53 Ribu Orang Kena PHK Sepanjang 2026, Serikat Buruh Ungkap Penyebabnya

Ilyas Fadilah - detikSumut
Minggu, 27 Sep 2026 09:00 WIB
Foto: Getty Images/nathaphat
Jakarta -

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah PHK sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 53 ribu orang. Serikat Buruh memperkirakan angka PHK yang tinggi diakibatkan kondisi global.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyebut lonjakan PHK tidak semata-mata disebabkan melemahnya daya beli. Ia menilai ada 4 penyebab tingginya angka PHK.

"Beberapa perusahaan yang saya datang itu penyebab daripada PHK karena si buyer yang memberi pekerjaan ke perusahaan tekstil, itu menghentikan ordernya. Karena apa? Karena situasi global yang kurang baik," kata Said dikutip detikFinance Sabtu (26/9/2026).

"Ada perang, kemudian permintaan di pasar internasional menurun, dan juga daya beli masyarakat internasional menurun. Kalau penyebab seperti ini, yaitu menurunnya daya beli internasional dan adanya perang, kan nggak bisa dihindari. Karena order itu berasal dari internasional," sambung dia.

Kondisi tersebut terutama dirasakan industri garmen, tekstil, dan alas kaki yang memproduksi barang untuk merek-merek global. PHK banyak terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Barat, kemudian sebagian di Banten.

Faktor kedua, yang menekan perusahaan adalah kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga energi dan bahan baku. Pelemahan rupiah juga menjadi tekanan bagi industri yang masih menggunakan bahan baku impor.

Perusahaan harus membeli bahan baku menggunakan dolar AS, sementara sebagian produknya dijual dalam rupiah di pasar domestik. Kondisi ini membuat ongkos produksi naik sehingga berujung pada efisiensi.

"Jadi begitu mereka beli pakai dolar, menjualnya pakai rupiah untuk pasar domestik. Itu memukul juga. Akhirnya cost produksi naik, cost produksi naik, kost produksi naik, maka mereka melakukan efisiensi," jelasnya.

Faktor ketiga adalah melemahnya daya beli masyarakat di dalam negeri yang terjadi bersamaan dengan masuknya produk impor, terutama dari China. Menurut Said, kondisi tersebut membuat produk dalam negeri semakin tertekan karena konsumen cenderung memilih barang dengan harga lebih murah.

"Akhirnya perusahaan-perusahaan di Indonesia yang pasarnya untuk domestik kepukul. Akhirnya melakukan efisiensi PHK. Itulah faktor-faktor PHK," ujarnya.

Faktor keempat adalah keputusan prinsipal untuk memindahkan kegiatan produksi dari Indonesia. Said mencontohkan Sanken di Cikarang yang menurutnya memutuskan memindahkan produksinya kembali ke Jepang.

"Itu kebijakan prinsipal. Dengan demikian ada empat faktor itu yang menyebabkan terjadinya angka PHK memang melonjak tajam dari Januari ke Agustus,"



Simak Video "Video Prabowo Tawarkan Kaum Buruh Daycare dan Rumah di Kawasan Pabrik"


(astj/astj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork