Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mencatat ada lebih dari 3 juta orang Indonesia yang berangkat umrah setiap tahun. Kegiatan itu bisa menimbulkan perputaran ekonomi hingga Rp 90 triliun per tahun.
Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut kepergian 3 juta orang Indonesia ke Tanah Suci untuk ibadah umrah membuat perputaran ekonomi yang besar. Ekosistem yang besar itu, kata dia, harus dijaga dengan baik.
"Umrah kita itu per tahun tiga juta (jemaah). Kalau tiga juta kali tiga puluh juta saja, berarti setiap tahun bisa ada sembilan puluh triliun uang umrah, dan ini setiap hari ratusan orang lapor ke kami terkait laporan penipuan jemaah umrah," ujar Dahnil dikutip detikHikmah, Kamis (20/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Prabowo Minta Masa Tunggu Haji Dipangkas |
Dahnil menggambarkan besarnya potensi ekonomi sektor umrah dengan perhitungan sederhana. Dari sekitar 3 juta jemaah setiap tahun, apabila rata-rata biaya yang dikeluarkan mencapai Rp30 juta per orang, maka nilai transaksi yang berputar dapat mencapai Rp 90 triliun.
Di dalamnya terdapat berbagai kebutuhan, mulai dari tiket penerbangan, akomodasi, konsumsi, transportasi selama di Arab Saudi, layanan visa, pembimbing ibadah hingga jasa penyelenggara perjalanan.
Namun, besarnya nilai ekonomi tersebut juga membawa risiko. Ketika dana jemaah tidak dikelola dengan baik, jumlah masyarakat yang dirugikan dapat sangat besar.
Karena itu, pemerintah menilai pengawasan terhadap Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
