Pengalaman traumatis tidak selalu memberikan dampak yang sama pada setiap individu. Ada orang yang mampu bangkit dan menjadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran hidup, namun ada pula yang mengalami gangguan psikologis berkepanjangan akibat peristiwa yang sama.
Psikolog Klinis Sairah menjelaskan bahwa perbedaan tersebut berkaitan dengan ketahanan mental atau kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan hidup. Menurutnya, setiap individu memiliki respons yang berbeda ketika menghadapi pengalaman traumatis.
"Kondisi kehidupan, ujian kehidupan, dan pengalaman traumatik itu berdampak berbeda-beda pada tiap individu. Ada yang secara mental kondisinya kuat, sehingga pengalaman traumatis tidak menjadi beban yang berkepanjangan," ujarnya.
Dalam psikologi, kemampuan untuk bangkit dari tekanan dan kesulitan dikenal sebagai resiliensi. Individu yang memiliki resiliensi yang baik umumnya lebih mampu beradaptasi terhadap peristiwa sulit dan kembali menjalani kehidupan secara normal.
Sebaliknya, ketika seseorang kesulitan mengelola dampak trauma, berbagai masalah psikologis dapat muncul. Sairah menyebutkan kondisi tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memahami dirinya sendiri maupun berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
"Ketika kondisi itu tidak berfungsi dengan baik, seseorang bisa mengalami kebingungan terhadap identitas diri, sulit memahami emosi diri, hingga merasa terputus dengan masa lalunya," katanya.
Selain itu, trauma yang tidak tertangani juga berpotensi memicu gangguan kesehatan mental lainnya, seperti kecemasan berlebihan, depresi, hingga kesulitan membangun hubungan interpersonal.
Penjelasan tersebut sejalan dengan penelitian psikolog Amerika, Ann Masten, yang menyebut resiliensi sebagai "ordinary magic", yakni kemampuan manusia untuk bangkit dari kesulitan melalui dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan kemampuan adaptasi yang dimiliki individu.
Sementara itu, psikolog Amerika George Bonanno dalam sejumlah penelitiannya menemukan bahwa banyak individu tetap mampu mempertahankan fungsi psikologis yang sehat setelah mengalami peristiwa traumatis. Faktor seperti dukungan sosial, kemampuan mengelola emosi, dan pola pikir yang adaptif berperan penting dalam proses tersebut.
Menurut Sairah, karena respons terhadap trauma sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu, tidak tepat membandingkan kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah.
"Trauma yang sama belum tentu menghasilkan dampak yang sama. Setiap orang memiliki pengalaman hidup, dukungan sosial, dan ketahanan mental yang berbeda-beda," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan. Justru, langkah tersebut dapat membantu individu memahami dan mengelola dampak trauma secara lebih sehat.
"Yang terpenting adalah mengenali kondisi diri sendiri dan mencari bantuan ketika memang dibutuhkan," tutupnya.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video: Apakah Video Game Punya Pengaruh Besar Terhadap Agresi?"
(afb/afb)