Efek Samping Terlalu Banyak Konsumsi Vitamin D, Ini yang Terjadi pada Tubuh

Efek Samping Terlalu Banyak Konsumsi Vitamin D, Ini yang Terjadi pada Tubuh

Sarah Oktaviani Alam - detikSumut
Senin, 20 Apr 2026 08:30 WIB
Ilustrasi rakhitis atau kekurangan vitamin D
Foto: Getty Images/iStockphoto/yulka3ice
Medan -

Konsumsi vitamin D secara rutin baik untuk kesehatan tubuh. Namun, harus diingat tidak boleh konsumsi vitamin D terlalu banyak.

Para ilmuwan menyebut konsumsi berlebihan justru bisa berbahaya, bahkan berisiko mengancam jiwa. Sebab vitamin yang dikenal sebagai 'vitamin sinar matahari' ini ternyata punya sisi gelap.

Sama seperti kekurangan vitamin D dapat menyebabkan bahaya kesehatan, kelebihan asupannya juga bisa memicu masalah serius.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa tidak semua orang perlu mengonsumsi suplemen vitamin D. Dalam kasus yang jarang terjadi, terutama pada anak-anak dan lansia, vitamin D dosis tinggi bisa bersifat toksik.

Seiring meningkatnya popularitas suplemen ini, pasien dan dokter diminta lebih waspada terhadap dosis serta efek sampingnya. Meski risikonya tergolong jarang, kasusnya disebut terus meningkat dan dalam kondisi terburuk bisa mengancam nyawa.

ADVERTISEMENT

Kelebihan vitamin D dapat meningkatkan penyerapan kalsium dalam tubuh. Kondisi ini memicu hiperkalsemia, yaitu penumpukan kalsium berbahaya di arteri atau jaringan lunak.

Dampaknya ternyata tidak sepele. Hiperkalsemia dapat meningkatkan risiko batu ginjal, mengganggu metabolisme tulang, serta menimbulkan gejala seperti mual, muntah, sembelit, kelelahan, kelemahan otot, hingga nyeri tulang.

Sebagian besar pasien bisa pulih setelah konsumsi suplemen dihentikan dan mendapatkan terapi, seperti cairan infus atau obat penurun kadar kalsium. Tetapi, dalam kondisi langka jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berujung pada gagal ginjal yang memerlukan hemodialisis, bahkan menyebabkan perdarahan usus fatal.

Tak hanya itu, sejumlah penelitian menunjukkan lansia dengan kadar vitamin D tinggi dalam darah berisiko lebih tinggi mengalami jatuh.

Dalam tinjauan tahun 2018, peneliti di AS memperingatkan adanya 'sikap terlalu percaya diri' terhadap keamanan vitamin D dosis tinggi. Hingga kini, ilmuwan juga belum sepakat soal batas pasti asupan yang tergolong berlebihan.

"Dikombinasikan dengan peningkatan dramatis minat terhadap vitamin D yang sebagian berasal dari buku-buku populer yang memuji manfaat vitamin D dosis tinggi, mungkin tidak mengherankan jika terjadi peningkatan jumlah kasus keracunan vitamin D," demikian kesimpulan para penulis tinjauan tersebut, dikutip detikHealth dari ScienceAlert.

Kasus Terlalu Banyak Konsumsi Vitamin D

Salah satu kasus melibatkan pria 80 tahun yang tanpa sengaja mengonsumsi tablet vitamin D dosis tinggi mingguan setiap hari. Kondisinya sempat mengalami hiperkalsemia, tetapi membaik setelah kesalahan tersebut diketahui dan suplemen dihentikan.

Kasus serupa juga terjadi pada anak-anak. Pada 2016, otoritas kesehatan Denmark menarik suplemen yang mengandung vitamin D hingga 75 kali lipat dari dosis yang direkomendasikan, bahkan menyebabkan sekitar 20 anak dilaporkan mengalami efek toksik.

Di Amerika Serikat, tren kasus juga meningkat. Antara tahun 2000 hingga 2014, lebih dari 25.000 kasus keracunan vitamin D dilaporkan.

Bahkan pada periode 2005-2011, terjadi lonjakan hingga 1.600 persen, banyak di antaranya melibatkan anak-anak dan remaja. Meski tidak ada laporan kematian, terdapat lima kasus dengan dampak medis serius.

"Perhatikan angka Anda," demikian peringatan dalam artikel terbaru dari Harvard Medical School yang diulas jurnalis sekaligus dokter praktik Mallika Marshall.

"Jika Anda mengonsumsi suplemen vitamin D, Anda mungkin tidak memerlukan lebih dari 15 mcg hingga 20 mcg (600 IU hingga 800 IU) per hari. Kecuali tim medis Anda merekomendasikannya, hindari mengonsumsi lebih dari 100 mcg (4.000 IU) per hari, yang dianggap sebagai batas atas yang aman," tegasnya.

Dokter di Harvard juga menyarankan, jika mengalami kekurangan vitamin D, sebaiknya mengutamakan asupan dari makanan yang diperkaya karena risikonya jauh lebih kecil dibandingkan suplemen dosis tinggi.

Seperti biasa, sebelum memulai atau menghentikan konsumsi suplemen apa pun, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "LEADERS FORUM: Jebakan "Hidden Sugar" Diam-Diam Bikin Gendut"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads