secara terbatas'.
Asisten Jaksa Agung Tennessee, Will Ayers, menyebut kasus tersebut memiliki 'situasi prosedural yang tidak lazim'. Pernyataan tersebut juga mendapat persetujuan dari hakim.
Menurut Ayers, permohonan darurat yang diajukan pihak Pike sebenarnya tidak diperlukan karena negara bagian pada dasarnya sudah memiliki kewajiban untuk menjaga serta mengamankan seluruh bukti. Meski demikian, Hakim Myles tetap memerintahkan agar 'segala sesuatu yang berada di dalam ruangan eksekusi harus disimpan dan diamankan'. Perintah itu mencakup selang infus, jarum suntik, serta berbagai limbah dan dokumen terkait, termasuk kemasan, lembar informasi produk, dan label.
Hakim juga meminta agar kondisi psikologis Pike didokumentasikan secara menyeluruh, baik sebelum, ketika, maupun setelah pelaksanaan upaya eksekusi yang gagal pada 30 September.
Pike dijatuhi hukuman mati karena membunuh Colleen Slemmer bersama kekasihnya pada 1995. Pada 30 September di Tennessee, ia tetap hidup setelah dua kali upaya pemberian suntikan mati dilakukan.
Tim hukumnya bersama sejumlah ahli menyebut kondisi Pike sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hingga kini, tidak diketahui adanya narapidana lain di Amerika Serikat yang berhasil selamat setelah eksekusi suntik mati dilakukan oleh petugas.
