165 Orang Tewas Akibat Bandir Bandang di Nepal, Ratusan Hilang

Internasional

165 Orang Tewas Akibat Bandir Bandang di Nepal, Ratusan Hilang

Tim detikNews - detikSumut
Kamis, 27 Agu 2026 11:21 WIB
Houses lie partially submerged in muddy water along a riverside after flash floods at Trishuli Bazar in Nepals Nuwakot district on August 26, 2026. A massive flood swept through Nepals northern Rasuwa district on August 26, damaging roads and power infrastructure as authorities scrambled to assess the scale of the destruction. (Photo by Prabin RANABHAT / AFP)
Banjir bandang di Nepal (Foto: AFP/PRABIN RANABHAT)
Jakarta -

Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang besar yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet dilaporkan meningkat menjadi 165 orang. Hingga kini, tim penyelamat masih melanjutkan pencarian terhadap ratusan warga yang belum ditemukan.

Dilansir detikNews dari AFP, Kamis (27/8/2028), rekaman kamera pengawas dari wilayah perbatasan China memperlihatkan dahsyatnya terjangan lumpur dan puing. Dalam rekaman tersebut, material dalam jumlah besar menghantam bangunan bertingkat pada Rabu pagi, sementara puluhan orang terlihat berusaha menyelamatkan diri. Arus deras juga menyeret sejumlah kendaraan, termasuk bus dan mobil.

Pejabat setempat menyebut sebagian besar orang yang masih hilang merupakan wisatawan asing. Berdasarkan analisis Survei Geologi AS (USGS), bencana tersebut dipicu oleh runtuhnya gletser yang kemudian menyebabkan aliran puing besar menerjang dan menghancurkan berbagai wilayah yang dilaluinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gelombang air bercampur lumpur yang digambarkan menyerupai tsunami menerjang permukiman dan kota di sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi dan Trishuli. Kepolisian Nepal melaporkan telah menemukan 162 jenazah.

Di wilayah Tibet yang berada di seberang perbatasan, media China melaporkan sebuah "bencana tanah longsor" di Pelabuhan Gyirong yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Selain itu, sebanyak 265 orang masih dinyatakan hilang.

ADVERTISEMENT

Seorang warga Nepal bernama Raju Bhadel (56) menceritakan momen ketika dirinya menerima panggilan telepon dari saudara iparnya yang berada dalam kondisi darurat. Salah seorang anggota keluarganya hingga kini masih belum ditemukan.

"Mereka menangis dan mengatakan seluruh rumah mereka telah tersapu bersih. Tiga anggota keluarga berhasil diselamatkan, namun saudara laki-lakinya masih hilang," ujarnya.

Petugas penyelamat terus menyisir lumpur dan tumpukan material untuk mencari kemungkinan adanya korban selamat. Banjir bandang tersebut bahkan menimbun bagian lantai dasar sejumlah bangunan bertingkat.

Kementerian Pariwisata Nepal menyatakan sekitar 403 wisatawan sempat tidak diketahui keberadaannya selama beberapa jam setelah bencana terjadi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 341 orang merupakan wisatawan mancanegara.

Wisatawan asing yang dilaporkan hilang berasal dari berbagai negara, termasuk 142 warga India. Selain itu, terdapat pula wisatawan dari Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

"Seluruh desa dan kawasan pasar telah musnah," kata David Fisher, kepala perwakilan Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) di Nepal.

IFRC menyatakan tengah menyalurkan berbagai kebutuhan darurat bagi para korban, seperti selimut, perlengkapan pertolongan pertama, tandu, hingga kantong jenazah. Sementara itu, pemerintah Tibet mengerahkan hampir 800 personel tanggap darurat dan sekitar 150 kendaraan untuk mendukung operasi penyelamatan.

Upaya tersebut juga melibatkan anjing pelacak serta perahu cepat guna mempercepat pencarian korban, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah China, Xinhua.



(nkm/nkm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads