Kasus HIV/AIDS di Banda Aceh tercatat masih tinggi. Ketua DPR Kota Banda Aceh Irwansyah mengusulkan agar dibentuk Komite Penanggulangan AIDS sebagai bentuk penanganan di tengah masyarakat.
Irwansyah mengatakan, berdasarkan data sejak 2008 kasus HIV/AIDS di ibu kota provinsi Aceh sebanyak 918 kasus. Tahun ini, terdapat 43 kasus baru yang tercatat.
"Saya mendorong agar segera dibentuknya Komite Penanggulangan AIDS. Nanti masalah ini dapat dikendalikan, dikelola, dan diperbaiki lewat kolaborasi bersama," kata Irwansyah dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Politikus PKS itu juga sudah menyampaikan usulan itu saat mendengar penjelasan Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes) se-Aceh mengenai kondisi terkini di Banda Aceh. Menurutnya, penanganan HIV/AIDS tidak dapat dilakukan satu lembaga saja melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Komite yang dibentuk tersebut diharapkan menjadi wadah koordinasi lintas sektor untuk memastikan penanganan HIV/AIDS berjalan lebih efektif, termasuk memperkuat sosialisasi, edukasi, dan upaya pencegahan di tengah masyarakat.
"Kami siap memberikan dukungan dalam bentuk penganggaran maupun fasilitator," jelasnya.
Pengurus Adinkes Aceh, dr Rayhan mengatakan, kondisi HIV/AIDS di Banda Aceh sudah berada pada kategori mengkhawatirkan. Dari 918 kasus tercatat, sebanyak 226 pengidap penyakit tersebut merupakan warga ber-KTP Banda Aceh, sedangkan sisanya berasal dari daerah lain namun berdomisili atau menjalani pengobatan di Banda Aceh.
"Saat ini terdapat 21 layanan pengobatan HIV/AIDS di Banda Aceh, dari total 115 layanan yang tersedia di seluruh Aceh, di antaranya RSUD dr. Zainoel Abidin, Rumah Sakit Umum Meuraxa, Puskesmas Meuraxa dan lainnya," jelas Rayhan.
Rayhan menjelaskan, sebanyak 140 pasien HIV/AIDS telah meninggal dunia. "Satu faktor risiko terbesar penularan HIV/AIDS berasal dari hubungan seksual sesama laki-laki (MSM)," lanjut Sekretaris Dinkes Kota Banda Aceh itu.
Perwakilan Adinkes Aceh, Media Yulizar, mengatakan, Adinkes saat ini memfokuskan program pada penanganan HIV/AIDS, TBC, dan malaria. Namun, dalam tahap awal, kegiatan lebih diprioritaskan pada HIV/AIDS dan TBC melalui sosialisasi, edukasi, kampanye pencegahan, serta penggalangan dukungan dari berbagai pihak.
