Pencurian Sawit Ganggu Produksi, Petani dan Pekerja Ikut Terancam

Pencurian Sawit Ganggu Produksi, Petani dan Pekerja Ikut Terancam

Kartika Sari - detikSumut
Jumat, 25 Sep 2026 15:21 WIB
Pekerja membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk di Mamuju Tengah , Sulawesi Barat, Rabu (11/08/2021). Harga TBS kelapa sawit tingkat petani sejak sebulan terakhir mengalami kenaikan harga dari Rp1.970 per kilogram naik menjadi Rp2.180  per kilogram disebabkan meningkatnya permintaan pasar sementara ketersediaan TBS kelapa sawit berkurang. ANTARA FOTO/ Akbar Tado/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/AKBAR TADO
Medan -

Aksi pencurian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di perkebunan kini bukan lagi hanya menimbulkan kerugian ekonomi. Namun, hal ini juga ikut mengganggu produksi dan menimbulkan ancaman bagi pekerja serta petani yang beraktivitas di perkebunan.

Ketua Serikat Pekerja Perkebunan (SP BUN), Virman Yuswardi Manik atau Jayus mengungkapkan bahwa pencurian TBS itu dilakukan secara berkelompok. Oknum menggunakan penutup wajah dan melakukan perlawanan saat berhadapan dengan petugas keamanan maupun pekerja.

"Kami ini bekerja secara halal untuk menafkahi keluarga. Namun di lapangan, satpam dan pekerja sering kali harus bertaruh nyawa menghadapi sindikat pencuri yang beringas dan main fisik. Yang dihadapi bukanlah orang kelaparan melainkan oknum oknum berbadan sehat yang bertindak agresif. Penegakan hukum yang tegas mutlak diperlukan agar ada efek jera," ungkap Jayus, Jumat (25/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Jayus, dalam sejumlah kasus penindakan, barang bukti yang diamankan mencapai sekitar 10 tandan atau sekitar 160 kilogram TBS dalam sekali angkut. Apabila dikalkulasikan, hasil TBS yang dicuri bernilai Rp 700 ribu per hari, nilainya mencapai Rp 4,9 juta dalam sepekan dan sekitar Rp 21 juta dalam satu bulan.

ADVERTISEMENT

Dampak pencurian sawit juga turut dirasakan petawi swadaya, Sularno. Ia menyebut aksi pencurian TBS membuat para petani rakyat dengan lahan terbuka semakin resah.

"Kami para petani ini merasa senasib dengan kebun perusahaan. Jujur saja kami was-was luar biasa. Logikanya begini, kalau kebun perusahaan yang besar, dipagar, dan dijaga ketat oleh petugas saja berani mereka jarah terang-terangan, apalagi kebun kami masyarakat kecil yang lahannya sempit dan terbuka? Habis kebun kami disikat mereka," kata Sularno.

Menurutnya, keamanan menjadi hal penting bagi petani karena hasil panen merupakan sumber penghasilan utama. "Kami sangat bergantung pada ketegasan aparat penegak hukum. Sikat habis pelakunya, biar kami petani kecil bisa bertani dan tidur tenang," lanjutnya.


GAPKI: Ada yang Keluar Puluhan Ton Sehari

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono juga menyoroti skala pencurian sawit yang dialami sejumlah daerah kebun sawit.

Ia menilai, ada sejumlah kasus pencurian dengan jumlah TBS yang keluar dari kebun mencapai puluhan ton dalam sehari.

"Seperti salah satu penjarahan yang terjadi, itu luar biasa. Satu hari bisa puluhan ton yang keluar dari kebun, dan mereka terang-terangan menjarah. Ini menunjukkan keberanian kelompok terstruktur yang harus segera ditindak," ujar Eddy.

Lebih lanjut, Eddy menyebut bahwa volume TBS yang hilang dari perkebunan berpotensi mempengaruhi produksi sawit sekaligus menambah kerugian bagi pengelola perkebunan.

Tak hanya itu, perusahaan juga menghadapi masalah keamanan pekerja karena aktivitas pencurian tentunya akan berbenturan dengan pekerja.

PTPN IV Perkuat Pencegahan

VP Corporate Communication PTPN IV, Achmad Dipoprawiro, mengatakan pencegahan pencurian sawit dilakukan melalui dua pendekatan, yakni memperkuat hubungan perkebunan dengan masyarakat sekitar serta meningkatkan sistem keamanan di area perkebunan. Menurut Achmad, penguatan hubungan sosial dilakukan dengan membangun keterlibatan masyarakat sekitar dalam berbagai aktivitas perkebunan. Salah satunya melalui penerimaan tenaga kerja dari masyarakat setempat.

Selain itu, perusahaan juga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat melalui kemitraan dengan pelaku usaha lokal, pemberian modal usaha, serta pelatihan dan pengembangan kapasitas bagi pelaku UMKM dan kelompok masyarakat.

Di bidang pendidikan, kata Achmad, perusahaan juga berkontribusi melalui penyediaan lahan dan bangunan sekolah di wilayah terpencil, penyediaan tenaga pengajar, bantuan sarana dan prasarana pendidikan, beasiswa hingga dukungan digitalisasi sekolah.

Hal tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat sekaligus menekan berbagai persoalan sosial di sekitar wilayah perkebunan, termasuk penyalahgunaan narkoba di kalangan pemuda. Bantuan kepada masyarakat juga diberikan sesuai dengan kebutuhan di masing-masing wilayah, mulai dari sektor sosial, keagamaan hingga olahraga.

"Tujuannya meningkatkan engagement masyarakat terhadap perkebunan," kata Achmad.

Sementara dari sisi keamanan, PTPN IV memperkuat pengamanan melalui penambahan petugas, patroli rutin serta pemanfaatan teknologi. Perusahaan juga menjalin koordinasi dengan pemerintah, aparat keamanan dan penegak hukum untuk melakukan penjagaan sekaligus penanganan apabila terjadi pencurian sawit.

Selain pengamanan, Achmad menyebut jika perusahaan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para pemangku kepentingan mengenai risiko dan dampak pencurian TBS.

Menurut Achmad, pendekatan sosial dan pengamanan tersebut dilakukan secara bersamaan agar pencegahan pencurian tidak hanya mengandalkan tindakan setelah kejahatan terjadi, tetapi juga memperkuat hubungan perkebunan dengan masyarakat di sekitarnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: KLH Usut 19 Perusahaan Terkait Kebakaran Lahan 11 Ribu Hektare "
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads