Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa otak atlet memiliki perbedaan dibandingkan orang pada umumnya. Perbedaan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan fisik, tetapi juga cara otak memproses informasi, mengambil keputusan, dan merespons tekanan.
Temuan ini menarik perhatian karena menunjukkan bahwa latihan dan aktivitas fisik intens dapat memengaruhi struktur serta fungsi otak. Lantas, apa saja perbedaan yang dimaksud dan bagaimana hal itu berdampak dalam kehidupan sehari-hari?
Perbedaan Otak Atlet dan Orang pada Umumnya
1. Kemampuan Memprediksi
Dalam bisbol, seorang pemukul harus membuat prediksi cepat dan akurat tentang nasib setiap bola yang dilempar pelempar. Misalnya, apakah bola akan masuk ke zona strike dan seberapa cepat bola akan datang ke arah mereka.
Ternyata, tergantung pada apa yang diprediksi pemukul, aktivitas otak mereka berubah. Berdasarkan sebuah studi pada 2022 dalam jurnal Cerebral Cortex, secara khusus neuron di dalam wilayah otak yang disebut korteks ekstrastriata ventral kiri bervariasi dalam skenario tersebut. Pemukul punya kemampuan unik untuk menghubungkan isyarat visual tentang gerakan pelempar dengan jalur potensial bola, kata para penulis studi.
Dikutip dari Live Science, secara struktural, penelitian juga menunjukkan penyelam profesional memiliki sulkus temporal superior (STS) yang lebih tebal daripada pemula. STS adalah wilayah otak yang memainkan peran penting dalam persepsi gerakan makhluk hidup lain dan juga membantu menguraikan niat di balik gerakan tersebut.
2. Keseimbangan
Atlet akrobatik seperti pesenam memiliki keterampilan proprioseptif yang luar biasa, atau kemampuan untuk merasakan di mana tubuh mereka berada di udara. Jaringan neuron yang rumit di serebelum, wilayah di dasar otak, memungkinkan para atlet ini untuk dengan cepat mengoreksi arah di udara atau menjaga keseimbangan mereka di atas alat ketika sebuah trik tidak berjalan sesuai rencana.
Jika jaring pengaman tersebut mengalami kerusakan, hal itu dapat menyebabkan para atlet ini kehilangan kendali atas tubuh mereka di udara, dengan konsekuensi yang berpotensi fatal.
3. Fokus dan Alokasi Perhatian
Atlet harus mampu membagi perhatian mereka dengan tepat dan beralih secara dinamis antara berbagai cara berpikir. Misalnya, selama pertandingan, seorang pemain sepak bola yang menggiring bola ke satu arah mungkin perlu dengan cepat mengubah arah jika didekati oleh pemain dari tim lawan.
Keterampilan kognitif yang dibutuhkan untuk mengalihkan perhatian juga meluas ke tugas-tugas dalam kehidupan sehari-hari, seperti mendengarkan podcast sambil membersihkan rumah. Sebuah studi pada 2022 dalam International Journal of Sport and Exercise Psychology dengan judul "Trained athletes and cognitive function: a systematic review and meta-analysis" memberikan bukti atlet jauh lebih baik dalam hal ini daripada non-atlet.
Yang menarik, atlet yang berlatih dalam tim dan membutuhkan latihan aerobik atau latihan interval intensitas tinggi punya keterampilan yang sangat meningkat. Mereka menonjol karena fleksibilitas kognitif mereka dan kemampuan mereka untuk mengalokasikan perhatian dengan tepat.
4. Tahan Terhadap Penuaan Otak
Manfaat kognitif dari latihan atletik juga bisa menetap sepanjang hayat. Otak dari mendiang atlet Kanada, Olga Kotelko yang meninggal pada 2014 pada usia 95 tahun, pernah dipelajari di laboratorium.
Berdasarkan yang dipelajari oleh ilmuwan otak Art Kramer, Olga meskipun saat itu berusia pertengahan 90-an, memiliki materi putih di otak yang sangat utuh. Ini sebanding dengan wanita yang kurang aktif yang lebih dari tiga dekade lebih muda. Materi putih merupakan koneksi antara neuron di berbagai wilayah otak.
Olga juga lebih cepat dalam menanggapi tugas-tugas kognitif dibandingkan para lansia berusia sembilan puluhan lainnya, sebagaimana diuji dalam studi terpisah dan independen. Olga pun memiliki daya ingat yang lebih baik daripada golongan tersebut.
(astj/astj)