Naik tangga hingga membuat napas terengah-engah atau ngos-ngosan merupakan hal yang cukup wajar. Namun, jika rasa sesak muncul secara berlebihan, terutama saat melakukan aktivitas ringan dan terjadi berulang kali, kondisi tersebut sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai tanda tubuh sedang tidak bugar. Keluhan tersebut bisa saja berkaitan dengan gangguan irama jantung atau aritmia.
Spesialis jantung dan pembuluh darah dr Budi Ario Tejo, SpJP(K) dari Siloam Hospitals TB Simatupang menjelaskan bahwa sesak napas ketika melakukan aktivitas seperti menaiki tangga tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami aritmia.
"Bisa dari kapasitas fungsional jantungnya itu sendiri. Dengan kata lain mungkin exercise-nya kurang, jadi jantungnya kurang terlatih," kata dr Budi ketika temu media daring, dilansir detikHealth, Kamis (3/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, sesak yang terasa berlebihan saat melakukan aktivitas fisik ringan juga dapat menjadi tanda adanya gangguan pada irama maupun fungsi jantung. Salah satu kondisi yang mungkin terjadi adalah bradikardia.
Sebagai informasi, bradikardia merupakan kondisi ketika denyut jantung seseorang berada di bawah batas normal, yakni kurang dari 60 kali per menit saat tubuh sedang beristirahat.
"Kondisi lain adalah ada masalah dari irama jantungnya, atau bisa juga masalah pompa jantungnya. Di mana kemampuan pompa jantungnya berkurang, sehingga pada beban jantung yang tidak terlalu tinggi sudah timbul keluhan," katanya.
Untuk mengetahui kemungkinan adanya bradiaritmia, salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah respons denyut jantung ketika tubuh melakukan aktivitas.
"Kalau untuk menyingkirkan bradiaritmianya, kita tes saja pada saat naik tangga, laju jantungnya naik atau nggak? Kalau pada saat naik tangga atau aktivitas lain laju jantungnya tidak bergeming, ada kemungkinan terjadi gangguan irama," lanjutnya.
Pada pasien yang mengalami bradiaritmia atau bradikardia tertentu, penanganannya dapat dilakukan dengan pemasangan alat pacu jantung permanen atau pacemaker. Perangkat tersebut tersedia dalam bentuk konvensional maupun teknologi yang lebih baru, seperti leadless pacemaker yang tidak menggunakan kabel.
Pemilihan jenis alat pacu jantung tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien. Tidak semua pasien cocok menggunakan pacemaker konvensional sehingga dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan teknologi yang lebih modern.
"Biasanya yang usianya sangat lanjut, biasanya ringkih, kulitnya tipis, itu kalau misalnya kami lakukan pemasangan pacemaker yang standar itu risiko infeksi tinggi," katanya.
Kondisi lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah pasien yang menjalani cuci darah secara rutin dan membutuhkan akses pada pembuluh darah berukuran besar.
"Atau pada pasien dengan cuci darah, yang harus rutin cuci darah rutin dengan akses pembuluh darah besar," tutupnya.
