Pernah merasa waktu tidur semakin berkurang karena masih sibuk bermain ponsel, menonton video, atau berselancar di media sosial? Kebiasaan menggunakan perangkat dengan layar dalam waktu lama memang kerap dikaitkan dengan masalah tidur.
Screen time merupakan waktu yang dihabiskan seseorang menggunakan perangkat elektronik yang memiliki layar, seperti smartphone, televisi, laptop, tablet, maupun perangkat digital lainnya. Penelitian di Indonesia menemukan adanya hubungan antara durasi screen time dan salah satu gangguan tidur pada remaja, yakni insomnia.
Penelitian berjudul Durasi Screen Time dengan Gangguan Tidur Remaja dalam Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO) 2024 menyatakan hasil analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara durasi screen time dan insomnia, dengan nilai p=0,036. Sementara itu, hubungan antara screen time dan beberapa gangguan tidur lainnya dalam penelitian tersebut tidak menunjukkan hasil yang signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa semua gangguan tidur otomatis terjadi akibat screen time. Namun, semakin lama durasi penggunaan layar dalam penelitian itu berkaitan dengan semakin tingginya kemungkinan mengalami insomnia.
Temuan serupa dalam penelitian lain, diterbitkan di Cureus 2024 The Impact of Screen Time on Sleep Patterns in School-Aged Children: A Cross-Sectional Analysis.
Penelitian tersebut melibatkan 1.000 anak usia 6-14 tahun yang dibagi ke dalam kelompok dengan screen time rendah dan tinggi. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan pada sejumlah indikator tidur. Kelompok dengan screen time rendah memiliki efisiensi tidur sebesar 90 persen, sedangkan kelompok dengan screen time tinggi sebesar 75 persen.
Kelompok screen time tinggi juga mengalami lebih banyak terbangun pada malam hari, yaitu rata-rata 1,5 kali per minggu, dibandingkan kelompok screen time rendah yang rata-rata 0,5 kali per minggu. Tingkat kantuk pada siang hari juga lebih tinggi pada kelompok dengan screen time tinggi, yakni 60 persen dibandingkan 20 persen.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kelompok dengan screen time tinggi memiliki variasi durasi tidur akhir pekan yang lebih besar dan risiko gangguan ritme sirkadian yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan screen time rendah.
Dua penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara tingginya screen time dan masalah tidur. Pada penelitian remaja di Sumedang, durasi screen time berhubungan signifikan dengan insomnia. Sementara penelitian pada anak usia sekolah menunjukkan screen time yang lebih tinggi berkaitan dengan efisiensi tidur yang lebih rendah, lebih sering terbangun pada malam hari, serta lebih banyak mengantuk pada siang hari.
Hasil penelitian tersebut sebaiknya tidak diartikan sebagai bukti bahwa screen time secara langsung menjadi satu-satunya penyebab seseorang kekurangan tidur. Penelitian Cureus sendiri mencatat bahwa hubungan antara screen time dan berbagai kondisi tersebut tidak serta-merta membuktikan hubungan sebab-akibat. Semakin lama seseorang menggunakan perangkat dengan layar memang berkaitan dengan sejumlah masalah tidur dalam penelitian yang ada, tetapi kualitas dan pola tidur juga dapat dipengaruhi berbagai faktor lainnya.
Mengatur durasi penggunaan layar, terutama menjelang waktu tidur, dapat menjadi salah satu bagian dari kebiasaan tidur yang lebih sehat. Penelitian Cureus juga menyoroti pentingnya lingkungan kamar yang bebas layar dan rutinitas tidur yang konsisten untuk mendukung kualitas tidur.
Artikel ini ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
