Seorang lansia bernama Miah (73) atau yang akrab disapa Nek Mek tinggal di rumah yang tak layak. Kondisi rumah Miah hampir ambruk dan berbahaya bagi penghuninya.
Menanggapi hal itu, Lurah Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Irfan Jamal Zebua menyebut, pihaknya dari Kelurahan Belawan I akan melakukan pembongkaran dan perbaikan kondisi rumah Miah.
"Ya, Insyaallah kita bantu ya semaksimal mungkin. Kita akan nanti rencanakan kita akan bongkar dan kemudian kita akan (bangun) selayaknya lah, kira-kira," ujar Irfan saat dikonfirmasi, Jumat (18/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Irfan, pihaknya juga sudah sempat menemui Miah atau yang akrab disapa Nek Mek dan meminta untuk pindah sementara. Namun, ia menyebut Nek Mek masih enggan untuk diungsikan selama rumahnya dibongkar.
"Dan sepengetahuan kami, kemarin waktu di lapangan itu menanyakan sama beliau, nenek ini memang agak susah. Dia susahnya, dia enggak mau pindah walau sama tetangganya. Nah, sementara kita kalau dibongkar rumah itu kan dia kan akan terkena kayu atau imbas dari pembongkaran kayu," ungkapnya.
Irfan juga membenarkan bahwa bantuan sosial yang diterima Nek Mek terkendala KTP anggota keluarga yang digunakan untuk pinjaman online (pinjol). Menurut Irfan, saat ini pihaknya tengah mencoba melakukan pemisahan Kartu Keluarga (KK) antara Nek Mek dan anak-anaknya agar bisa menerima tetap menerima bantuan.
"Ini nanti kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk kembali lagi dipulihkan bantuannya. Jadi mekanismenya nanti biar dipisah KK-nya sama anak-anaknya gitu. Sementara yang buat pinjol ini anak atau cucunya yang satu KK dengan beliau," katanya.
Dikatakan Irfan, saat ini pihak kelurahan tengah mencoba membujuk agar Nek Mek mau diungsikan sementara di rumah tetangga untuk dilakukan perbaikan kondisi rumah.
"Kemarin sempat kami bujuk supaya entah di tempat tetangga yang sebelah supaya mau dibongkar. Sementara aja. Kemarin, kemarin informasinya dia enggak mau. Tapi kita akan coba semaksimal mungkin. Hari ini juga kita akan turun ke lapangan supaya membujuk dia. Karena kondisi saat ini sangat prihatin, kasihan juga sama nenek ini," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Miah (73) atau lebih dikenal dengan Nek Mek merupakan warga Lingkungan 26, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan.
Belakangan videonya beredar di media sosial lantaran rumahnya yang hampir ambruk.
"Kemarin waktu hujan, petir besar itu. Rumah inikan ada lotengnya, yasudah yang atas itu semua roboh ke bawah. Nenek masih di bawah, lagi berbaring. Ya terkejut karena jatuh kayu-kayunya semua ke bawah," ujar Nek Mek saat ditemui di kediamannya, Kamis (17/9/2026).
Dalam video yang beredar tersebut, rumah Nek Mek tampak amblas di bagian atas dan menimpa bagian bawahnya. Warga sekitar terlihat membantu membereskan runtuhan kayu-kayu di bagian atas rumah.
Dari amatan detikSumut pada Kamis (17/9/2026), rumah Nek Mek kini tampak miring ke samping dan hampir ambruk.
Puing-puing kayu bekas loteng di rumah Nek Mek bagian atas telah dibereskan. Kini yang tersisa hanya bagian rumah di lantai bawah dan atap yang ditutupi barang-barang bekas seperti kasur lipat dan terpal.
Nek Mek bercerita kejadian rumahnya ambruk terjadi sekitar dua hari yang lalu yakni pada Selasa (15/9/2026). Saat itu ada angin kencang disertai petir.
"Perasaan Nenek ya, macam manalah ya, mau dibangun enggak ada uangnya. Apa adanya ajalah. Tahan jugalah Nenek kemarin untung juga tidak jebol ke bawah kenalah Nenek, orang Nenek kan enggak bisa berdiri, enggak bisa lari. Terpaksa merangkak-rangkaklah, lama-lama keluar jugalah, bisa keluar (dari rumah)," katanya.
Nek Mek menyebut, dirinya sudah tinggal di rumah tersebut sekitar 20 tahun. Rumah ini merupakan peninggalan keluarga almarhum suaminya.
"Waktu itu abang ipar sakit, dia pisah dengan istrinya. Jadi minta almarhum suami Nenek untuk menjaganya, pesannya kalau dia sudah meninggal rumah ini untuk suami Nenek," ungkap Nek Mek.
Sejak kejadian rumahnya yang hampir ambruk, Nek Mek mengaku tidak merasa aman untuk tidur di rumah. Namun karena keterbatasan kondisi, dirinya beserta anak dan cucunya terpaksa tetap tidur di rumah.
"Sempat juga nyewa di tempat tetangga karena kondisi rumah sudah enggak layak. Tapi duitnya kan pas-pasan, jadi ya mau gak mau tetap harus di sini juga (tidurnya)," ujarnya.
Nek Mek bercerita, suaminya yang bekerja sebagai nelayan meninggal sekitar 25 tahun yang lalu karena tersambar petir saat melaut.
Sejak suaminya meninggal, Nek Mek mengaku bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Itu kadang sedekah, orang ada sedekah (untuk makan). Kalau anak tuh ada sikit-sikit nanti kasih juga. Ya duitnya untuk bayar listrik, kalau ada sisa baru untuk masak. Terkadang adapun tak makan Nenek sampai 3 hari, 2 hari. Ya biasalah, kalau Nenek ini tak makan 2 hari, 3 hari sudah biasa," katanya.
Nek Mek mengaku khawatir dengan kondisi rumahnya yang hampir ambruk. Ia berharap pemerintah memberikan bantuan untuk memperbaiki kondisi rumahnya tersebut.
"Ya kalau khawatir pasti ada, kalau hujan atau angin lagi terus ambruk ke bawah macam mana. Itulah yang ditakutkan. Kalau berharap dibantu ya pasti, tapi kan kita meminta, kalau ada ya dibantu, kalau enggak ada ya gimana namanya kita meminta," ungkapnya.
Bantuan Terputus Karena Pinjol
Nek Mek menyebut bantuan yang biasa ia terima dari pemerintah terputus lantaran KTP nya dipakai untuk pinjaman online (pinjol).
"Waktu itu anak saya pakai untuk ambil duit 200 ribu katanya, sudah butuh kali untuk kebutuhan kami juga. Saya bilang yasudah pakailah. Saya enggak tahu namanya apa, tapi gara-gara itu jadi enggak dapat lagi bantuan," katanya.
Anak Nek Mek, Mariani (52) mengatakan saat ini pihak Program Keluarga Harapan (PKH) tengah mengurus agar bantuan tetap bisa diproses.
"Cuma kemarin dari PKH katanya sudah diurus dan sedang proses," ungkap Mariani.
