Pernah sedang menonton YouTube atau video streaming, tetapi tiba-tiba gambar berhenti dan muncul tanda buffering? Kondisi ini bisa terjadi meski koneksi internet terasa cepat.
Pasalnya, kelancaran streaming tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya kecepatan internet. Ada beberapa parameter jaringan yang ikut mempengaruhi, seperti latensi, throughput, jitter, dan packet loss. Penelitian tentang kualitas layanan video streaming menunjukkan parameter-parameter tersebut dapat mempengaruhi pengalaman pengguna.
Dalam penelitian Pengaruh Latensi terhadap Kualitas Layanan (QoS) dalam Video Streaming Real-Time yang diterbitkan di JUTECH: Journal Education and Technology 2025, peneliti menguji video streaming dengan tingkat latensi berbeda, mulai dari 50 hingga 300 milidetik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, semakin tinggi latensi, semakin lama pula waktu buffering awal. Pada latensi 50 milidetik, buffering awal tercatat 0,8 detik. Angka tersebut meningkat menjadi 4,1 detik ketika latensi mencapai 300 milidetik. Jumlah video berhenti sementara atau stalling juga meningkat dari 0 menjadi 5 kali.
Penelitian menunjukkan bahwa latensi bukan sekadar angka teknis. Ketika jeda pengiriman data semakin besar, pengalaman pengguna saat menonton juga ikut menurun. Penelitian itu menyebut latensi di atas 150 milidetik dapat menurunkan kualitas pengalaman pengguna secara signifikan.
Penelitian lain berjudul Pengiriman Video Secara Live Streaming Menggunakan Dynamic Adaptive Streaming over HTTP (DASH) yang diterbitkan di Jurnal ELEMENTER 2020 menemukan bahwa keterbatasan bandwidth dan tingginya trafik jaringan dapat memperlambat pengiriman video dan menyebabkan buffering.
Penelitian menunjukkan, semakin banyak perangkat yang mengakses video secara bersamaan, nilai throughput semakin kecil dan delay semakin besar. Dengan kata lain, banyaknya pengguna yang berbagi jaringan dapat mempengaruhi kelancaran streaming.
Menariknya, sistem streaming seperti Dynamic Adaptive Streaming over HTTP (DASH) dirancang untuk menyesuaikan kualitas video dengan kondisi jaringan. Video disediakan dalam beberapa tingkat bitrate sehingga perangkat dapat memilih kualitas yang sesuai dengan kemampuan jaringan saat itu.
Penelitian Analisis Kualitas Layanan Video Live Streaming pada Jaringan Lokal Universitas Telkom dalam Buletin Pos dan Telekomunikasi, menjelaskan bahwa kualitas streaming berkaitan dengan beberapa parameter Quality of Service (QoS), termasuk delay, jitter, packet loss, dan throughput.
Jitter merupakan variasi waktu kedatangan paket data. Sementara itu, packet loss terjadi ketika paket data gagal sampai ke tujuan. Keduanya dapat mengganggu proses penerimaan dan rekonstruksi video. Penelitian tersebut menjelaskan, ketika data dikirim lebih cepat daripada bandwidth yang tersedia, dapat terjadi kemacetan jaringan (congestion), packet loss, dan penurunan kualitas video.
Jadi, ketika video buffering, masalahnya belum tentu karena paket internet yang "lambat". Bisa saja koneksi sedang mengalami latensi tinggi, jaringan sedang padat, throughput menurun, atau terjadi gangguan dalam pengiriman paket data.
Kecepatan internet bukan satu-satunya penentu kelancaran streaming. Kondisi jaringan secara keseluruhan dan kemampuan layanan menyesuaikan kualitas video juga berperan dalam menentukan apakah video dapat diputar mulus atau justru berhenti di tengah jalan.
Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Seberapa Kencang 5G Telkomsel di Bali?"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
