Media sosial sempat ramai setelah video seekor gajah kerdil Borneo (Elephas maximus borneensis) beredar luas. Dalam rekaman tersebut, gajah langka yang melintas di kawasan perkebunan sawit terlihat dalam kondisi memprihatinkan.
Gajah yang masuk kategori mamalia langka dan terancam punah itu tampak mengalami patah pada salah satu gadingnya. Selain itu, bagian ekornya juga terlihat sudah tidak utuh.
Video tersebut disertai narasi yang menyebut gajah itu berada di kawasan Sei Menggaris dan Sebuku, Kabupaten Nunukan. Namun, informasi tersebut ternyata tidak sesuai dengan lokasi sebenarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivis gajah dari Gabungan Pemuda Pecinta Alam (Gapeta) Borneo Kabupaten Nunukan, Alfred, kemudian melakukan penelusuran untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.
"Berdasarkan penelusurannya, lokasi gajah tersebut ternyata bukan di wilayah kedaulatan Republik Indonesia, melainkan di Tawau, Sabah, Malaysia," terang Alfred melansir detikKalimantan, Rabu (19/8/2026).
Menurut Alfred, rekaman tersebut awalnya berasal dari seorang mantan pegiat alam. Video itu kemudian diperoleh dari koleganya yang merupakan pekerja migran Indonesia (PMI) di Tawau, Sabah, Malaysia.
"Video itu kemudian diunggah ke status WhatsApp (WA). Kekacauan bermula ketika ada pihak lain yang melihat status tersebut dan menanyakan asal gajah itu," ujar Alfred dalam laporannya.
Kesalahan informasi tersebut bermula dari candaan. Pihak yang ditanya mengenai asal gajah tidak mengetahui lokasi sebenarnya sehingga menyebut hewan tersebut berada di Sei Menggaris, Nunukan. Tanpa disadari, video beserta narasi yang keliru itu kemudian menyebar luas dan menjadi konsumsi publik.
Gapeta Borneo selanjutnya menyampaikan hasil klarifikasi tersebut kepada Kepala BKSDA Kaltim agar informasi yang salah tidak semakin meluas. Pihak BKSDA kemudian turut memastikan lokasi sebenarnya dari gajah dalam video tersebut.
"Kami sudah klarifikasi dengan Kepala Balai BKSDA Kaltimtara bahwa betul gajah tersebut gajah Kalimantan, namun bukan di wilayah Sei Menggaris. Lokasi persisnya berada di Sungai Udin, Distrik Tawau (Malaysia)," tegas Alfred.
Meski telah dipastikan berada di wilayah Malaysia, kondisi gajah jantan yang hidup soliter itu tetap menimbulkan pertanyaan. Kondisi gading yang patah dan ekor yang tidak utuh sempat memunculkan dugaan bahwa gajah tersebut menjadi korban perburuan atau konflik dengan manusia.
Namun, Alfred membantah dugaan bahwa kerusakan pada gading gajah tersebut disebabkan oleh aktivitas perburuan liar.
"Berdasarkan analisa visual tim kami, gading patah tersebut kemungkinan besar diakibatkan oleh faktor alamiah atau perilaku agresif gajah itu sendiri di habitat liarnya. Itu patah karena perilaku gajahnya menggali bebatuan/tanah untuk cari air atau sumber mineral lainnya. Atau mungkin pas birahi masa kawin tiba, dia berkelahi dengan jantan lain," ungkapnya.
Alfred menjelaskan, bentuk patahan pada gading tersebut terlihat masih alami. Bagian yang retak tampak tidak beraturan dan tidak menunjukkan ciri seperti bekas pemotongan oleh manusia.
Sementara itu, penyebab putusnya ekor gajah tersebut belum dapat diketahui secara pasti. Menurut Alfred, kehidupan gajah jantan soliter di alam liar membuat berbagai kemungkinan bisa terjadi.
"Mengingat gajah jantan soliter adalah gajah petarung, segala kemungkinan bisa terjadi di alam liar," ungkapnya.
Gajah kerdil Borneo sendiri diketahui memiliki wilayah jelajah yang dapat melintasi perbatasan Sabah, Malaysia, dan Kalimantan Utara, Indonesia. Meski demikian, Alfred belum dapat memastikan apakah gajah dengan ciri gading patah tersebut merupakan individu yang selama ini kerap bergerak hingga ke kawasan hutan Indonesia.
"Belum bisa kita pastikan. Namun kalau melihat beberapa riwayat konflik sebelumnya, ada gajah yang mirip dengan yang kita temukan terekam di camera trap, identik dengan gading yang patah pada bagian kanan," tutup Alfred.
