Universitas Sumatera Utara (USU) angkat bicara terkait dugaan pengosongan paksa Gereja POUK Chapel. USU menyebut relokasi sementara Chapel USU sebagai bagian dari penataan dan renovasi fasilitas rumah ibadah di lingkungan kampus.
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas sarana pembinaan kerohanian bagi sivitas akademika dan warga Kristen di lingkungan USU.
Ketua Persekutuan Iman Warga Kristen (PIWK) USU, Robert Sibarani mengatakan, Chapel selama ini memiliki fungsi penting sebagai sarana pembinaan kerohanian mahasiswa, dosen, pegawai, serta warga Kristen di lingkungan USU.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Chapel selama ini difungsikan sebagai sarana pembinaan kerohanian bagi mahasiswa, dosen, pegawai, dan warga Kristen di lingkungan USU. Seiring meningkatnya jumlah mahasiswa Kristen, kebutuhan terhadap fasilitas pembinaan kerohanian yang lebih memadai juga semakin besar," ujar Robert melalui keterangan tertulis diterima detikSumut, Selasa (11/8/2026).
Menurut Robert, renovasi diperlukan seiring dengan meningkatnya jumlah mahasiswa Kristen di USU. Saat ini, jumlah mahasiswa Kristen diperkirakan mencapai lebih dari 9.000 orang yang tersebar di 16 fakultas.
Ia menjelaskan, kapasitas Chapel yang ada saat ini hanya mampu menampung sekitar 300 hingga 350 orang. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan perlunya dilakukan renovasi dan penataan agar fasilitas yang tersedia dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi sivitas akademika.
"Dengan jumlah mahasiswa Kristen yang terus bertambah, kapasitas Chapel saat ini tentu perlu ditingkatkan. Karena itu, renovasi merupakan bagian dari upaya menyediakan fasilitas yang lebih representatif dan mampu memenuhi kebutuhan pembinaan kerohanian di lingkungan USU," katanya.
Terkait proses relokasi yang berlangsung, Robert menegaskan bahwa penataan tersebut merupakan bagian dari proses administratif. Ia mengajak seluruh pihak untuk melihat proses tersebut secara utuh dan mengedepankan komunikasi yang baik.
Menurutnya, setiap proses penataan fasilitas di lingkungan perguruan tinggi perlu dilaksanakan dengan tetap menjaga suasana yang kondusif serta menghormati kepentingan seluruh sivitas akademika.
"Kami berharap seluruh pihak dapat memahami proses ini secara proporsional. Yang terpenting adalah bagaimana fungsi pembinaan kerohanian tetap berjalan dengan baik dan fasilitas yang nantinya tersedia dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi warga Kristen di lingkungan USU," kata Robert.
Diberitakan sebelumnya, puluhan jemaat Gereja POUK Chapel Universitas Sumatra Utara (USU) menangis usai pihak USU diduga mengosongkan secara paksa seluruh barang-barang yang ada di dalam gereja.
Dari amatan detikSumut di lokasi pada Senin (10/8/2026), puluhan jemaat tampak menangis di depan altar. Mereka meratapi meja altar yang sudah diangkut dan kabel-kabel listrik yang berserakan di ruang utama gereja.
Beberapa bola lampu juga terlihat berjatuhan di lantai. Serta beberapa vas bunga yang digunakan untuk menghias ruangan.
Diketahui, konflik internal antara pihak jemaat gereja dengan pihak USU terjadi sejak April 2026. Pihak jemaat gereja menentang surat rektor terkait permintaan pengosongan gereja dengan alasan renovasi.
Jemaat menilai, bangunan gereja masih dalam kondisi sangat layak dan tidak memerlukan renovasi. Dari keterangan pers yang diberikan, pihak jemaat gereja menilai permintaan pengosongan gereja untuk alasan renovasi tidak tepat lantaran gereja masih digunakan jemaat untuk beribadah.
