Beberapa waktu belakangan publik dihebohkan dengan kasus kekerasan seperti kasus pembacokan mahasiswi di Riau oleh teman kuliahnya karena persoalan asmara dan kasus kekerasan lainnya. Lantas apa dampak psikologis yang bisa dialami korban pasca kejadian? Berikut penjelasan psikolog.
Ahli Psikolog Klinis, Sairah menjelaskan korban kekerasan pasti mengalami trauma mendalam. Selain itu, trauma akibat kekerasan tersebut dapat menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
"Dampak psikologis yang dialami korban setelah kejadian ini ya jelas, pasti akan terjadi traumatik yang mendalam. Mungkin bahkan bisa ke arah PTSD. Nah, sampai ke PTSD ini memang nanti butuh diagnosis profesional, nggak bisa sembarangan," jelasnya saat diwawancarai detikSumut, Rabu (4/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Sairah menegaskan bahwa trauma tidak selalu mengarah kepada PTSD. Karena PTSD sendiri merupakan hal yang lebih kompleks.
"Nggak harus seperti itu, tapi PTSD ini lebih dalam lagi, kompleks lagi masalah pasca-traumanya begitu," tegasnya.
Selain PTSD, korban kekerasan juga rentan mengalami ketakutan dalam interaksi sosial. Selain itu Sairah juga menyebut bahwa trauma ini dapat menimbulkan beberapa gangguan dalam rutinitas harian.
"Pasti ada perasaan tidak nyaman, ketakutan dalam berinteraksi sosial. Banyak hal-hal yang membuat rutinitas hariannya pasti akan terganggu, seperti gangguan tidur, sulit tidur, kemudian penurunan konsentrasi," ujarnya.
Korban kekerasan juga rentan mengalami penurunan rasa percaya diri hingga rasa takut berlebihan dan menghindari lingkungan. Untuk itu, penanganan profesional dibutuhkan.
"Menurunnya rasa percaya diri, bahkan mungkin bisa jadi dia menghindari lingkungan-lingkungan tertentu karena rasa takutnya yang sangat berlebihan. Makanya, dibutuhkan bantuan dari profesional," tutupnya.
Artikel ini ditulis oleh Rindi Antika peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom
(nkm/nkm)











































